Perawat Ini Emoh Divaksin: Jika Saya Sakit, Itu adalah Tindakan Tuhan
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Perawat Ini Emoh Divaksin: Jika Saya Sakit, Itu adalah Tindakan Tuhan

...
RILIS.ID
Jakarta
13 Oktober 2021 - 9:20 WIB
Kesehatan | RILISID
...
Ilustrasi tenaga kesehatan.

RILISID, Jakarta — Ternyata penolakan terhadap vaksinasi Covid-19 masih ditemukan di belahan dunia ini. Salah satunya di negara maju Amerika Serikat (AS).

Anehnya, penolakan divaksin justru datang dari tenaga kesehatan. Padahal, Presiden AS Joe Biden telah mendesak pengusaha mengeluarkan ultimatum kepada staf mereka untuk divaksin atau kehilangan pekerjaan.

"Keyakinan saya berdasar pada (keyakinan) agama. Saya meyakini pencipta saya memberi saya sistem kekebalan yang melindungi saya, dan jika saya sakit, itu adalah tindakan Tuhan," ucap perawat AS Leah Cushaman dikutip dari bbc.com, Rabu (13/10/2021).

"Saya tidak akan minum obat yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh," lanjut Cushman.

Dia menyangkal ada konflik antara keyakinan ini dan tanggung jawab pekerjaannya.

Cushman berpendapat bahwa vaksin Covid-19 tetap "eksperimental", meskipun vaksin Pfizer mendapat persetujuan penuh dari Food and Drug Administration (FDA) di AS - yang berarti FDA menganggap bahwa vaksin itu aman dan efektif.

Namun, Cushman menegaskan bahwa ia tak menghendaki vaksin apapun.

Manajer yang memutuskan untuk memberlakukan mandat vaksinasi di rumah sakit mengatakan kebijakan tersebut bertujuan untuk membuat pasien merasa aman.

Sementara, CEO Rumah Sakit Upper Connecticut Valley Scott Colby mengakui telah kehilangan beberapa staf medis karena masalah mandat vaksin di tengah periode lonjakan kasus akibat varian Delta dan tumpukan prosedur kesehatan non-Covid.

Menurutnya, kewajiban vaksinasi bagi staf rumah sakit masih merupakan keputusan yang tepat. Sebagian karena penyakit serius terkait virus corona di antara staf - lebih mungkin terjadi bagi mereka yang tidak divaksinasi - adalah pengurasan sumber daya yang dapat dihindari.

Colby juga mengaku menemukan beberapa staf yang menentang kewajiban vaksinasi tampaknya tidak memiliki dasar medis atau agama yang murni.

"Bukan hanya Covid. Ada vaksin lain yang harus diberikan pada karyawan, seperti vaksin MMR atau hepatitis. Jadi, mengatakan ini tidak politis akan menjadi tidak jujur," kata Colby.

Kembali pada unjuk rasa menentang kewajiban vaksinasi, Leah Cushman, yang selain menjadi perawat juga menjadi perwakilan Partai Republik di New Hampshire, menegaskan bahwa pendiriannya juga tentang kebebasan.

"Pemerintahan Biden menyasar hak kedaulatan kami. Kami profesional medis, tetapi kami masih membutuhkan kemampuan untuk memilih apa yang terjadi pada tubuh kami," katanya.

Beberapa perawat dalam demonstrasi merasa bahwa rumah sakit bermain politik, dan mengatakan jika kewajiban vaksinasi benar-benar demi kepercayaan pasien, tanggung jawab akan berada pada pengetesan mingguan daripada mewajibkan vaksinasi, mengingat bahwa mereka yang telah divaksin tetap dapat terpapar virus.

Bahkan pilihan pengetesan Covid-19 secara reguler tidak dapat diterima oleh banyak orang Amerika yang menolak untuk divaksinasi.

Kahseim Outlaw baru saja kehilangan pekerjaannya di Wallingford, Connecticut, karena alasan itu.

Ia dinobatkan sebagai 'Guru Tahun Ini' di sekolah menengahnya tahun lalu, tetapi merasa kewajiban vaksinasi yang diperkenalkan oleh otoritas negara bagian adalah sesuatu yang tidak dapat ia patuhi.

"Saya tidak menggunakan bahan sintetis apa pun dalam hidup saya, apakah itu untuk tujuan pengobatan, suplemen atau makanan. Jadi ide untuk disuntik adalah sesuatu yang bertentangan dengan cara saya menjalani hidup saya," katanya. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Perawat Ini Emoh Divaksin: Jika Saya Sakit, Itu adalah Tindakan Tuhan

...
RILIS.ID
Jakarta
13 Oktober 2021 - 9:20 WIB
Kesehatan | RILISID
...
Ilustrasi tenaga kesehatan.

RILISID, Jakarta — Ternyata penolakan terhadap vaksinasi Covid-19 masih ditemukan di belahan dunia ini. Salah satunya di negara maju Amerika Serikat (AS).

Anehnya, penolakan divaksin justru datang dari tenaga kesehatan. Padahal, Presiden AS Joe Biden telah mendesak pengusaha mengeluarkan ultimatum kepada staf mereka untuk divaksin atau kehilangan pekerjaan.

"Keyakinan saya berdasar pada (keyakinan) agama. Saya meyakini pencipta saya memberi saya sistem kekebalan yang melindungi saya, dan jika saya sakit, itu adalah tindakan Tuhan," ucap perawat AS Leah Cushaman dikutip dari bbc.com, Rabu (13/10/2021).

"Saya tidak akan minum obat yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh," lanjut Cushman.

Dia menyangkal ada konflik antara keyakinan ini dan tanggung jawab pekerjaannya.

Cushman berpendapat bahwa vaksin Covid-19 tetap "eksperimental", meskipun vaksin Pfizer mendapat persetujuan penuh dari Food and Drug Administration (FDA) di AS - yang berarti FDA menganggap bahwa vaksin itu aman dan efektif.

Namun, Cushman menegaskan bahwa ia tak menghendaki vaksin apapun.

Manajer yang memutuskan untuk memberlakukan mandat vaksinasi di rumah sakit mengatakan kebijakan tersebut bertujuan untuk membuat pasien merasa aman.

Sementara, CEO Rumah Sakit Upper Connecticut Valley Scott Colby mengakui telah kehilangan beberapa staf medis karena masalah mandat vaksin di tengah periode lonjakan kasus akibat varian Delta dan tumpukan prosedur kesehatan non-Covid.

Menurutnya, kewajiban vaksinasi bagi staf rumah sakit masih merupakan keputusan yang tepat. Sebagian karena penyakit serius terkait virus corona di antara staf - lebih mungkin terjadi bagi mereka yang tidak divaksinasi - adalah pengurasan sumber daya yang dapat dihindari.

Colby juga mengaku menemukan beberapa staf yang menentang kewajiban vaksinasi tampaknya tidak memiliki dasar medis atau agama yang murni.

"Bukan hanya Covid. Ada vaksin lain yang harus diberikan pada karyawan, seperti vaksin MMR atau hepatitis. Jadi, mengatakan ini tidak politis akan menjadi tidak jujur," kata Colby.

Kembali pada unjuk rasa menentang kewajiban vaksinasi, Leah Cushman, yang selain menjadi perawat juga menjadi perwakilan Partai Republik di New Hampshire, menegaskan bahwa pendiriannya juga tentang kebebasan.

"Pemerintahan Biden menyasar hak kedaulatan kami. Kami profesional medis, tetapi kami masih membutuhkan kemampuan untuk memilih apa yang terjadi pada tubuh kami," katanya.

Beberapa perawat dalam demonstrasi merasa bahwa rumah sakit bermain politik, dan mengatakan jika kewajiban vaksinasi benar-benar demi kepercayaan pasien, tanggung jawab akan berada pada pengetesan mingguan daripada mewajibkan vaksinasi, mengingat bahwa mereka yang telah divaksin tetap dapat terpapar virus.

Bahkan pilihan pengetesan Covid-19 secara reguler tidak dapat diterima oleh banyak orang Amerika yang menolak untuk divaksinasi.

Kahseim Outlaw baru saja kehilangan pekerjaannya di Wallingford, Connecticut, karena alasan itu.

Ia dinobatkan sebagai 'Guru Tahun Ini' di sekolah menengahnya tahun lalu, tetapi merasa kewajiban vaksinasi yang diperkenalkan oleh otoritas negara bagian adalah sesuatu yang tidak dapat ia patuhi.

"Saya tidak menggunakan bahan sintetis apa pun dalam hidup saya, apakah itu untuk tujuan pengobatan, suplemen atau makanan. Jadi ide untuk disuntik adalah sesuatu yang bertentangan dengan cara saya menjalani hidup saya," katanya. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya