Senator Emma Terharu Melihat Generasi Milenial Kelola Pesantren di Daerah Terpencil
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Senator Emma Terharu Melihat Generasi Milenial Kelola Pesantren di Daerah Terpencil

...
RILIS.ID
Pesisir Selatan
29 Oktober 2021 - 18:53 WIB
Inspirasi | RILISID
...
Senator Emma Yohanna saat reses. Foto: ist

RILISID, Pesisir Selatan — Anggota DPD RI Dapil Sumatera Barat (Sumbar) Emma Yohanna terharu dengan aksi Heru Kisnanto (27), yang mendirikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Ashabul Kahfi di daerah terpencil.

Tepatnya di Nagari Rawan Gunung Malelo, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumbar.

Sejak berdiri Juni 2018, MTI Ashabul Kahfi telah menampung 21 santri tanpa dipungut biaya sepeserpun alias gratis.

Yang mengharukan, 12 guru yang mengajar tidak mendapat gaji demi mencetak generasi penerus bangsa.

“Saya sangat mengapresiasi usaha anak muda milenial kita mampu mewujudkan berdirinya pesantren dan tempat belajar agama," ucap Emma dalam keterangan tertulisnya, Jumat (29/10/2021).

"Saya berbangga masih ada yang punya kepedulian untuk menggerakkan pendidikan pesantren walaupun bersusah payah dan dengan kondisi apa adanya,” sambungnya.

Emma mengatakan bahwa mendirikan lembaga pendidikan adalah tugas mulia, sehingga harus dikerjakan dengan niat iklhas tanpa pamrih.

Dari sisi materi, masih kata dia, guru-guru MTI Ashabul Kahfi memang belum mendapatkan yang terbaik. Akan tetapi dari sisi ibadah mereka sudah mendapatkannya.

Menurutnya, kehadiran pesantren tersebut mampu mengetuk hati pemerhati lembaga pendidikan dan para donatur untuk membantu serta keberadaan pesantren telah mendatangkan manfaat yang besar bagi masyarakat sekitar.

“Menuntut ilmu tidak ada batasnya, santri harus selalu bersyukur dengan kondisi yang ada dan memanfaatkan fasilitas yang telah ada. Sebagai alumni pesantren, saya juga merasakan manfaat yang luar bisa terutama untuk memupuk kemandirian sejak dini," tuturnya.

"Kita biasanya tinggal di rumah dengan aturan yang longgar tetapi saat kita tinggal di asrama memiliki aturan sendiri sehingga kita dididik dengan kemandirian,” Emma menambahkan.

Sementara itu, Pendiri MTI Ashabul Kahfi Heru Kisnanto berharap lembaga pendidikannya bisa menjadi pusat pendidikan agama di Pesisir Selatan. Juga bisa melahirkan santri-santri yang berakhlak mulia.

Ia mengungkapkan bangunan sekolah merupakan sumbangan dari donatur dan masyarakat yang sudah semi permanen dan berjumlah tiga lokal yang dilengkapi dengan asrama.

“Pesantren kami berbasis salafiyah lebih fokus pada pembelajaran kitab kuning dan juga mengajarkan mata pelajaran umum, santri semuanya menetap di asrama. Tentunya kami sangat berterima kasih kepada Ibunda Emma Yohanna yang sudah membantu Al-Quran dan dana untuk pembangunan pesantren kami, ” ungkap Heru.

Lebih lanjut, Heru mengungkapkan kendala yang dihadapi saat ini kurangnya lahan sehingga tidak bisa menampung santri lebih banyak.

Namun, MTI Ashabul Kahfi sedang berupaya membeli tanah di sekitar sekolah seluas 7.000 meter persegi dengan nilai Rp100 juta.

Untuk merealisasikan itu, Heru mengaku telah menggalang bantuan dari masyatakat dan donatur yang memiliki kelebihan rezeki untuk membeli tanah tersebut.

“Sumbangan dari para donatur sangat kami harapkan untuk membantu pembelian tanah demi pengembangan pesantren ke depan. Bantuan yang telah donatur berikan kami mendoakan agar dapat bernilai ibadah wakaf, yang amalannya yang terus mengalir. Kami bisa dihubungi di nomor 085376341552 an. Heru Kisnanto,” ucap alumni HMI ini. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Senator Emma Terharu Melihat Generasi Milenial Kelola Pesantren di Daerah Terpencil

...
RILIS.ID
Pesisir Selatan
29 Oktober 2021 - 18:53 WIB
Inspirasi | RILISID
...
Senator Emma Yohanna saat reses. Foto: ist

RILISID, Pesisir Selatan — Anggota DPD RI Dapil Sumatera Barat (Sumbar) Emma Yohanna terharu dengan aksi Heru Kisnanto (27), yang mendirikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Ashabul Kahfi di daerah terpencil.

Tepatnya di Nagari Rawan Gunung Malelo, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumbar.

Sejak berdiri Juni 2018, MTI Ashabul Kahfi telah menampung 21 santri tanpa dipungut biaya sepeserpun alias gratis.

Yang mengharukan, 12 guru yang mengajar tidak mendapat gaji demi mencetak generasi penerus bangsa.

“Saya sangat mengapresiasi usaha anak muda milenial kita mampu mewujudkan berdirinya pesantren dan tempat belajar agama," ucap Emma dalam keterangan tertulisnya, Jumat (29/10/2021).

"Saya berbangga masih ada yang punya kepedulian untuk menggerakkan pendidikan pesantren walaupun bersusah payah dan dengan kondisi apa adanya,” sambungnya.

Emma mengatakan bahwa mendirikan lembaga pendidikan adalah tugas mulia, sehingga harus dikerjakan dengan niat iklhas tanpa pamrih.

Dari sisi materi, masih kata dia, guru-guru MTI Ashabul Kahfi memang belum mendapatkan yang terbaik. Akan tetapi dari sisi ibadah mereka sudah mendapatkannya.

Menurutnya, kehadiran pesantren tersebut mampu mengetuk hati pemerhati lembaga pendidikan dan para donatur untuk membantu serta keberadaan pesantren telah mendatangkan manfaat yang besar bagi masyarakat sekitar.

“Menuntut ilmu tidak ada batasnya, santri harus selalu bersyukur dengan kondisi yang ada dan memanfaatkan fasilitas yang telah ada. Sebagai alumni pesantren, saya juga merasakan manfaat yang luar bisa terutama untuk memupuk kemandirian sejak dini," tuturnya.

"Kita biasanya tinggal di rumah dengan aturan yang longgar tetapi saat kita tinggal di asrama memiliki aturan sendiri sehingga kita dididik dengan kemandirian,” Emma menambahkan.

Sementara itu, Pendiri MTI Ashabul Kahfi Heru Kisnanto berharap lembaga pendidikannya bisa menjadi pusat pendidikan agama di Pesisir Selatan. Juga bisa melahirkan santri-santri yang berakhlak mulia.

Ia mengungkapkan bangunan sekolah merupakan sumbangan dari donatur dan masyarakat yang sudah semi permanen dan berjumlah tiga lokal yang dilengkapi dengan asrama.

“Pesantren kami berbasis salafiyah lebih fokus pada pembelajaran kitab kuning dan juga mengajarkan mata pelajaran umum, santri semuanya menetap di asrama. Tentunya kami sangat berterima kasih kepada Ibunda Emma Yohanna yang sudah membantu Al-Quran dan dana untuk pembangunan pesantren kami, ” ungkap Heru.

Lebih lanjut, Heru mengungkapkan kendala yang dihadapi saat ini kurangnya lahan sehingga tidak bisa menampung santri lebih banyak.

Namun, MTI Ashabul Kahfi sedang berupaya membeli tanah di sekitar sekolah seluas 7.000 meter persegi dengan nilai Rp100 juta.

Untuk merealisasikan itu, Heru mengaku telah menggalang bantuan dari masyatakat dan donatur yang memiliki kelebihan rezeki untuk membeli tanah tersebut.

“Sumbangan dari para donatur sangat kami harapkan untuk membantu pembelian tanah demi pengembangan pesantren ke depan. Bantuan yang telah donatur berikan kami mendoakan agar dapat bernilai ibadah wakaf, yang amalannya yang terus mengalir. Kami bisa dihubungi di nomor 085376341552 an. Heru Kisnanto,” ucap alumni HMI ini. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya