Mufidah Jusuf Kalla, Ketulusan dan Cinta
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Mufidah Jusuf Kalla, Ketulusan dan Cinta

...
RILIS.ID

13 Februari 2017 - 17:16 WIB
Inspirasi | RILISID
...
Null

RILISID, — Suaranya lembut, tampilan dan sikapnya tenang. Itulah Mufidah Miad Saad. Seorang ibu yang setia menopang karir suaminya, Wakil Presiden Jusuf Kalla. Keberhasilan JK dalam dunia usaha dan politik tak terlepas dari dukungan wanita Minangkabau kelahiran Sibolga 12 Februari 1943 ini.

Bak kata pepatah, asam di gunung ikan di laut bertemu dalam kuali. Itulah yang terjadi pada pasangan ini. Khasnya orang Minang yang berjiwa perantau, begitu pula keluarga Mufidah. Ayahnya, H. Buya Mi'ad dan Ibu Sitti Baheram dari Sumatera Barat merantau ke Sibolga, Sumatera Utara hingga ke Makassar Sulawesi Selatan.

Di kota Angin Mamiri, Mufidah akhirnya bertemu JK. Mufidah yang biasa dipanggil Ida adalah gadis belia yang bertemu pandang dengan JK untuk pertama kalinya saat menginjak bangku SMA Negeri III Makassar. Di masa sekolah inilah, tahun 1962 awal mula persemaian cinta Mufidah dengan JK, pria Bugis kelahiran Watampone 15 Mei 1942.

Mufidah menyebut kalau JK sudah menunjukkan ketertarikan kepadanya sejak SMA. Namun Ida menanggapinya biasa saja. Dan memang, tidak mudah bagi JK mendapatkan cinta Ida.

Setelah tammat SMA, Ida bekerja di bank BNI 1946. Sambil bekerja, ia melanjutkan pendidikannya di di Fakultas Ekonomi Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Mengetahui Mufidah bekerja sambuil kuliah, dua hal langsung dilakukan JK. Pertama, menabung di BNI 1946 dan menjadi asisten dosen di UMI Makassar. Tujuannya tak lain untuk bertemu dengan pujaan hatinya. “Seringkali bahkan nyaris setiap hari, Bapak datang menabung,” kenang Ida, penuh senyum mengenang peristiwa puluhan tahun silam itu.

Di kampus pun demikian. Sebagai mahasiswi UMI Makassar yang diajar oleh JK, suatu ketika Ida lupa membawa pulpen dan sang asisten dosen langsung menawarinya pulpen berwarna keemasan. Ida menerima dengan perasaan senang bercampur malu.

Sekali waktu Ida diuji oleh teman-teman JK. Ia disuruh memilih kartu bertuliskan “ARA”, kartu nama kelompok belajar JK. Tak mengerti apa maksudnya, Ida mengambil saja kartu itu. Ida lalu diberitahu, kalau kartu tersebut sebagai tanda jadi hubungannya dengan JK. Ida bingung, sementara JK dan empat orang sahabatnya bersorak kegirangan lalu merayakannya berkeliling kota dengan dokar.

Walau sudah diuji berulangkali, sikap Ida tak berubah. Biasa saja! JK tak kehabisan akal. JK memberanikan diri memperlihatkan dirinya berboncengan dengan seorang wanita. Teman sekampusnya di Unhas, yang memang menaruh hati padanya. Mengetahui hal tersebut, Mufidah meminta JK datang ke rumahnya. “Malam itu saya bilang ke Bapak, saya berterima kasih ke Bapak. Selama ini, saya berat mengatakannya, maklum saya ini orang Minang dan ayah-ibu saya berat melepas saya untuk orang Bugis. Jadikan sajalah yang dibonceng di kampus itu,” kenang Ida.

Mufidah lalu menyebutkan merasa bersyukur JK menemukan tambatan hatinya. Ia meminta agar hubungan mereka tetap terjaga seperti saudara, pintu rumah selalu terbuka untuk JK. Lalu Ida mengulurkan tangan, menyalami JK.

Namun JK menolak uluran tangan tersebut. “Saya tidak suka sama orang itu, dan saya betul-betul sudah salah. Saya cuma ingin memanas-manasi Ida,” kata Ida, menirukan ucapan JK. Saat itu Ida merasa cemburu, namun tak sedikitpun memperlihatkannya. Ia tetap saja tenang. Akhirnya JK beranjak pulang dengan lunglai disaksikan oleh seluruh saudara Ida. Kesedihan JK semakin lengkap saat pulang ke rumah, adiknya sedang memutar gramofon yang mendendangkan lagu “Patah Hati” dari Rachmat Kartolo.

Bukan JK kalau lama terpekur. JK segera menemui Paman Mufidah dan bertanya kemungkinan melamar Ida. Paman itu malah menyarankannya agar langsung melamar ke orangtua Ida. Dan saat itulah palu godam menghujam tubuh JK. Ia kemudian tahu, kalau Ida sudah dijodohkan dengan seorang pria asal Minang, yang sedang menempuh pendidikan di Amerika.

JK langsung menemui Ida dan mengkonfirmasi hal tersebut. “Saya memang dijodohkan. Ia sekarang bersekolah di Amerika,” kata Ida terus terang.

“Jadi kamu terima tidak? Ia gagah dan saya tidak? Saya tidak terima perjodohan itu! Bagaimana dengan saya? Kamu terima saya ya?” JK mendesak, galau.

“Kita lihat saja nanti...” timpal Ida, tenang.

Beberapa hari dari pertemuannya dengan Ida itu, JK memberanikan diri langsung melamar Mufidah. Lamaran Kalla tidak langsung diterima oleh Buya Mi'ad dan Sitti Baheram, orangtua Ida. Sebab, bagaimanapun mereka telah menyiapkan jodoh untuk putri tunggalnya.

Akhirnya mereka sepakat menyerahkan persoalan sepenuhnya kepada Ida. Namun sebagaimana tipikal wanita Minang kebanyakan, Ida yang putri tunggal dari sebelas bersaudara balik menyerahkan pengambilan keputusan kepada orang tuanya. “Saya bilang, terserah Emak dan Ayah. Kalau seandainya diterima, Alhamdulillah. Kalau seandainya tidak, ya tidak apa-apa juga.”

“Karena kalimat itu, orangtua saya berpikir saya setuju. Dan lamaran JK pun diterima,” urai Mufidah. Keduanya lalu bertunangan tahun 1966 dan menikah setahun kemudian, menunggu Ida menyelesaikan kuliahnya.

Kala itu JK sudah terkemuka sebagai politisi muda Golkar, mantan aktivis KAMMI, anggota DPRD Sulawesi Selatan, pendiri Sekber Golkar Sulawesi Selatan.Walau karir politik JK sedang menanjak, namun mertunya mengultimatum suaminya menentukan pilihan. Meneruskan usaha NV. Hadji Kalla atau tidak?

Saat itu Mufidah mengandung anak kedua, NV. Hadji Kalla mengalami kesulitan setelah Presiden Soekarno mengeluarkan kebijakan sanering, berupa pemangkasan nilai mata uang rupiah seribu kali lebih rendah, misal dari Rp 1.000 menjadi Rp 1. Akhirnya, JK pun memutuskan memilih meneruskan usaha keluarga. Di tangan JK, usaha NV. Hadji Kalla berkembang dari sebelumnya bergerak di bidang hasil bumi menanjak ke usaha distributor mobil. Mufidah ikut andil di awal kebangkitan NV. Hadji Kalla. Ia ikut bekerja sebagai sekretaris pribadi JK merangkap juru keuangan perusahaan. “Tahun 1969, NV. Hadji Kalla sudah berkembang. Saat itu, saya masih bekerja sebagai juru keuangan perusahaan," kenangnya.

Di balik pria hebat, selalu terdapat perempuan hebat. Adagium inilah yang tepat untuk Mufidah. Ketulusan dan cintanya “mengantar” JK menjadi Wakil Presiden RI untuk yang kedua kalinya.

Aisyah Inara

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya

Mufidah Jusuf Kalla, Ketulusan dan Cinta

...
RILIS.ID

13 Februari 2017 - 17:16 WIB
Inspirasi | RILISID
...

RILISID, — Suaranya lembut, tampilan dan sikapnya tenang. Itulah Mufidah Miad Saad. Seorang ibu yang setia menopang karir suaminya, Wakil Presiden Jusuf Kalla. Keberhasilan JK dalam dunia usaha dan politik tak terlepas dari dukungan wanita Minangkabau kelahiran Sibolga 12 Februari 1943 ini.

Bak kata pepatah, asam di gunung ikan di laut bertemu dalam kuali. Itulah yang terjadi pada pasangan ini. Khasnya orang Minang yang berjiwa perantau, begitu pula keluarga Mufidah. Ayahnya, H. Buya Mi'ad dan Ibu Sitti Baheram dari Sumatera Barat merantau ke Sibolga, Sumatera Utara hingga ke Makassar Sulawesi Selatan.

Di kota Angin Mamiri, Mufidah akhirnya bertemu JK. Mufidah yang biasa dipanggil Ida adalah gadis belia yang bertemu pandang dengan JK untuk pertama kalinya saat menginjak bangku SMA Negeri III Makassar. Di masa sekolah inilah, tahun 1962 awal mula persemaian cinta Mufidah dengan JK, pria Bugis kelahiran Watampone 15 Mei 1942.

Mufidah menyebut kalau JK sudah menunjukkan ketertarikan kepadanya sejak SMA. Namun Ida menanggapinya biasa saja. Dan memang, tidak mudah bagi JK mendapatkan cinta Ida.

Setelah tammat SMA, Ida bekerja di bank BNI 1946. Sambil bekerja, ia melanjutkan pendidikannya di di Fakultas Ekonomi Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Mengetahui Mufidah bekerja sambuil kuliah, dua hal langsung dilakukan JK. Pertama, menabung di BNI 1946 dan menjadi asisten dosen di UMI Makassar. Tujuannya tak lain untuk bertemu dengan pujaan hatinya. “Seringkali bahkan nyaris setiap hari, Bapak datang menabung,” kenang Ida, penuh senyum mengenang peristiwa puluhan tahun silam itu.

Di kampus pun demikian. Sebagai mahasiswi UMI Makassar yang diajar oleh JK, suatu ketika Ida lupa membawa pulpen dan sang asisten dosen langsung menawarinya pulpen berwarna keemasan. Ida menerima dengan perasaan senang bercampur malu.

Sekali waktu Ida diuji oleh teman-teman JK. Ia disuruh memilih kartu bertuliskan “ARA”, kartu nama kelompok belajar JK. Tak mengerti apa maksudnya, Ida mengambil saja kartu itu. Ida lalu diberitahu, kalau kartu tersebut sebagai tanda jadi hubungannya dengan JK. Ida bingung, sementara JK dan empat orang sahabatnya bersorak kegirangan lalu merayakannya berkeliling kota dengan dokar.

Walau sudah diuji berulangkali, sikap Ida tak berubah. Biasa saja! JK tak kehabisan akal. JK memberanikan diri memperlihatkan dirinya berboncengan dengan seorang wanita. Teman sekampusnya di Unhas, yang memang menaruh hati padanya. Mengetahui hal tersebut, Mufidah meminta JK datang ke rumahnya. “Malam itu saya bilang ke Bapak, saya berterima kasih ke Bapak. Selama ini, saya berat mengatakannya, maklum saya ini orang Minang dan ayah-ibu saya berat melepas saya untuk orang Bugis. Jadikan sajalah yang dibonceng di kampus itu,” kenang Ida.

Mufidah lalu menyebutkan merasa bersyukur JK menemukan tambatan hatinya. Ia meminta agar hubungan mereka tetap terjaga seperti saudara, pintu rumah selalu terbuka untuk JK. Lalu Ida mengulurkan tangan, menyalami JK.

Namun JK menolak uluran tangan tersebut. “Saya tidak suka sama orang itu, dan saya betul-betul sudah salah. Saya cuma ingin memanas-manasi Ida,” kata Ida, menirukan ucapan JK. Saat itu Ida merasa cemburu, namun tak sedikitpun memperlihatkannya. Ia tetap saja tenang. Akhirnya JK beranjak pulang dengan lunglai disaksikan oleh seluruh saudara Ida. Kesedihan JK semakin lengkap saat pulang ke rumah, adiknya sedang memutar gramofon yang mendendangkan lagu “Patah Hati” dari Rachmat Kartolo.

Bukan JK kalau lama terpekur. JK segera menemui Paman Mufidah dan bertanya kemungkinan melamar Ida. Paman itu malah menyarankannya agar langsung melamar ke orangtua Ida. Dan saat itulah palu godam menghujam tubuh JK. Ia kemudian tahu, kalau Ida sudah dijodohkan dengan seorang pria asal Minang, yang sedang menempuh pendidikan di Amerika.

JK langsung menemui Ida dan mengkonfirmasi hal tersebut. “Saya memang dijodohkan. Ia sekarang bersekolah di Amerika,” kata Ida terus terang.

“Jadi kamu terima tidak? Ia gagah dan saya tidak? Saya tidak terima perjodohan itu! Bagaimana dengan saya? Kamu terima saya ya?” JK mendesak, galau.

“Kita lihat saja nanti...” timpal Ida, tenang.

Beberapa hari dari pertemuannya dengan Ida itu, JK memberanikan diri langsung melamar Mufidah. Lamaran Kalla tidak langsung diterima oleh Buya Mi'ad dan Sitti Baheram, orangtua Ida. Sebab, bagaimanapun mereka telah menyiapkan jodoh untuk putri tunggalnya.

Akhirnya mereka sepakat menyerahkan persoalan sepenuhnya kepada Ida. Namun sebagaimana tipikal wanita Minang kebanyakan, Ida yang putri tunggal dari sebelas bersaudara balik menyerahkan pengambilan keputusan kepada orang tuanya. “Saya bilang, terserah Emak dan Ayah. Kalau seandainya diterima, Alhamdulillah. Kalau seandainya tidak, ya tidak apa-apa juga.”

“Karena kalimat itu, orangtua saya berpikir saya setuju. Dan lamaran JK pun diterima,” urai Mufidah. Keduanya lalu bertunangan tahun 1966 dan menikah setahun kemudian, menunggu Ida menyelesaikan kuliahnya.

Kala itu JK sudah terkemuka sebagai politisi muda Golkar, mantan aktivis KAMMI, anggota DPRD Sulawesi Selatan, pendiri Sekber Golkar Sulawesi Selatan.Walau karir politik JK sedang menanjak, namun mertunya mengultimatum suaminya menentukan pilihan. Meneruskan usaha NV. Hadji Kalla atau tidak?

Saat itu Mufidah mengandung anak kedua, NV. Hadji Kalla mengalami kesulitan setelah Presiden Soekarno mengeluarkan kebijakan sanering, berupa pemangkasan nilai mata uang rupiah seribu kali lebih rendah, misal dari Rp 1.000 menjadi Rp 1. Akhirnya, JK pun memutuskan memilih meneruskan usaha keluarga. Di tangan JK, usaha NV. Hadji Kalla berkembang dari sebelumnya bergerak di bidang hasil bumi menanjak ke usaha distributor mobil. Mufidah ikut andil di awal kebangkitan NV. Hadji Kalla. Ia ikut bekerja sebagai sekretaris pribadi JK merangkap juru keuangan perusahaan. “Tahun 1969, NV. Hadji Kalla sudah berkembang. Saat itu, saya masih bekerja sebagai juru keuangan perusahaan," kenangnya.

Di balik pria hebat, selalu terdapat perempuan hebat. Adagium inilah yang tepat untuk Mufidah. Ketulusan dan cintanya “mengantar” JK menjadi Wakil Presiden RI untuk yang kedua kalinya.

Aisyah Inara

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya