Warning WHO: Pandemi Covid-19 Masih Berlanjut Hingga 2022
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Warning WHO: Pandemi Covid-19 Masih Berlanjut Hingga 2022

...
RILIS.ID
Jakarta
23 Oktober 2021 - 9:07 WIB
Mancanegara | RILISID
...
Suasana pemakaman pasien Covid-19 di Jakarta. Foto: Istimewa

RILISID, Jakarta — Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) tak kunjung hilang dari dunia ini. Bahkan Badan Kesehatan Dunia WHO memperingatkan bahwa pandemi masih berlanjut hingga tahun depan.

WHO menyebut Covid-19 bisa dengan mudah berlangsung berlarut-larut hingga 2022 dikarenakan negara-negara miskin tidak mendapatkan vaksin yang mereka perlukan.

Direktur Umum WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengkritik tidak meratanya distribusi vaksin.

Sebelumnya, pejabat senior WHO Dr Bruce Aylward juga sudah memperingatkan bahwa kurangnya vaksin akan membuat pandemi masih berlanjut ke 2022.

"Kami mengimbau negara-negara kaya mau menyerahkan alokasi vaksin mereka agar perusahaan farmasi dapat memprioritaskan negara-negara berpenghasilan rendah," katanya dikutip dari BBC, Sabtu (23/10/2021).

Per Jumat (22/10/2021), kurang dari 5 persen populasi Afrika telah divaksinasi. Angka ini sangat jauh jika dibandingkan sebagian besar benua lain yang persentasenya 40 persen.

Negara-negara kaya, lanjut Aylward, perlu menginventarisasi di mana posisi mereka berada, dengan komitmen donasi mereka yang dibuat pada pertemuan puncak seperti pertemuan G7 di St Ives musim panas ini.

"Kita benar-benar perlu mempercepatnya. Jika tidak, pandemi ini akan berlangsung lebih lama dari yang seharusnya," tegasnya.

Sebagai informasi, pandemi telah menewaskan lebih dari 4,6 juta orang dan menginfeksi lebih dari 228 juta orang di seluruh dunia. Juga telah mengungkap ketidaksetaraan yang mencolok di antara negara-negara terkait akses dan keterjangkauan vaksin.

Berdasarkan penelitian WHO, akan ada cukup vaksin diproduksi pada tahun 2021 untuk menjangkau 70 persen populasi global yang mencapai 7,8 miliar. Namun, sebagian besar vaksin dicadangkan untuk negara-negara kaya.

Sedangkan negara-negara penghasil vaksin lainnya membatasi ekspor dosis sehingga mereka dapat memastikan bahwa warganya mendapatkan vaksinasi terlebih dahulu, sebuah tindakan yang disebut "nasionalisme vaksin".

Keputusan beberapa negara untuk memberikan vaksin booster kepada warga yang sudah disuntik ketimbang memprioritaskan dosis untuk orang yang tidak divaksinasi di negara-negara miskin juga mendapat sorotan tajam. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Warning WHO: Pandemi Covid-19 Masih Berlanjut Hingga 2022

...
RILIS.ID
Jakarta
23 Oktober 2021 - 9:07 WIB
Mancanegara | RILISID
...
Suasana pemakaman pasien Covid-19 di Jakarta. Foto: Istimewa

RILISID, Jakarta — Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) tak kunjung hilang dari dunia ini. Bahkan Badan Kesehatan Dunia WHO memperingatkan bahwa pandemi masih berlanjut hingga tahun depan.

WHO menyebut Covid-19 bisa dengan mudah berlangsung berlarut-larut hingga 2022 dikarenakan negara-negara miskin tidak mendapatkan vaksin yang mereka perlukan.

Direktur Umum WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengkritik tidak meratanya distribusi vaksin.

Sebelumnya, pejabat senior WHO Dr Bruce Aylward juga sudah memperingatkan bahwa kurangnya vaksin akan membuat pandemi masih berlanjut ke 2022.

"Kami mengimbau negara-negara kaya mau menyerahkan alokasi vaksin mereka agar perusahaan farmasi dapat memprioritaskan negara-negara berpenghasilan rendah," katanya dikutip dari BBC, Sabtu (23/10/2021).

Per Jumat (22/10/2021), kurang dari 5 persen populasi Afrika telah divaksinasi. Angka ini sangat jauh jika dibandingkan sebagian besar benua lain yang persentasenya 40 persen.

Negara-negara kaya, lanjut Aylward, perlu menginventarisasi di mana posisi mereka berada, dengan komitmen donasi mereka yang dibuat pada pertemuan puncak seperti pertemuan G7 di St Ives musim panas ini.

"Kita benar-benar perlu mempercepatnya. Jika tidak, pandemi ini akan berlangsung lebih lama dari yang seharusnya," tegasnya.

Sebagai informasi, pandemi telah menewaskan lebih dari 4,6 juta orang dan menginfeksi lebih dari 228 juta orang di seluruh dunia. Juga telah mengungkap ketidaksetaraan yang mencolok di antara negara-negara terkait akses dan keterjangkauan vaksin.

Berdasarkan penelitian WHO, akan ada cukup vaksin diproduksi pada tahun 2021 untuk menjangkau 70 persen populasi global yang mencapai 7,8 miliar. Namun, sebagian besar vaksin dicadangkan untuk negara-negara kaya.

Sedangkan negara-negara penghasil vaksin lainnya membatasi ekspor dosis sehingga mereka dapat memastikan bahwa warganya mendapatkan vaksinasi terlebih dahulu, sebuah tindakan yang disebut "nasionalisme vaksin".

Keputusan beberapa negara untuk memberikan vaksin booster kepada warga yang sudah disuntik ketimbang memprioritaskan dosis untuk orang yang tidak divaksinasi di negara-negara miskin juga mendapat sorotan tajam. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya