Legislator PDIP: Kesiapan Bersama Perlu untuk Kasus Terburuk COVID-19 - RILIS.ID
Legislator PDIP: Kesiapan Bersama Perlu untuk Kasus Terburuk COVID-19
Nailin In Saroh
Senin | 11/05/2020 22.30 WIB
Legislator PDIP: Kesiapan Bersama Perlu untuk Kasus Terburuk COVID-19
Anggota Komisi IX Fraksi PDIP, Nabil Haroen. FOTO: Istimewa

RILIS.ID, Jakarta – Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Muchamad Nabil Haroen, mengatakan bahwa pernyataan Presiden Jokowi berdamai dengan COVID-19 bisa dilihat dari dua perspektif.

Pertama bahwa pemerintah harus lebih serius dan fokus dalam penanganan COVID-19. Sebab menurutnya, memang masih ada beberapa hal yang masih inkonsisten dan tidak terkoordinasi misal kebijakan antar kementerian yang tidak sinkron. Akibatnya, masyarakat menjadi bingung.

Kedua, Presiden Jokowi menyampaikan itu dalam konteks agar masyarakat Indonesia bersiap pada tahapan-tahapan yang lebih luas, dari penanganan COVID-19.

Diakui Nabil, banyak prediksi kapan COVID-19 akan berakhir, tapi tidak ada yang bisa memastikan. “Maka diperlukan kesiapan bersama, untuk kasus yang terburuk. Di antara persiapan itu, dengan menjaga ketahanan di lingkup terkecil, yakni keluarga dan lingkungan sekitar,” kata Nabil dalam keterangan tertulisnya, Senin (11/5/2020).

Menurut Nabil, DPR sendiri masih mempertanyakan apakah penanganan pemerintah terhadap wabah COVID-19 selama ini sudah cukup baik atau belum. 

“Kita memang melalui periode yang tidak mudah. Pemerintah harus mengkoreksi banyak hal terkait dengan strategi, kebijakan maupun eksekusi program dari kementrian masing-masing. Koordinasi antar kementerian harus lebih rapi, dengan eksekusi yang lebih baik dan sesuai dengan kepentingan rakyat,” kata Gus Nabil.

Dia menilai, harus ada perbaikan dalam penanganannya. Misalnya butuh lebih banyak tes. Sebab Jika dibandingkan dengan Vietnam, Indonesia tertinggal sangat jauh.

Vietnam mengklaim sukses mengendalikan penularan COVID-19. Negara ini memeriksa 2.2 orang per 1.000 penduduk dengan PCR, sedangkan Indonesia memeriksa 0,2 orang per 1.000 penduduk. Ini yang harus dikejar.

Saat ini, kata Gus Nabil, di antara yang menjadi penting, yakni transparansi data sampai dengan membuka kurva yang berbasis data epidemiologis. 

“Ini usulan dan pernyataan yang saya terima dari pakar epidemiologis. Kalau data tidak terbuka, siapapun nggak akan bisa memprediksi. Yang ada hanya pembiaran dan denial,” katanya.

Dia menambahkan, selain pemerintah harus bekerja keras lagi untuk memperbanyak tes, memperketat physical distancing, juga tetap fokus mengatur agar sirkulasi ekonomi kerakyatan tetap berjalan. 


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID