Ngopi di Hari Jumat
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Ngopi di Hari Jumat


30 Desember 2019 - 6:01 WIB
Perspektif | RILISID
...
Husna Purnama, S.E., M.E.P, Dosen Tetap Fakultas Ekonomi Universitas Saburai

RILISID, — GUBERNUR Lampung Arinal Djunaidi menetapkan hari Jumat sebagai Hari Minum Kopi untuk masyarakat se-Provinsi Lampung.

Hal itu berdasarkan Surat Edaran Gubernur Lampung Nomor: 045.2/2708.A /V.20/2019 tentang Hari Jumat Sebagai Hari Minum Kopi.

Pemerintah Provinsi Lampung melakukannya mengingat Provinsi Lampung adalah pemasok terbesar kopi robusta di Indonesia.

Selain untuk meningkatkan kecintaan terhadap produk unggulan daerah serta memberikan nilai tambah produksi kopi guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Hal ini juga dilakukan Pemprov Lampung dalam meningkatkan promosi dan konsumsi di Lampung. 

Sehubungan dengan hal tersebut, maka melalui Surat Edaran Gubernur Arinal menyampaikan, kepada pemerintah provinsi dan swasta di Provinsi Lampung diimbau agar setiap hari Jumat menyediakan minuman kopi di kantor.

Lalu, kepada seluruh masyarakat di Provinsi Lampung diimbau agar setiap hari Jumat meminum kopi dan menyediakan minuman kopi untuk para tamu dan kopi yang digunakan harus kopi asli Lampung (Kumparan, 1/11/19).

Kopi dan Pertumbuhan Ekonomi
Peningkatan kesejahteraan merupakan kewajiban yang harus diemban oleh pemerintah.

Salah satu yang langsung dilakukan oleh pemerintah dalam mengemban amanah kesejahteraan adalah memperluas lapangan pekerjaan, menekan kemiskinan,  dan menekan tingkat pengangguran.

Lampung merupakan provinsi yang menghasilkan banyak hasil bumi antara lain adalah lada, cengkeh, kopi dan lain-lain.

Sebagai penghasil kopi terbesar, kebijakan pemerintah Provinsi Lampung dalam memperluas pasar dengan terus memperkenalkan berbagai macam kopi seperti, kopi robusta, kopi liwa, dan sebagainya.

Buah tangan yang dibawa oleh para pengunjung yang datang ke Provinsi Lampung adalah kopi. Pengenalan kopi yang terus dilakukan diperkuat oleh pemerintah dengan mengeluarkan kebijakan Gubernur Lampung tentang minum kopi di hari Jumat.

Dampak terlihat cukup signifikan, terlihat bertumbuhan kedai-kedai minum kopi yang ternyata tidak hanya di hari Jumat saja melainkan tiada hari tanpa kopi.

Secara ekonomi, peningkatan pemesanan minum kopi meningkatkan penjualan kopi, sehingga sentra-sentra penjualan kopi meraup keuntungan yang terus bertambah.

Hal itu tentu terus berdampak secara multiplier, penjualan tidak hanya kopi, tetapi merambah pada hal-hal lain. Banyak kedai kopi yang juga berdampingan dengan penjual Tapis, pakaian, dan lain-lain.

Berlaku teori demand supply, di mana ketika permintaan akan kopi meningkat maka pasar sentra kopi akan tumbuh.

Dan, ketika terus meningkatnya permintaan kopi maka produsen akan terus berupaya memenuhi kebutuhan pasar tersebut. Berakibat pada petani kopi yang terus meningkatkan mutu kopi, membutuhkan pupuk,  dan seterusnya.

Seorang konsumen ketika membelanjakan uangnya untuk membeli barang ataupun jasa yang dinilai adalah kepuasan konsumen. Ketika kepuasan dimiliki oleh konsumen maka barang tersebut akan sangat diterima oleh masyarakat.

Sementara produsen selalu mengharapkan keuntungan yang lebih dari penjualan barang produksinya.

Semakin bertambahnya laba maka produsen akan melakukan perluasan pasar, sehingga laba akan terus bertambah. Dan penyerapan faktor-faktor produksi akan semakin besar pula.

Diperlukan tenaga kerja yang banyak, diperlukan bahan mentah yang akan diolah, diperlukan inovasi baru dalam mengolah minuman kopi sehingga terus diminati oleh masyarakat.

Menurut pendapat Kuznets, pertumbuhan ekonomi merupakan kenaikan kemampuan suatu negara dalam menyediakan berbagai jenis barang-barang ekonomi yang berjumlah banyak bagi penduduknya.

Lyncolin Arsyad dalam bukunya Ekonomi Pembangunan menyatakan bahwa para ekonom menyadari bahwa  mekanisme pasar tidak mampu menciptakan penyesuaian (adjusment) dengan cepat jika terjadi perubahan, terutama kita yang masih sebagai negara sedang berkembang. Sehingga campur tangan pemerintah tetap diperlukan, jika ingin mencapai proses pembangunan lebih cepat.

Kebijakan gubernur minum kopi sangat menguntungkan, ditambah dengan terbukanya jalur penghubung antara Lampung dan Palembang yang lebih cepat, juga membuka peluang kopi yang semakin menjanjikan.

Masalah Petani Kopi
Kopi asal Lampung memang sudah cukup dikenal di nusantara. Selain kualitas kopinya terbaik, juga aroma dan cita rasa khas kopi robustanya berkesan.

Lahan kebun kopi di Lampung terluas pertama berada di Kabupaten Lampung Barat yang mencapai 59.357 hektare (ha), sedangkan urutan kedua Kabupaten Tanggamus seluas 54.256 ha, disusul Kabupaten Lampung Utara seluas 15.865 ha.

Berdasarkan Data Statitik Perkebunan Kopi di Lampung (2011) --yang dikutip dari Kementerian Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan, dari luasan kebun kopi 59.357 ha tersebut hasil produksi biji kering per tahun mencapai 29.712 ton per hektare.

Sedangkan data yang dimiliki Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Lampung Barat menyebutkan, luas lahan tanaman kopi di kabupaten tersebut mencapai 60.347,7 hektare, dengan produksi biji kopi keringnya 29.712 ton per tahun per hektare.

Perkebunan kopi robusta di Lampung tumbuh di dataran tinggi pada ketinggian 400 – 700 meter di atas permukaan laut dengan temperatur 21 – 24 derajat celcius.

Di Kabupaten Lampung Barat dan Tanggamus memang kontur daerahnya berbukit-bukit, sangat cocok dengan tanaman kopi robusta.

Menurut Iwan, salah seorang petani kopi di Balik Bukit, Liwa, Lampung Barat, sebagian besar penduduk kabupaten tersebut berprofesi sebagai petani kopi. Selain itu, ada yang bercocok tanam lainnya, termasuk petani damar mata kucing.

”Kalau dulu, petani kopi di Lampung Barat kaya-kaya. Sekali panen kopi mereka bisa membeli apa saja untuk kebutuhan rumah tangganya, termasuk kulkas padahal belum ada aliran listrik zaman itu,” tutur Iwan.

Namun, beberapa tahun belakangan, petani kopi di daerah tersebut mulai surut kehidupannya. Tanaman kopi tidak dapat diandalkan lagi untuk memodali kebutuhan rumah tangganya. Produksi biji kopi terus menyusut per hektarenya, harganya pun anjlok.

”Kalau panen kopi, sudah tidak seperti dulu lagi, harga sudah pasti turun,” ujarnya.

Tanaman kopi yang dimiliki petani rata-rata turun temurun. Tanaman tua yang menyebabkan produksi biji kopi terus merosot, sedangkan peremajaan tanaman kopi terhambat, selain karena petaninya sendiri tidak mau, juga tidak seriusnya pemerintah untuk melakukan program peremajaan tanaman kopi di Lampung Barat.

”Pembinaan dan pelatihan kepada petani kopi di sini memang masih kurang,” katanya (Republika, 7/8/19).

Masuknya kopi impor asal Negara Vietnam turut menyuramkan produk kopi asli dari Lampung. Ulah para importir telah merusak tatanan perkopian di Lampung. Kopi impor dengan kualitas buruk dan harga murah diduga dioplos dengan kopi lokal lalu diekspor kembali, sehingga kualitas kopi asal Lampung merosot di mata dunia.

Oleh karena itu, pemerintah daerah seharusnya terus gencar melakukan pembinaan dan pelatihan kepada para petani kopi di Lampung, terutama di Kabupaten Lampung Barat dan Tanggamus.

Perlunya program peremajaan tanaman kopi yang tua, akan meningkatkan produksi dan mutu biji kopi tersebut agar kopi asal Lampung dapat diterima di negara ekspor.

Untuk membangkitkan lagi kejayaan petani kopi di Kabupaten Lampung Barat khususnya, maka perlu proses mengubah budaya berkebun kopi yang menuju modern.

Selama ini, sebagian besar petani kopi di daerah tersebut mewarisi budaya berkebun secara turun temurun yang sebagian kurang cocok lagi di era sekarang, yaitu mulai dari pemupukan, pemeliharaan, panen, penjemuran, sampai menjaga mutu biji kopinya.

Oleh karena itu, kebijakan Gubernur Lampung untung ngopi di hari Jumat kepada masyarakat mesti juga dibarengi dengan kebijakan peningkatan petani kopi. (*)

Editor : gueade

TAG:

Berita Lainnya

Ngopi di Hari Jumat

...
[email protected]

30 Desember 2019 - 6:01 WIB
Perspektif | RILISID
...
Husna Purnama, S.E., M.E.P, Dosen Tetap Fakultas Ekonomi Universitas Saburai

RILISID, — GUBERNUR Lampung Arinal Djunaidi menetapkan hari Jumat sebagai Hari Minum Kopi untuk masyarakat se-Provinsi Lampung.

Hal itu berdasarkan Surat Edaran Gubernur Lampung Nomor: 045.2/2708.A /V.20/2019 tentang Hari Jumat Sebagai Hari Minum Kopi.

Pemerintah Provinsi Lampung melakukannya mengingat Provinsi Lampung adalah pemasok terbesar kopi robusta di Indonesia.

Selain untuk meningkatkan kecintaan terhadap produk unggulan daerah serta memberikan nilai tambah produksi kopi guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Hal ini juga dilakukan Pemprov Lampung dalam meningkatkan promosi dan konsumsi di Lampung. 

Sehubungan dengan hal tersebut, maka melalui Surat Edaran Gubernur Arinal menyampaikan, kepada pemerintah provinsi dan swasta di Provinsi Lampung diimbau agar setiap hari Jumat menyediakan minuman kopi di kantor.

Lalu, kepada seluruh masyarakat di Provinsi Lampung diimbau agar setiap hari Jumat meminum kopi dan menyediakan minuman kopi untuk para tamu dan kopi yang digunakan harus kopi asli Lampung (Kumparan, 1/11/19).

Kopi dan Pertumbuhan Ekonomi
Peningkatan kesejahteraan merupakan kewajiban yang harus diemban oleh pemerintah.

Salah satu yang langsung dilakukan oleh pemerintah dalam mengemban amanah kesejahteraan adalah memperluas lapangan pekerjaan, menekan kemiskinan,  dan menekan tingkat pengangguran.

Lampung merupakan provinsi yang menghasilkan banyak hasil bumi antara lain adalah lada, cengkeh, kopi dan lain-lain.

Sebagai penghasil kopi terbesar, kebijakan pemerintah Provinsi Lampung dalam memperluas pasar dengan terus memperkenalkan berbagai macam kopi seperti, kopi robusta, kopi liwa, dan sebagainya.

Buah tangan yang dibawa oleh para pengunjung yang datang ke Provinsi Lampung adalah kopi. Pengenalan kopi yang terus dilakukan diperkuat oleh pemerintah dengan mengeluarkan kebijakan Gubernur Lampung tentang minum kopi di hari Jumat.

Dampak terlihat cukup signifikan, terlihat bertumbuhan kedai-kedai minum kopi yang ternyata tidak hanya di hari Jumat saja melainkan tiada hari tanpa kopi.

Secara ekonomi, peningkatan pemesanan minum kopi meningkatkan penjualan kopi, sehingga sentra-sentra penjualan kopi meraup keuntungan yang terus bertambah.

Hal itu tentu terus berdampak secara multiplier, penjualan tidak hanya kopi, tetapi merambah pada hal-hal lain. Banyak kedai kopi yang juga berdampingan dengan penjual Tapis, pakaian, dan lain-lain.

Berlaku teori demand supply, di mana ketika permintaan akan kopi meningkat maka pasar sentra kopi akan tumbuh.

Dan, ketika terus meningkatnya permintaan kopi maka produsen akan terus berupaya memenuhi kebutuhan pasar tersebut. Berakibat pada petani kopi yang terus meningkatkan mutu kopi, membutuhkan pupuk,  dan seterusnya.

Seorang konsumen ketika membelanjakan uangnya untuk membeli barang ataupun jasa yang dinilai adalah kepuasan konsumen. Ketika kepuasan dimiliki oleh konsumen maka barang tersebut akan sangat diterima oleh masyarakat.

Sementara produsen selalu mengharapkan keuntungan yang lebih dari penjualan barang produksinya.

Semakin bertambahnya laba maka produsen akan melakukan perluasan pasar, sehingga laba akan terus bertambah. Dan penyerapan faktor-faktor produksi akan semakin besar pula.

Diperlukan tenaga kerja yang banyak, diperlukan bahan mentah yang akan diolah, diperlukan inovasi baru dalam mengolah minuman kopi sehingga terus diminati oleh masyarakat.

Menurut pendapat Kuznets, pertumbuhan ekonomi merupakan kenaikan kemampuan suatu negara dalam menyediakan berbagai jenis barang-barang ekonomi yang berjumlah banyak bagi penduduknya.

Lyncolin Arsyad dalam bukunya Ekonomi Pembangunan menyatakan bahwa para ekonom menyadari bahwa  mekanisme pasar tidak mampu menciptakan penyesuaian (adjusment) dengan cepat jika terjadi perubahan, terutama kita yang masih sebagai negara sedang berkembang. Sehingga campur tangan pemerintah tetap diperlukan, jika ingin mencapai proses pembangunan lebih cepat.

Kebijakan gubernur minum kopi sangat menguntungkan, ditambah dengan terbukanya jalur penghubung antara Lampung dan Palembang yang lebih cepat, juga membuka peluang kopi yang semakin menjanjikan.

Masalah Petani Kopi
Kopi asal Lampung memang sudah cukup dikenal di nusantara. Selain kualitas kopinya terbaik, juga aroma dan cita rasa khas kopi robustanya berkesan.

Lahan kebun kopi di Lampung terluas pertama berada di Kabupaten Lampung Barat yang mencapai 59.357 hektare (ha), sedangkan urutan kedua Kabupaten Tanggamus seluas 54.256 ha, disusul Kabupaten Lampung Utara seluas 15.865 ha.

Berdasarkan Data Statitik Perkebunan Kopi di Lampung (2011) --yang dikutip dari Kementerian Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan, dari luasan kebun kopi 59.357 ha tersebut hasil produksi biji kering per tahun mencapai 29.712 ton per hektare.

Sedangkan data yang dimiliki Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Lampung Barat menyebutkan, luas lahan tanaman kopi di kabupaten tersebut mencapai 60.347,7 hektare, dengan produksi biji kopi keringnya 29.712 ton per tahun per hektare.

Perkebunan kopi robusta di Lampung tumbuh di dataran tinggi pada ketinggian 400 – 700 meter di atas permukaan laut dengan temperatur 21 – 24 derajat celcius.

Di Kabupaten Lampung Barat dan Tanggamus memang kontur daerahnya berbukit-bukit, sangat cocok dengan tanaman kopi robusta.

Menurut Iwan, salah seorang petani kopi di Balik Bukit, Liwa, Lampung Barat, sebagian besar penduduk kabupaten tersebut berprofesi sebagai petani kopi. Selain itu, ada yang bercocok tanam lainnya, termasuk petani damar mata kucing.

”Kalau dulu, petani kopi di Lampung Barat kaya-kaya. Sekali panen kopi mereka bisa membeli apa saja untuk kebutuhan rumah tangganya, termasuk kulkas padahal belum ada aliran listrik zaman itu,” tutur Iwan.

Namun, beberapa tahun belakangan, petani kopi di daerah tersebut mulai surut kehidupannya. Tanaman kopi tidak dapat diandalkan lagi untuk memodali kebutuhan rumah tangganya. Produksi biji kopi terus menyusut per hektarenya, harganya pun anjlok.

”Kalau panen kopi, sudah tidak seperti dulu lagi, harga sudah pasti turun,” ujarnya.

Tanaman kopi yang dimiliki petani rata-rata turun temurun. Tanaman tua yang menyebabkan produksi biji kopi terus merosot, sedangkan peremajaan tanaman kopi terhambat, selain karena petaninya sendiri tidak mau, juga tidak seriusnya pemerintah untuk melakukan program peremajaan tanaman kopi di Lampung Barat.

”Pembinaan dan pelatihan kepada petani kopi di sini memang masih kurang,” katanya (Republika, 7/8/19).

Masuknya kopi impor asal Negara Vietnam turut menyuramkan produk kopi asli dari Lampung. Ulah para importir telah merusak tatanan perkopian di Lampung. Kopi impor dengan kualitas buruk dan harga murah diduga dioplos dengan kopi lokal lalu diekspor kembali, sehingga kualitas kopi asal Lampung merosot di mata dunia.

Oleh karena itu, pemerintah daerah seharusnya terus gencar melakukan pembinaan dan pelatihan kepada para petani kopi di Lampung, terutama di Kabupaten Lampung Barat dan Tanggamus.

Perlunya program peremajaan tanaman kopi yang tua, akan meningkatkan produksi dan mutu biji kopi tersebut agar kopi asal Lampung dapat diterima di negara ekspor.

Untuk membangkitkan lagi kejayaan petani kopi di Kabupaten Lampung Barat khususnya, maka perlu proses mengubah budaya berkebun kopi yang menuju modern.

Selama ini, sebagian besar petani kopi di daerah tersebut mewarisi budaya berkebun secara turun temurun yang sebagian kurang cocok lagi di era sekarang, yaitu mulai dari pemupukan, pemeliharaan, panen, penjemuran, sampai menjaga mutu biji kopinya.

Oleh karena itu, kebijakan Gubernur Lampung untung ngopi di hari Jumat kepada masyarakat mesti juga dibarengi dengan kebijakan peningkatan petani kopi. (*)

Editor : gueade

TAG:

Berita Lainnya