Data Jurnalis Penerima Vaksin Covid-19 Bocor, AJI Protes Keras
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Data Jurnalis Penerima Vaksin Covid-19 Bocor, AJI Protes Keras

...
gueade
Jakarta
19 Maret 2021 - 22:24 WIB
Nasional | RILISID
...
Lambang AJI. FOTO: AJI INDONESIA

RILISID, Jakarta — Sejak vaksinasi tahap II pada akhir Februari sampai pertengahan Maret 2021, beredar dokumen dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Dokumen ini tentang data pribadi jurnalis yang akan menerima vaksin Covid-19. Seperti nama, tempat tanggal lahir, nomor induk kependudukan, alamat, nomor telepon, asal organisasi dan media, serta usia.

Dokumen tersebut beredar di publik, termasuk di sejumlah grup WhatsApp jurnalis. Hal ini menyebabkan data pribadi jurnalis rentan disalahgunakan.

”Terlebih data pribadi merupakan aset yang bernilai tinggi di era big data dan ekonomi digital,” tegas Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Sasmito Madrim didampingi Sekjen AJI Indonesia, Ika Ningtyas, Jumat (19/3/2021).

Menurut Sasmito dalam siaran pers yang diterima rilis.id meskipun Indonesia belum memiliki Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi, pemerintah wajib melindungi data pribadi warga negaranya.

Aturan umum tersebut setidaknya dapat ditemukan dalam Pasal 28 G dan Pasal 28 H ayat 4 UUD 1945. Isinya, ”Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.”

Sedangkan Pasal 28 H ayat 4 berbunyi, ”Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapa pun.”

Atas dasar tersebut, AJI Indonesia meminta Kemenkes dan institusi di bawahnya melakukan empat hal ini:

  1. Menghentikan peredaran dokumen dari Kementerian Kesehatan yang berisi data pribadi jurnalis yang akan menerima vaksin Covid-19 yang sudah beredar di masyarakat. Data detail soal penerima vaksin, cukup di dokumen internal kementerian. Untuk kebutuhan pemberitahuan vaksinasi, informasinya bisa dengan nama, media, alamat kantor, umur dan hal yang bersifat umum.
  2. Mengevaluasi soal perlindungan data pribadi penerima vaksin Covid-19, serta ditindaklanjuti dengan membuat sistem perlindungan data pribadi untuk para penerima vaksin berikutnya.
  3. Segera merealisasikan kebijakan satu data yang aman untuk untuk para penerima vaksin, baik para jurnalis maupun masyarakat luas.
  4. Mengusut dan memberi sanksi pada pejabat yang bertanggung jawab atas kebocoran data pribadi para jurnalis.

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya

Data Jurnalis Penerima Vaksin Covid-19 Bocor, AJI Protes Keras

...
gueade
Jakarta
19 Maret 2021 - 22:24 WIB
Nasional | RILISID
...
Lambang AJI. FOTO: AJI INDONESIA

RILISID, Jakarta — Sejak vaksinasi tahap II pada akhir Februari sampai pertengahan Maret 2021, beredar dokumen dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Dokumen ini tentang data pribadi jurnalis yang akan menerima vaksin Covid-19. Seperti nama, tempat tanggal lahir, nomor induk kependudukan, alamat, nomor telepon, asal organisasi dan media, serta usia.

Dokumen tersebut beredar di publik, termasuk di sejumlah grup WhatsApp jurnalis. Hal ini menyebabkan data pribadi jurnalis rentan disalahgunakan.

”Terlebih data pribadi merupakan aset yang bernilai tinggi di era big data dan ekonomi digital,” tegas Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Sasmito Madrim didampingi Sekjen AJI Indonesia, Ika Ningtyas, Jumat (19/3/2021).

Menurut Sasmito dalam siaran pers yang diterima rilis.id meskipun Indonesia belum memiliki Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi, pemerintah wajib melindungi data pribadi warga negaranya.

Aturan umum tersebut setidaknya dapat ditemukan dalam Pasal 28 G dan Pasal 28 H ayat 4 UUD 1945. Isinya, ”Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.”

Sedangkan Pasal 28 H ayat 4 berbunyi, ”Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapa pun.”

Atas dasar tersebut, AJI Indonesia meminta Kemenkes dan institusi di bawahnya melakukan empat hal ini:

  1. Menghentikan peredaran dokumen dari Kementerian Kesehatan yang berisi data pribadi jurnalis yang akan menerima vaksin Covid-19 yang sudah beredar di masyarakat. Data detail soal penerima vaksin, cukup di dokumen internal kementerian. Untuk kebutuhan pemberitahuan vaksinasi, informasinya bisa dengan nama, media, alamat kantor, umur dan hal yang bersifat umum.
  2. Mengevaluasi soal perlindungan data pribadi penerima vaksin Covid-19, serta ditindaklanjuti dengan membuat sistem perlindungan data pribadi untuk para penerima vaksin berikutnya.
  3. Segera merealisasikan kebijakan satu data yang aman untuk untuk para penerima vaksin, baik para jurnalis maupun masyarakat luas.
  4. Mengusut dan memberi sanksi pada pejabat yang bertanggung jawab atas kebocoran data pribadi para jurnalis.

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya