Bertemu LaNyalla, Budayawan Bandung Berharap Ada Capres Perseorangan pada Pilpres 2024
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Bertemu LaNyalla, Budayawan Bandung Berharap Ada Capres Perseorangan pada Pilpres 2024

...
RILIS.ID
Bandung
28 September 2021 - 8:39 WIB
Politika | RILISID
...
Ketua DPD RI saat bertemu tokoh budayawan Bandung, Senin (27/9/2021). Foto: Istimewa

RILISID, Bandung — Salah satu tokoh budayawan asal Bandung, Raden Deni Romli mendukung Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti untuk memperjuangkan amandemen ke-5 UUD 1945.

Menurutnya, sejumlah budayawan yang tergabung dalam berbagai paguyuban melihat jika persoalan bangsa perlu diselesaikan melalui amandemen ke-5.

"Kami mendukung penuh langkah tersebut karena beliau adalah wakil kami. Kami berharap ada wakil atau calon perseorangan pada Pemilu 2024," ujar Deni dalam siaran pers DPD RI yang diterima Rilisid, Selasa (28/9/2021).

Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mengaku bahwa para senator tengah bekerja keras memperjuangkan amandemen ke-5 konstitusi.

"Kami ingin memperbaiki dari hulunya. Ini bukan soal hasrat politik, tetapi untuk mengembalikan marwah bangsa ini, sekaligus mengoreksi arah perjalanan bangsa ke depan," papar LaNyalla.

Menurutnya, ada dua hal penting yang menjadi agenda utama dari amandemen tersebut.

Pertama, mendorong tokoh-tokoh terbaik bangsa nonpartai politik agar dapat dicalonkan sebagai calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres).

Kedua, adalah ambang batas pencalonan atau presidential threshold (PT) nol persen.

"Setelah mengalami empat kali amandemen, perjalanan bangsa ini semakin tidak terarah. Cita-cita para pendiri bangsa semakin jauh dari harapan, utamanya tanggung jawab negara dalam menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia," ujar LaNyalla.

"Maka, amandemen ke-5 ini merupakan hal mendesak dan urgent untuk mengoreksi dan meluruskan kembali arah perjalanan bangsa ini," sambungnya.

Untuk memperjuangkan amandemen ke-5, LaNyalla mengatakan sudah berkeliling hampir ke seluruh penjuru negeri. Baik melalui berbagai forum seperti seminar, FGD (Focus Group Discussion), dan pertemuan lainnya.

Sebagai senator, ia mengakui tidak mewakili partai politik (parpol). Namun, para senator merupakan peserta pemilu yang sah.

"Kami berjumlah 136 orang dan kami dipilih oleh rakyat. Kami ini peserta pemilu," ucapnya.

Lebih lanjut, LaNyalla menegaskan anggota DPD RI tidak diperbolehkan terlibat atau menjadi pengurus partai politik.

Namun, ketika sudah menjadi DPD RI, kewenangan yang dimiliki terbatas. Pun halnya dalam pengambilan keputusan.

Sehingga menurut LaNyalla, perjuangan anggota DPD RI selalu dipatahkan dengan sistem voting.

"Kalau selalu pakai hitungan voting, jelas kami kalah jika dibandingkan dengan jumlah anggota DPR RI. Dulu, MPR itu terdiri dari utusan golongan dan daerah. Utusan golongan kemudian dihapus dan utusan daerah menjelma menjadi DPD. Dulu pengambilan keputusan didasarkan pada musyawarah mufakat. Begitu amandemen dilakukan, kita tak punya hak apa-apa, karena semua dilakukan berdasarkan voting ketika deadlock," pungkasnya. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Bertemu LaNyalla, Budayawan Bandung Berharap Ada Capres Perseorangan pada Pilpres 2024

...
RILIS.ID
Bandung
28 September 2021 - 8:39 WIB
Politika | RILISID
...
Ketua DPD RI saat bertemu tokoh budayawan Bandung, Senin (27/9/2021). Foto: Istimewa

RILISID, Bandung — Salah satu tokoh budayawan asal Bandung, Raden Deni Romli mendukung Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti untuk memperjuangkan amandemen ke-5 UUD 1945.

Menurutnya, sejumlah budayawan yang tergabung dalam berbagai paguyuban melihat jika persoalan bangsa perlu diselesaikan melalui amandemen ke-5.

"Kami mendukung penuh langkah tersebut karena beliau adalah wakil kami. Kami berharap ada wakil atau calon perseorangan pada Pemilu 2024," ujar Deni dalam siaran pers DPD RI yang diterima Rilisid, Selasa (28/9/2021).

Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mengaku bahwa para senator tengah bekerja keras memperjuangkan amandemen ke-5 konstitusi.

"Kami ingin memperbaiki dari hulunya. Ini bukan soal hasrat politik, tetapi untuk mengembalikan marwah bangsa ini, sekaligus mengoreksi arah perjalanan bangsa ke depan," papar LaNyalla.

Menurutnya, ada dua hal penting yang menjadi agenda utama dari amandemen tersebut.

Pertama, mendorong tokoh-tokoh terbaik bangsa nonpartai politik agar dapat dicalonkan sebagai calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres).

Kedua, adalah ambang batas pencalonan atau presidential threshold (PT) nol persen.

"Setelah mengalami empat kali amandemen, perjalanan bangsa ini semakin tidak terarah. Cita-cita para pendiri bangsa semakin jauh dari harapan, utamanya tanggung jawab negara dalam menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia," ujar LaNyalla.

"Maka, amandemen ke-5 ini merupakan hal mendesak dan urgent untuk mengoreksi dan meluruskan kembali arah perjalanan bangsa ini," sambungnya.

Untuk memperjuangkan amandemen ke-5, LaNyalla mengatakan sudah berkeliling hampir ke seluruh penjuru negeri. Baik melalui berbagai forum seperti seminar, FGD (Focus Group Discussion), dan pertemuan lainnya.

Sebagai senator, ia mengakui tidak mewakili partai politik (parpol). Namun, para senator merupakan peserta pemilu yang sah.

"Kami berjumlah 136 orang dan kami dipilih oleh rakyat. Kami ini peserta pemilu," ucapnya.

Lebih lanjut, LaNyalla menegaskan anggota DPD RI tidak diperbolehkan terlibat atau menjadi pengurus partai politik.

Namun, ketika sudah menjadi DPD RI, kewenangan yang dimiliki terbatas. Pun halnya dalam pengambilan keputusan.

Sehingga menurut LaNyalla, perjuangan anggota DPD RI selalu dipatahkan dengan sistem voting.

"Kalau selalu pakai hitungan voting, jelas kami kalah jika dibandingkan dengan jumlah anggota DPR RI. Dulu, MPR itu terdiri dari utusan golongan dan daerah. Utusan golongan kemudian dihapus dan utusan daerah menjelma menjadi DPD. Dulu pengambilan keputusan didasarkan pada musyawarah mufakat. Begitu amandemen dilakukan, kita tak punya hak apa-apa, karena semua dilakukan berdasarkan voting ketika deadlock," pungkasnya. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya