Hanya Bermodalkan HP, Siswi Madrasah di Pandeglang Terbitkan 4 Novel Selama Pandemi
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Hanya Bermodalkan HP, Siswi Madrasah di Pandeglang Terbitkan 4 Novel Selama Pandemi

...
RILIS.ID
Pandeglang
27 September 2021 - 16:37 WIB
Inspirasi | RILISID
...
Aini Rahmat dan kedua orang tuanya. Foto: Kemenag

RILISID, Pandeglang — Pandemi dan minimnya fasilitas tak menghalangi Nurul Aini untuk terus berkarya.

Siswi Madrasah Aliyah (MA) Mathlaul Anwar Pasir Durung, Bungur Copong, Picung, Pandeglang, Banten, itu berhasil menerbitkan empat novel selama masa pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Bahkan keempat karyanya itu ditulis hanya dengan smartphone yang dibelikan sang ayah untuk menunjang PJJ.

Pemilik nama pena Aini Rahmat itu mengaku mulai serius menulis sejak pemerintah memberlakukan sekolah daring pada 2020 lalu.

"Mulai suka nulis itu tahun 2019. Dari situ belajar dasar-dasarnya. Cuman mulai benar-benar serius nulis itu tahun 2020. Karena kan waktu luangnya banyak, kan pas ada daring. Kadang ngisi waktu luang pas selesai ulangan itu nulis-nulis," katanya sebagaimana dikutip Rilisid di laman kemenag.go.id, Senin (27/9/2021).

Keempat novel karya Aini antara lain "Sejarah Cinta"; "Dokter, Cita-cita, Cinta, dan Rahasia"; "Sesat"; dan "Bulan Berandal".

Aini mengaku saat ini tengah menggarap tiga novel lainnya yang sudah hampir selesai.

"Ada tiga novel lagi yang sedang digarap.Yaitu A Women, Nostalgia SMA Tahun 1990, dan Tragedi Gunung Karang," bebernya.

Menulis dengan HP, menurut Aini, cukup menyulitkan. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat karena hanya itu sarana yang ia miliki.

“Kesusahan tulisannya itu kecil, kurang leluasa kalau ngetik. Kadang pusing juga karena terlalu dekat sama mata. Susah mau koreksinya juga," ucapnya.

Dalam kondisi pandemi, Aini juga merasa kesulitan dalam memasarkan produknya. Apalagi, kata dia, harga buku relatif tidak murah.

Meski begitu, Aini tidak menyerah. Dia berharap buah kreativitasnya bisa ditabung untuk membeli laptop sehingga bisa lebih leluasa dan lebih produktif lagi dalam menumpahkan ide dan imajinasinya.

"Pengen jadi lebih baik lagi, lalu ada fasilitas lebih baik lagi untuk bikin novel, seperti laptop, kaca mata ultraviolet dan tempat nyaman untuk nulis," ungkapnya.

"Selama ini nulis tergantung di mana aja yang nyaman, banyaknya di ruang keluarga. Gak di kamar karena gak punya kamar sendiri," tutup Aini. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Hanya Bermodalkan HP, Siswi Madrasah di Pandeglang Terbitkan 4 Novel Selama Pandemi

...
RILIS.ID
Pandeglang
27 September 2021 - 16:37 WIB
Inspirasi | RILISID
...
Aini Rahmat dan kedua orang tuanya. Foto: Kemenag

RILISID, Pandeglang — Pandemi dan minimnya fasilitas tak menghalangi Nurul Aini untuk terus berkarya.

Siswi Madrasah Aliyah (MA) Mathlaul Anwar Pasir Durung, Bungur Copong, Picung, Pandeglang, Banten, itu berhasil menerbitkan empat novel selama masa pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Bahkan keempat karyanya itu ditulis hanya dengan smartphone yang dibelikan sang ayah untuk menunjang PJJ.

Pemilik nama pena Aini Rahmat itu mengaku mulai serius menulis sejak pemerintah memberlakukan sekolah daring pada 2020 lalu.

"Mulai suka nulis itu tahun 2019. Dari situ belajar dasar-dasarnya. Cuman mulai benar-benar serius nulis itu tahun 2020. Karena kan waktu luangnya banyak, kan pas ada daring. Kadang ngisi waktu luang pas selesai ulangan itu nulis-nulis," katanya sebagaimana dikutip Rilisid di laman kemenag.go.id, Senin (27/9/2021).

Keempat novel karya Aini antara lain "Sejarah Cinta"; "Dokter, Cita-cita, Cinta, dan Rahasia"; "Sesat"; dan "Bulan Berandal".

Aini mengaku saat ini tengah menggarap tiga novel lainnya yang sudah hampir selesai.

"Ada tiga novel lagi yang sedang digarap.Yaitu A Women, Nostalgia SMA Tahun 1990, dan Tragedi Gunung Karang," bebernya.

Menulis dengan HP, menurut Aini, cukup menyulitkan. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat karena hanya itu sarana yang ia miliki.

“Kesusahan tulisannya itu kecil, kurang leluasa kalau ngetik. Kadang pusing juga karena terlalu dekat sama mata. Susah mau koreksinya juga," ucapnya.

Dalam kondisi pandemi, Aini juga merasa kesulitan dalam memasarkan produknya. Apalagi, kata dia, harga buku relatif tidak murah.

Meski begitu, Aini tidak menyerah. Dia berharap buah kreativitasnya bisa ditabung untuk membeli laptop sehingga bisa lebih leluasa dan lebih produktif lagi dalam menumpahkan ide dan imajinasinya.

"Pengen jadi lebih baik lagi, lalu ada fasilitas lebih baik lagi untuk bikin novel, seperti laptop, kaca mata ultraviolet dan tempat nyaman untuk nulis," ungkapnya.

"Selama ini nulis tergantung di mana aja yang nyaman, banyaknya di ruang keluarga. Gak di kamar karena gak punya kamar sendiri," tutup Aini. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya