Pada Mereka Kita Patut Belajar
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Pada Mereka Kita Patut Belajar

...
RILIS.ID

3 Juni 2021 - 1:10 WIB
Perspektif | RILISID
...
Oleh: Wasril Purnawan

RILISID, — Di antara seliweran twibon "Saya Indonesia. Saya Pancasila” saya mematut sejenak di layar gawai yang menampilkan Makrifat Paginya Kang Yudi Latif.

"Mengamalkan Pancasila itu seperti memenuhi pesan (sembahyang): dimulai dengan meninggikan Tuhan-takbiratul ihram-(Ketuhanan) sebagai gantungan integritas, diakhiri dengan menebar salam damai sejahtera ke kanan dan ke kiri (Keadilan),” tulis beliau sebagai selebrasi atas hari lahir Pancasila kemarin.

Negara Paripurna; Historitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila adalah salah satu karya beliau yang sangat otoritatif tentang Pancasila. Buku yang ditulis melalui riset mendalam ini dimaksudkan agar Pancasila dan nilai-nilai luhurnya dapat secara konsisten digali, ditemukan, dan direinterpretasi oleh warga Indonesia bukan saja dalam kehidupan bernegara, tetapi juga bagi kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

Buku beliau lainnya "Mata Air Keteladanan; Pancasila dalam Perbuatan” menceritakan secara panjang lebar tentang praktik-praktik luhur nilai Pancasila yang diteladankan oleh manusia-manusia unggul Indonesia.

Mewartakan kisah kehidupan yang patut menjadi teladan sangat penting sebagai upaya melestarikan nilai-nilai luhur itu agar lekat dalam denyut kehidupan mayoritas masyarakat Indonesia.

Sebagaimana pentingnya kisah kehidupan tokoh karena memberi efek teladan, penting pula memperkaya cerita yang sangat mungkin ditemukan pada orang-orang di sekeliling kita. Pada mereka kita patut belajar.

"Bro, kalau sekiranya Sabtu besok senggang, main ke madrasah kami yuk! Sekalian ada acara rutin arisan guru-guru,” ajak sahabat lama saya.  

"Pulangnya kita mampir di pantai sekadar menghilangkan suntuk dan penat karena tumpukan pekerjaan kantor,” rayunya memastikan saya agar mau membersamainya dalam acara tersebut.

Setelah mengabarkan kesediaan saya kepadanya, keesokannya kami berangkat bersama menuju lokasi. Saat tiba, langsung diajak berkeliling ke seluruh sarana belajar yang kondisinya terlihat jadul namun cukup terawat.  

Selanjutnya sambil menikmati suguhan tuan rumah, saya berjuang amat keras menyembunyikan perubahan raut muka menahan sensasi asam jeruk yang terlanjur dikunyah. Suasana hangat dan intim yang terbangun dalam obrolan singkat bersama para guru, kepala madrasah dan ketua yayasan menjelang zuhur itu membuat saya seolah sudah lama menjadi bagian dari mereka dan tentu asamnya jeruk tak menjadi masalah.

Cerita tentang dinamika mengajar di lembaga pendidikan pinggiran dengan fasilitas yang tak seberapa mengingatkan saya pada Laskar Pelanginya Andrea Hirata. Entah kenapa saya selalu mendapatkan energi besar saat mendengar atau bahkan menyaksikan orang-orang sederhana mengabdi penuh cinta dengan semangat perkasa melampaui semua keterbatasan. Mengatasi bangunan yang nyaris roboh, mempertahankan keberlangsungan madrasah di tengah eksodus para siswa ke sekolah-sekolah negeri atau berhentinya karena tak sanggup membayar urusan uang sekolah. 

Guru-guru tangguh yang 90 persen honorer ini mengajar di berbagai jenjang; Raudlatul Athfal (setingkat TK), Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) dan Madrasah Aliyah (setingkat SMA/SMK).

"Kok madrasah ibtidaiyahnya tidak ada?,”  

"Gara-gara ada 4 SD yang didirikan belakangan di desa ini pak,” jawab salah satu guru senior. 

Selanjutnya dalam obrolan santai itu mereka bercerita bahwa beberapa ruang belajar dipugar bahkan dibangun baru melalui sokongan guru-guru. Dan yang tak kalah menarik, semua siswa yatim disantuni secara rutin setiap bulan tanpa terkecuali.

"Kok bisa?” tanya saya penuh penasaran. 

"Iya pak, semua tak lepas dari peran bapak itu” jawab salah seorang dari mereka sambil matanya memberi isyarat menunjuk pada sahabat saya.

Ingin segera melepas rasa penasaran, saya langsung menanyakan kepada sahabat saya tentang kebenaran cerita para guru tersebut. Dengan nada agak sungkan karena saya bertanya, akhirnya ia mengakuinya. 

Diawali dengan keprihatinan pada siswa dari masyarakat yang hidup dengan segala keterbatasan terlebih siswa yatim, ia berniat membagikan sebagian uang sertifikasi yang ia terima kepada mereka. Dan itu diberikan kepada semua tanpa terkecuali dan hanya oleh dirinya seorang.

"Awalnya saya membagikannya setiap saya menerima uang sertifikasi yang dicairkan tidak rutin setiap bulan. Kadang 2 bulan sekali, bahkan tak jarang lebih dari itu,” jelasnya sambil menaiki tangga ruang kelas baru yang ingin diperlihatkan kepada saya karena belum selesai. 

"Tapi saya berfikir, alangkah kasihan para siswa jika menerimanya tidak rutin, sementara kebutuhan mereka tentu setiap bulan” lanjutnya sambil terus menceritakan bahwa pada akhirnya ia bertekad anak-anak tersebut harus disantuni secara rutin, ada atau tidak adanya pencairan.

"Berapa total yang dibagikan setiap bulannya?”

Ketika dia sebut nominal angkanya, saya tercekat seketika. 

Sulit membayangkan uang sertifikasi seorang honorer yang belum tentu cukup untuk membiayai keluarga dengan 3 anak tapi lebih dari separonya justru disantunkan kepada anak yatim. Belum lagi jika saat jadwal santunan tiba, uang sertifikasi ternyata tidak cair, bagaimana ia menalanginya?

Belum hilang takjub saya, tiba-tiba salah satu guru melanjutkan cerita sambil memeriksa progres ruang kelas belajar lantai 2 yang belum sepenuhnya selesai.  Pembangunan sudah berjalan 2 tahun, dan akumulasi donasi yang bersumber dari tokoh yang saya ceritakan ini membuat saya tercekat untuk kesekian kalinya.

Kini amalan langit yang ia lakukan diikuti para guru sehingga ia hanya menggenapkan saja dari angka yang sudah terkumpul dari para guru yang membersamainya dalam program santunan ini. Pun pembangunan ruang kelas belajar memancing dukungan sehingga para guru tak lagi takut membanting uang honor yang tak seberapa untuk ikut disumbangkan demi mewujudkan tujuan mulia.

Melakukan kebajikan dengan cara nekad sebagaimana diteladankan tokoh spesial ini tentu tak mungkin dilakukan tanpa keyakinan paripurna akan Tuhan demi mewujudkan keadilan sosial sebagai mana salam yang selalu diucapkan.

Selamat mengamalkan Pancasila! (*)

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya

Populer

Tag Populer

  • #LampungJaya
  • #Covid19
  • #SertifikatTanah
  • #AbjadAkhir
  • #Aplikasi

Pilihan

Baca Juga

Pada Mereka Kita Patut Belajar

...
RILIS.ID

3 Juni 2021 - 1:10 WIB
Perspektif | RILISID
...
Oleh: Wasril Purnawan

RILISID, — Di antara seliweran twibon "Saya Indonesia. Saya Pancasila” saya mematut sejenak di layar gawai yang menampilkan Makrifat Paginya Kang Yudi Latif.

"Mengamalkan Pancasila itu seperti memenuhi pesan (sembahyang): dimulai dengan meninggikan Tuhan-takbiratul ihram-(Ketuhanan) sebagai gantungan integritas, diakhiri dengan menebar salam damai sejahtera ke kanan dan ke kiri (Keadilan),” tulis beliau sebagai selebrasi atas hari lahir Pancasila kemarin.

Negara Paripurna; Historitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila adalah salah satu karya beliau yang sangat otoritatif tentang Pancasila. Buku yang ditulis melalui riset mendalam ini dimaksudkan agar Pancasila dan nilai-nilai luhurnya dapat secara konsisten digali, ditemukan, dan direinterpretasi oleh warga Indonesia bukan saja dalam kehidupan bernegara, tetapi juga bagi kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

Buku beliau lainnya "Mata Air Keteladanan; Pancasila dalam Perbuatan” menceritakan secara panjang lebar tentang praktik-praktik luhur nilai Pancasila yang diteladankan oleh manusia-manusia unggul Indonesia.

Mewartakan kisah kehidupan yang patut menjadi teladan sangat penting sebagai upaya melestarikan nilai-nilai luhur itu agar lekat dalam denyut kehidupan mayoritas masyarakat Indonesia.

Sebagaimana pentingnya kisah kehidupan tokoh karena memberi efek teladan, penting pula memperkaya cerita yang sangat mungkin ditemukan pada orang-orang di sekeliling kita. Pada mereka kita patut belajar.

"Bro, kalau sekiranya Sabtu besok senggang, main ke madrasah kami yuk! Sekalian ada acara rutin arisan guru-guru,” ajak sahabat lama saya.  

"Pulangnya kita mampir di pantai sekadar menghilangkan suntuk dan penat karena tumpukan pekerjaan kantor,” rayunya memastikan saya agar mau membersamainya dalam acara tersebut.

Setelah mengabarkan kesediaan saya kepadanya, keesokannya kami berangkat bersama menuju lokasi. Saat tiba, langsung diajak berkeliling ke seluruh sarana belajar yang kondisinya terlihat jadul namun cukup terawat.  

Selanjutnya sambil menikmati suguhan tuan rumah, saya berjuang amat keras menyembunyikan perubahan raut muka menahan sensasi asam jeruk yang terlanjur dikunyah. Suasana hangat dan intim yang terbangun dalam obrolan singkat bersama para guru, kepala madrasah dan ketua yayasan menjelang zuhur itu membuat saya seolah sudah lama menjadi bagian dari mereka dan tentu asamnya jeruk tak menjadi masalah.

Cerita tentang dinamika mengajar di lembaga pendidikan pinggiran dengan fasilitas yang tak seberapa mengingatkan saya pada Laskar Pelanginya Andrea Hirata. Entah kenapa saya selalu mendapatkan energi besar saat mendengar atau bahkan menyaksikan orang-orang sederhana mengabdi penuh cinta dengan semangat perkasa melampaui semua keterbatasan. Mengatasi bangunan yang nyaris roboh, mempertahankan keberlangsungan madrasah di tengah eksodus para siswa ke sekolah-sekolah negeri atau berhentinya karena tak sanggup membayar urusan uang sekolah. 

Guru-guru tangguh yang 90 persen honorer ini mengajar di berbagai jenjang; Raudlatul Athfal (setingkat TK), Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) dan Madrasah Aliyah (setingkat SMA/SMK).

"Kok madrasah ibtidaiyahnya tidak ada?,”  

"Gara-gara ada 4 SD yang didirikan belakangan di desa ini pak,” jawab salah satu guru senior. 

Selanjutnya dalam obrolan santai itu mereka bercerita bahwa beberapa ruang belajar dipugar bahkan dibangun baru melalui sokongan guru-guru. Dan yang tak kalah menarik, semua siswa yatim disantuni secara rutin setiap bulan tanpa terkecuali.

"Kok bisa?” tanya saya penuh penasaran. 

"Iya pak, semua tak lepas dari peran bapak itu” jawab salah seorang dari mereka sambil matanya memberi isyarat menunjuk pada sahabat saya.

Ingin segera melepas rasa penasaran, saya langsung menanyakan kepada sahabat saya tentang kebenaran cerita para guru tersebut. Dengan nada agak sungkan karena saya bertanya, akhirnya ia mengakuinya. 

Diawali dengan keprihatinan pada siswa dari masyarakat yang hidup dengan segala keterbatasan terlebih siswa yatim, ia berniat membagikan sebagian uang sertifikasi yang ia terima kepada mereka. Dan itu diberikan kepada semua tanpa terkecuali dan hanya oleh dirinya seorang.

"Awalnya saya membagikannya setiap saya menerima uang sertifikasi yang dicairkan tidak rutin setiap bulan. Kadang 2 bulan sekali, bahkan tak jarang lebih dari itu,” jelasnya sambil menaiki tangga ruang kelas baru yang ingin diperlihatkan kepada saya karena belum selesai. 

"Tapi saya berfikir, alangkah kasihan para siswa jika menerimanya tidak rutin, sementara kebutuhan mereka tentu setiap bulan” lanjutnya sambil terus menceritakan bahwa pada akhirnya ia bertekad anak-anak tersebut harus disantuni secara rutin, ada atau tidak adanya pencairan.

"Berapa total yang dibagikan setiap bulannya?”

Ketika dia sebut nominal angkanya, saya tercekat seketika. 

Sulit membayangkan uang sertifikasi seorang honorer yang belum tentu cukup untuk membiayai keluarga dengan 3 anak tapi lebih dari separonya justru disantunkan kepada anak yatim. Belum lagi jika saat jadwal santunan tiba, uang sertifikasi ternyata tidak cair, bagaimana ia menalanginya?

Belum hilang takjub saya, tiba-tiba salah satu guru melanjutkan cerita sambil memeriksa progres ruang kelas belajar lantai 2 yang belum sepenuhnya selesai.  Pembangunan sudah berjalan 2 tahun, dan akumulasi donasi yang bersumber dari tokoh yang saya ceritakan ini membuat saya tercekat untuk kesekian kalinya.

Kini amalan langit yang ia lakukan diikuti para guru sehingga ia hanya menggenapkan saja dari angka yang sudah terkumpul dari para guru yang membersamainya dalam program santunan ini. Pun pembangunan ruang kelas belajar memancing dukungan sehingga para guru tak lagi takut membanting uang honor yang tak seberapa untuk ikut disumbangkan demi mewujudkan tujuan mulia.

Melakukan kebajikan dengan cara nekad sebagaimana diteladankan tokoh spesial ini tentu tak mungkin dilakukan tanpa keyakinan paripurna akan Tuhan demi mewujudkan keadilan sosial sebagai mana salam yang selalu diucapkan.

Selamat mengamalkan Pancasila! (*)

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya