Derita Murid SD Negeri 4 Kotakarang: Tak Kumpul Tugas, Harus Bayar Rp200 Ribu
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Derita Murid SD Negeri 4 Kotakarang: Tak Kumpul Tugas, Harus Bayar Rp200 Ribu

...
Dwi Des Saputra
BANDARLAMPUNG
8 Juni 2021 - 21:10 WIB
Nasional | RILISID
...
Ilustrasi Rilis.id

RILISID, BANDARLAMPUNG — Pungutan liar (pungli) kepada wali murid diduga terjadi di SD Negeri (SDN) 4 Kotakarang, Bandarlampung, Lampung. Yang melakukannya diduga oknum guru sekolah setempat.

Dalihnya untuk melancarkan proses kenaikan kelas tahun ajaran 2020-2021 ini.

Indah Fatmawati, kerabat dari salah satu murid di SD tersebut yang menceritakan peristiwa tersebut.

Menurut dia, awalnya kakak kandungnya dipanggil oknum guru tersebut. Sang guru menanyakan kendala siswa selama mengikuti kelas daring.

Indah mengakui anak kakaknya beberapa kali tidak mengumpulkan tugas karena tidak ada kuota internet. Begitu juga untuk absensi. Si guru kemudian memberikan jalan pintas dengan membayar sejumlah uang.

”Kalau anak Ibu mau ada nilainya, silakan sediakan uang Rp200 ribu. Kalau menghadap kepala sekolah justru lebih mahal, biasaya Rp500 ribu,” kata Indah menirukan ucapan guru itu kepada kakaknya.

Indah menyayangkan dugaan pungli tersebut. Apalagi dilakukan di tengah beratnya beban ekonomi masyarakat lantaran pandemi.  

Dia juga mendapat kabar sama untuk siswa kelas enam.

”Ini ada tetangga saya juga menceritakan pungli serupa dilakukan oknum guru dimaksud," lanjut dia kepada Rilisid Lampung (grup Rilis.id), Selasa (8/6/2021).

Terpisah, Kepala SDN 4 Kotakarang Azimah, mengaku tidak menetapkan tarif. Sebab, itu bukan pungli, tapi sumbangan atas dasar kesukarelaan tidak dipaksakan.

"Kita niat bantu saja, tidak ada yang lain-lain. Sekadar uang capek menulis nilai-nilai yang kurang baik," kata dia.

Ia menerangkan, memang banyak wali murid yang tidak mengumpulkan tugas anaknya selama daring.

”Namun ketika ulangan mereka cepat-cepat datang ke sekolah,” ujarnya.

Ia menyatakan, alasan tidak memiliki kuota tidak dibenarkan. Karena sekolah telah menyiapkan dua alternatif pembelajaran yakni melalui daring dan luring.

"Kalau tidak punya kuota bisa datang ke sekolah setiap Senin untuk minta tugas, kita sudah carikan solusinya," ujar dia.(*)

Editor : Wirahadikusumah

TAG:

Berita Lainnya

Derita Murid SD Negeri 4 Kotakarang: Tak Kumpul Tugas, Harus Bayar Rp200 Ribu

...
Dwi Des Saputra
BANDARLAMPUNG
8 Juni 2021 - 21:10 WIB
Nasional | RILISID
...
Ilustrasi Rilis.id

RILISID, BANDARLAMPUNG — Pungutan liar (pungli) kepada wali murid diduga terjadi di SD Negeri (SDN) 4 Kotakarang, Bandarlampung, Lampung. Yang melakukannya diduga oknum guru sekolah setempat.

Dalihnya untuk melancarkan proses kenaikan kelas tahun ajaran 2020-2021 ini.

Indah Fatmawati, kerabat dari salah satu murid di SD tersebut yang menceritakan peristiwa tersebut.

Menurut dia, awalnya kakak kandungnya dipanggil oknum guru tersebut. Sang guru menanyakan kendala siswa selama mengikuti kelas daring.

Indah mengakui anak kakaknya beberapa kali tidak mengumpulkan tugas karena tidak ada kuota internet. Begitu juga untuk absensi. Si guru kemudian memberikan jalan pintas dengan membayar sejumlah uang.

”Kalau anak Ibu mau ada nilainya, silakan sediakan uang Rp200 ribu. Kalau menghadap kepala sekolah justru lebih mahal, biasaya Rp500 ribu,” kata Indah menirukan ucapan guru itu kepada kakaknya.

Indah menyayangkan dugaan pungli tersebut. Apalagi dilakukan di tengah beratnya beban ekonomi masyarakat lantaran pandemi.  

Dia juga mendapat kabar sama untuk siswa kelas enam.

”Ini ada tetangga saya juga menceritakan pungli serupa dilakukan oknum guru dimaksud," lanjut dia kepada Rilisid Lampung (grup Rilis.id), Selasa (8/6/2021).

Terpisah, Kepala SDN 4 Kotakarang Azimah, mengaku tidak menetapkan tarif. Sebab, itu bukan pungli, tapi sumbangan atas dasar kesukarelaan tidak dipaksakan.

"Kita niat bantu saja, tidak ada yang lain-lain. Sekadar uang capek menulis nilai-nilai yang kurang baik," kata dia.

Ia menerangkan, memang banyak wali murid yang tidak mengumpulkan tugas anaknya selama daring.

”Namun ketika ulangan mereka cepat-cepat datang ke sekolah,” ujarnya.

Ia menyatakan, alasan tidak memiliki kuota tidak dibenarkan. Karena sekolah telah menyiapkan dua alternatif pembelajaran yakni melalui daring dan luring.

"Kalau tidak punya kuota bisa datang ke sekolah setiap Senin untuk minta tugas, kita sudah carikan solusinya," ujar dia.(*)

Editor : Wirahadikusumah

TAG:

Berita Lainnya