Ahli Forensik Polri Akhirnya Ungkap Pembunuh Ibu dan Anak di Subang
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Ahli Forensik Polri Akhirnya Ungkap Pembunuh Ibu dan Anak di Subang

...
RILIS.ID
Jakarta
24 November 2021 - 16:52 WIB
Nasional | RILISID
...
Foto: Tangkapan layar

RILISID, Jakarta — Kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang, Jawa Barat (Jabar), sudah menemui titik terang. Polisi pun telah mengantongi identitas tersangka yang akan diumumkan dalam waktu dekat ini.

Bahkan data forensik terkait pembunuhan sadis yang menewaskan Tuti Suhartini dan Amalia Mustika Ratu, itu sudah dinyatakan lengkap.

Hal itu diungkap Ahli Forensik Mabes Polri Kombes Dr. dr. Sumy Hastry Purwanti dalam tayangan di kanal YouTube Denny Darko, yang diunggah pada Senin (22/11/2021).

Diceritakan Hastry, proses identifikasi kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang memang membutuhkan waktu cukup lama. Karena menurutnya, kasus tersebut berbeda dengan kasus lainnya.

Dia menjelaskan lamanya proses pemeriksaan deoxyribonucleic acid (DNA) karena tidak ada data pembanding di kasus tersebut.

Padahal, pihaknya sudah mengambil puluhan DNA yang ada di lokasi ada di sekitar TKP.

"Kalau darah itu kan cepat ngambil pemeriksaan DNA-nya, tiga hari bisa selesai. Tapi kalau yang di benda mati, misalnya dari baju. Darah yang di baju itu lama," ujarnya.

"Sidik jari yang di rokok, kursi, pintu mobil, itu butuh waktu lama. Itu bisa kuat DNA-nya," sambung Hastry.

Menurut Hastry, proses pemeriksaannya cukup lama karena dilakukan beberapa kali.

"Yang kita ketahui TKP Subang agak sedikit kacau, terkontaminasi karena banyaknya masuk ke TKP tanpa diketahui dari penyidik," katanya.

Lebih lanjut, Hastry menjelaskan pemeriksaan DNA yang ditemukan di puntung rokok membutuhkan waktu satu bulan untuk mengungkapnya.

Sebab menurutnya, penyidik juga ingin mencocokkan DNA itu dengan waktu kematian korban. Diakuinya, hal itu merupakan kesulitan tersendiri sehingga harus dilakukan berulang-ulang.

"Kita bandingkan lagi dengan properti atau sisa rokok yang lain, apakah ini lama sehari dua hari. Karena rumah tersebut banyak didatangi orang-orang dari bukan warga dan yayasan. Jadi kita lama lagi," terangnya.

"Yang paling baru ini DNA siapa? Sesuai enggak dengan waktu kematian, sesuai enggak dengan kejadian waktu itu. Jadi, lamanya di situ," Hastry menambahkan.

Meski berlangsung lama, upaya tim penyidik akhirnya menemui petunjuk penting untuk mengungkap kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang.

"Sebenarnya kita sudah dapat sudah selesai kalau dari properti yang kita periksa di laboratorium forensik di Jakarta itu sudah ketemu semua," ujarnya.

Hastry juga mengungkap calon tersangka dengan melihat dari cara merokoknya. Menurutnya, hal itu bisa diidentifikasi melalui puntung rokok untuk mengetahui bagaimana profil orangnya.

"Saya kasih bocoran profile orang merokok berbeda, bisa satu puntung rokok habis, bisa sampai hanya tiga perempat, bisa cara memegangnya seperti apa," ungkapnya.

"Biar pemeriksa juga tahu itu, juga memprofile dari saksi ini bagaimana sih dia memegang rokok, bagaimana dia menghabiskan rokok," sambungnya.

Dia menyatakan bahwa hal itu sudah bisa dibuktikan dan hasilnya memang berbeda-beda.

"Nanti bila sewaktu-waktu diumumkan, ya memang cara merokoknya dia seperti itu dan kita ada rekamannya, jadi tanpa disadari dari puluhan saksi itu yang merokok di situ. Jadi ya, itu kayak yang saya bocorkan memprofile ini," urainya.

Hastry mengakui proses pemeriksaan tersebut tidak diketahui masyarakat luas.

"Itulah kerja polisi, jadi benar-benar hati-hati. Jadi, DNA sudah berbicara, profile dia merokok mereknya apa itu sudah ada rekamannya," tambahnya.

Hastry juga mengungkapkan pelaku pembunuhan ibu dan anak di Subang lebih dari satu orang.

Saat Denny Darko menyebut pelaku lebih dari tiga orang, Hastry hanya tersenyum.

Namun, Hastry membantah jika kasus tersebut dipetieskan. Ia memastikan tersangka sudah ada, akan tetapi penyidik masih berhati-hati.

"Saya pikir kalau saya sebagai dokter forensik ya, dan polisi juga dan sering komunikasi dengan penyidik ya. Mereka memang hati-hati dan ingin memastikan dulu tersangka harus ada pintu masuk. Pintu masuknya dari mana dan yakin bahwa ini memang terlibat dalam tindak pidana tersebut," katanya. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Ahli Forensik Polri Akhirnya Ungkap Pembunuh Ibu dan Anak di Subang

...
RILIS.ID
Jakarta
24 November 2021 - 16:52 WIB
Nasional | RILISID
...
Foto: Tangkapan layar

RILISID, Jakarta — Kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang, Jawa Barat (Jabar), sudah menemui titik terang. Polisi pun telah mengantongi identitas tersangka yang akan diumumkan dalam waktu dekat ini.

Bahkan data forensik terkait pembunuhan sadis yang menewaskan Tuti Suhartini dan Amalia Mustika Ratu, itu sudah dinyatakan lengkap.

Hal itu diungkap Ahli Forensik Mabes Polri Kombes Dr. dr. Sumy Hastry Purwanti dalam tayangan di kanal YouTube Denny Darko, yang diunggah pada Senin (22/11/2021).

Diceritakan Hastry, proses identifikasi kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang memang membutuhkan waktu cukup lama. Karena menurutnya, kasus tersebut berbeda dengan kasus lainnya.

Dia menjelaskan lamanya proses pemeriksaan deoxyribonucleic acid (DNA) karena tidak ada data pembanding di kasus tersebut.

Padahal, pihaknya sudah mengambil puluhan DNA yang ada di lokasi ada di sekitar TKP.

"Kalau darah itu kan cepat ngambil pemeriksaan DNA-nya, tiga hari bisa selesai. Tapi kalau yang di benda mati, misalnya dari baju. Darah yang di baju itu lama," ujarnya.

"Sidik jari yang di rokok, kursi, pintu mobil, itu butuh waktu lama. Itu bisa kuat DNA-nya," sambung Hastry.

Menurut Hastry, proses pemeriksaannya cukup lama karena dilakukan beberapa kali.

"Yang kita ketahui TKP Subang agak sedikit kacau, terkontaminasi karena banyaknya masuk ke TKP tanpa diketahui dari penyidik," katanya.

Lebih lanjut, Hastry menjelaskan pemeriksaan DNA yang ditemukan di puntung rokok membutuhkan waktu satu bulan untuk mengungkapnya.

Sebab menurutnya, penyidik juga ingin mencocokkan DNA itu dengan waktu kematian korban. Diakuinya, hal itu merupakan kesulitan tersendiri sehingga harus dilakukan berulang-ulang.

"Kita bandingkan lagi dengan properti atau sisa rokok yang lain, apakah ini lama sehari dua hari. Karena rumah tersebut banyak didatangi orang-orang dari bukan warga dan yayasan. Jadi kita lama lagi," terangnya.

"Yang paling baru ini DNA siapa? Sesuai enggak dengan waktu kematian, sesuai enggak dengan kejadian waktu itu. Jadi, lamanya di situ," Hastry menambahkan.

Meski berlangsung lama, upaya tim penyidik akhirnya menemui petunjuk penting untuk mengungkap kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang.

"Sebenarnya kita sudah dapat sudah selesai kalau dari properti yang kita periksa di laboratorium forensik di Jakarta itu sudah ketemu semua," ujarnya.

Hastry juga mengungkap calon tersangka dengan melihat dari cara merokoknya. Menurutnya, hal itu bisa diidentifikasi melalui puntung rokok untuk mengetahui bagaimana profil orangnya.

"Saya kasih bocoran profile orang merokok berbeda, bisa satu puntung rokok habis, bisa sampai hanya tiga perempat, bisa cara memegangnya seperti apa," ungkapnya.

"Biar pemeriksa juga tahu itu, juga memprofile dari saksi ini bagaimana sih dia memegang rokok, bagaimana dia menghabiskan rokok," sambungnya.

Dia menyatakan bahwa hal itu sudah bisa dibuktikan dan hasilnya memang berbeda-beda.

"Nanti bila sewaktu-waktu diumumkan, ya memang cara merokoknya dia seperti itu dan kita ada rekamannya, jadi tanpa disadari dari puluhan saksi itu yang merokok di situ. Jadi ya, itu kayak yang saya bocorkan memprofile ini," urainya.

Hastry mengakui proses pemeriksaan tersebut tidak diketahui masyarakat luas.

"Itulah kerja polisi, jadi benar-benar hati-hati. Jadi, DNA sudah berbicara, profile dia merokok mereknya apa itu sudah ada rekamannya," tambahnya.

Hastry juga mengungkapkan pelaku pembunuhan ibu dan anak di Subang lebih dari satu orang.

Saat Denny Darko menyebut pelaku lebih dari tiga orang, Hastry hanya tersenyum.

Namun, Hastry membantah jika kasus tersebut dipetieskan. Ia memastikan tersangka sudah ada, akan tetapi penyidik masih berhati-hati.

"Saya pikir kalau saya sebagai dokter forensik ya, dan polisi juga dan sering komunikasi dengan penyidik ya. Mereka memang hati-hati dan ingin memastikan dulu tersangka harus ada pintu masuk. Pintu masuknya dari mana dan yakin bahwa ini memang terlibat dalam tindak pidana tersebut," katanya. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya