Murka Mantan Nahkoda
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Murka Mantan Nahkoda

...
RILIS.ID

17 Juni 2021 - 14:53 WIB
Perspektif | RILISID
...
Oleh: Wirahadikusumah

RILISID, — Anda mungkin sudah menonton video itu. Yang viral itu. Di Kabupaten Solok, Sumatera Barat itu. Yang bupatinya murka semurka-murkanya itu. Kepada perangkat ASN di Puskesmas Tanjung Bingkung itu.

Bupati itu bernama Epyardi Asda. Ia meradang saat sidak menemukan Unit Gawat Darurat (UGD) puskesmas itu sudah tutup. Padahal, waktu menunjukkan masih pukul 17.00 WIB.

Di video itu, kepala puskesmas dibantu pegawai yang lain mencoba menjelaskan: mereka sudah bekerja sesuai jam kerja. Sesuai kesepakatan bersama. Yang kesepakatan itu dituangkan dalam bentuk surat.

Mendengar penjelasan itu, hati Epyardi bukannya mendingin. Ia makin mengamuk. Sampai merobek-robek surat kesepakatan tersebut.

”Di mana-mana di dunia, yang namanya UGD itu buka 24 jam!” teriaknya.

Diketahui, Epyardi sidak lantaran mendapatkan informasi, jika puskesmas itu sempat menolak melayani pasien kecelakaan. Yang kecelakaannya itu terjadi tidak jauh dari puskesmas tersebut.

Alasan penolakan lantaran pasien kecelakaan itu datang di luar jam kerja puskesmas.

Pada video itu, Epyardi juga sempat protes ke pemerintah pusat. Karena tak bisa menindak ASN di puskesmas itu.

Sebab, ia terganjal aturan itu. Yang tidak bisa memutasi ASN, sebelum genap enam bulan dilantik sebagai bupati.

Pastinya, tindakan Epyardi itu menuai dukungan. Dari netizen Indonesia. Berita ngamuk-ngamuknya itu pun sempat masuk deretan di Google Trending.

Usai menonton dan membaca berita bupati itu, saya tertarik mengetahui sosok Epyardi.

Ternyata, ia adalah mantan pelaut. Jabatannya pun di kapal laut sudah mentok: kapten. Atau nahkoda.

Informasi yang saya dapat dari wikipedia, setelah lulus dari SMA Negeri Solok, Epyardi menempuh pendidikan kepelautan. Ia masuk Pendidikan Perwira Pelayaran Besar (P3B) Semarang. Lalu lulus pendidikan sertifikasi kepelautan ahli nautika tingkat (ANT) 3. Setelah lulus, ia bekerja sebagai kapten kapal di Singapore Shipping Company. Hingga 1996.

Kemudian, ia melanjutkan pendidikan di Akademi Ilmu Pelayaran (AIP) Jakarta (1990-1991), dan lulus ANT 2.

Setelah tidak lagi menjadi nahkoda, ia menjadi Komisaris Utama PT Kaluku Maritima Utama (1997-2004). Yang juga bergerak di bidang kepelautan.

Selanjutnya, ia merampungkan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta (2003-2004). Dan lulus ANT 1 atau setingkat S-1. Di kampus yang sama, ia menyelesaikan pendidikan dan meraih gelar S-2 Master Mariner (M. Mar) pada 2005.

Lalu, Epyardi menjabat sebagai anggota DPR selama tiga periode. Sejak 2004 hingga 2019. Dapil Sumatera Barat I. Dari partai PPP.

Saat duduk di DPR, terjadi perpecahan fraksi PPP. Antara kubu yang diketuai Hasrul Azwar dengan yang diketuai Epyardi Asda. Di tengah tarik ulur pembahasan alat kelengkapan dewan, Epyardi menyatakan dirinya adalah Ketua Fraksi PPP yang sah.

Epyardi menyebut Hasrul Azwar adalah ketua fraksi sementara, karena hanya ditandatangani Wakil Ketua Umum Emron Pangkapi dan Sekjen Romahurmuziy saja.

Sementara, Surat Keputusan DPP PPP yang mengutus dirinya, ditandatangani Ketua Umum Suryadharma Ali dan Wasekjen Ahmad Gozali Harahap.

Pada 2018, Epyardi memutuskan pindah ke Partai Amanat Nasional (PAN). Posisinya di DPR diganti Hasanuddin. Ia sempat kembali maju di pemilu 2019 dapil DKI Jakarta II. Yang meliputi Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, dan luar negeri.

Epyardi lalu mencalonkan diri menjadi calon Ketua Umum PPP. Pada Muktamar ke-VIII. Di Hotel Grand Sahid, Jakarta. Tetapi di tengah pencalonannya, ia mengundurkan diri. Karena melihat kondisi partai yang terus menerus dirundung konflik.

”Silakan yang nafsu, ambil. Saya enggak tega ambil,” ujar Epyardi di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Jumat (31/10/2014).

Usai membaca biografi Epyardi itu, saya cukup kagum dengannya. Pun dengan murkanya di puskesmas itu.

Saya pun berharap, Epyardi bisa membawa Solok lebih maju. Tentu dengan syarat: istiqomah dengan sikap tegasnya itu. Untuk membela rakyatnya itu.

Terlebih, sudah ada contohnya dulu. Bagaimana seorang gubernur marah-marah di rumah sakit, tak lama kemudian malah ditangkap KPK.

Namun, sebagai mantan pelaut, saya yakin ia tahu: lautan yang tenang tak jarang menjadi badai.

Dan juga tahu, kata Franklin D. Roosevelt itu: untuk mencapai pelabuhan, harus berlayar terlebih dahulu. Berlayar, bukan mengikatnya pada jangkar. Berlayar, bukan melintas!(Wirahadikusumah)

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya

Murka Mantan Nahkoda

...
RILIS.ID

17 Juni 2021 - 14:53 WIB
Perspektif | RILISID
...
Oleh: Wirahadikusumah

RILISID, — Anda mungkin sudah menonton video itu. Yang viral itu. Di Kabupaten Solok, Sumatera Barat itu. Yang bupatinya murka semurka-murkanya itu. Kepada perangkat ASN di Puskesmas Tanjung Bingkung itu.

Bupati itu bernama Epyardi Asda. Ia meradang saat sidak menemukan Unit Gawat Darurat (UGD) puskesmas itu sudah tutup. Padahal, waktu menunjukkan masih pukul 17.00 WIB.

Di video itu, kepala puskesmas dibantu pegawai yang lain mencoba menjelaskan: mereka sudah bekerja sesuai jam kerja. Sesuai kesepakatan bersama. Yang kesepakatan itu dituangkan dalam bentuk surat.

Mendengar penjelasan itu, hati Epyardi bukannya mendingin. Ia makin mengamuk. Sampai merobek-robek surat kesepakatan tersebut.

”Di mana-mana di dunia, yang namanya UGD itu buka 24 jam!” teriaknya.

Diketahui, Epyardi sidak lantaran mendapatkan informasi, jika puskesmas itu sempat menolak melayani pasien kecelakaan. Yang kecelakaannya itu terjadi tidak jauh dari puskesmas tersebut.

Alasan penolakan lantaran pasien kecelakaan itu datang di luar jam kerja puskesmas.

Pada video itu, Epyardi juga sempat protes ke pemerintah pusat. Karena tak bisa menindak ASN di puskesmas itu.

Sebab, ia terganjal aturan itu. Yang tidak bisa memutasi ASN, sebelum genap enam bulan dilantik sebagai bupati.

Pastinya, tindakan Epyardi itu menuai dukungan. Dari netizen Indonesia. Berita ngamuk-ngamuknya itu pun sempat masuk deretan di Google Trending.

Usai menonton dan membaca berita bupati itu, saya tertarik mengetahui sosok Epyardi.

Ternyata, ia adalah mantan pelaut. Jabatannya pun di kapal laut sudah mentok: kapten. Atau nahkoda.

Informasi yang saya dapat dari wikipedia, setelah lulus dari SMA Negeri Solok, Epyardi menempuh pendidikan kepelautan. Ia masuk Pendidikan Perwira Pelayaran Besar (P3B) Semarang. Lalu lulus pendidikan sertifikasi kepelautan ahli nautika tingkat (ANT) 3. Setelah lulus, ia bekerja sebagai kapten kapal di Singapore Shipping Company. Hingga 1996.

Kemudian, ia melanjutkan pendidikan di Akademi Ilmu Pelayaran (AIP) Jakarta (1990-1991), dan lulus ANT 2.

Setelah tidak lagi menjadi nahkoda, ia menjadi Komisaris Utama PT Kaluku Maritima Utama (1997-2004). Yang juga bergerak di bidang kepelautan.

Selanjutnya, ia merampungkan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta (2003-2004). Dan lulus ANT 1 atau setingkat S-1. Di kampus yang sama, ia menyelesaikan pendidikan dan meraih gelar S-2 Master Mariner (M. Mar) pada 2005.

Lalu, Epyardi menjabat sebagai anggota DPR selama tiga periode. Sejak 2004 hingga 2019. Dapil Sumatera Barat I. Dari partai PPP.

Saat duduk di DPR, terjadi perpecahan fraksi PPP. Antara kubu yang diketuai Hasrul Azwar dengan yang diketuai Epyardi Asda. Di tengah tarik ulur pembahasan alat kelengkapan dewan, Epyardi menyatakan dirinya adalah Ketua Fraksi PPP yang sah.

Epyardi menyebut Hasrul Azwar adalah ketua fraksi sementara, karena hanya ditandatangani Wakil Ketua Umum Emron Pangkapi dan Sekjen Romahurmuziy saja.

Sementara, Surat Keputusan DPP PPP yang mengutus dirinya, ditandatangani Ketua Umum Suryadharma Ali dan Wasekjen Ahmad Gozali Harahap.

Pada 2018, Epyardi memutuskan pindah ke Partai Amanat Nasional (PAN). Posisinya di DPR diganti Hasanuddin. Ia sempat kembali maju di pemilu 2019 dapil DKI Jakarta II. Yang meliputi Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, dan luar negeri.

Epyardi lalu mencalonkan diri menjadi calon Ketua Umum PPP. Pada Muktamar ke-VIII. Di Hotel Grand Sahid, Jakarta. Tetapi di tengah pencalonannya, ia mengundurkan diri. Karena melihat kondisi partai yang terus menerus dirundung konflik.

”Silakan yang nafsu, ambil. Saya enggak tega ambil,” ujar Epyardi di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Jumat (31/10/2014).

Usai membaca biografi Epyardi itu, saya cukup kagum dengannya. Pun dengan murkanya di puskesmas itu.

Saya pun berharap, Epyardi bisa membawa Solok lebih maju. Tentu dengan syarat: istiqomah dengan sikap tegasnya itu. Untuk membela rakyatnya itu.

Terlebih, sudah ada contohnya dulu. Bagaimana seorang gubernur marah-marah di rumah sakit, tak lama kemudian malah ditangkap KPK.

Namun, sebagai mantan pelaut, saya yakin ia tahu: lautan yang tenang tak jarang menjadi badai.

Dan juga tahu, kata Franklin D. Roosevelt itu: untuk mencapai pelabuhan, harus berlayar terlebih dahulu. Berlayar, bukan mengikatnya pada jangkar. Berlayar, bukan melintas!(Wirahadikusumah)

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya