Mengenang Pepo dan Memo
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Mengenang Pepo dan Memo

...
RILIS.ID
Jakarta
1 Juni 2021 - 17:01 WIB
Perspektif | RILISID
...
FOTO: ISTIMEWA

RILISID, Jakarta — Awal Ibu Ani didiagnosa menderita kanker darah dan harus dirawat di Singapura, saya mencoba menebak-nebak. Apakah Pak SBY akan meninggalkan aktivitas politiknya yang baru saja ikut mendukung salah satu capres 2019.

Kehadirannya sebagai salah satu pemain penting dan berpengalaman di jagad perpolitikan Indonesia sangat dibutuhkan dan sangat menjual.

Tak cuma untuk menggolkan kemenangan bagi capres yang didukungnya, juga guna memastikan kelanjutan ekistensi Partai Demokrat. Partai yang didirikannya, sebagai ketua umumnya, dan yang telah mengantarkannya menjadi presiden selama 10 tahun pada 2004-2014.

Lalu, setelah Bu Ani masuk RS, rasa ingin tahu saya bergeser. Apakah Pak SBY akan penuh waktu mendampingi Bu Ani di RS. Atau akan "on-off." Sesekali menjaga, lalu pergi melakukan tugas politik dan menyerahkan giliran jaga kepada anak-anak, menantu, atau suster/dokter.

Ternyata, Pak SBY memilih jalan yang tidak diduga banyak orang. Pak SBY berani meninggalkan aktivitas politiknya dan sepenuh waktu mendampingi Bu Ani. Menjadi suami siaga penuh waktu sampai nafas terakhir Bu Ani.

Total sekitar 4 bulan Pak SBY mendampingi siang malam di RS National University Hospital (NUH). Tak pernah sekalipun Pak SBY kembali ke Indonesia hingga kematian mengakhiri kebersamaan mereka selama 43 tahun tadi pagi.

Dan ketika jenazah dibawa ke Kedubes RI di Singapura pada sore ini, Pak SBY dengan mata sembab dengan kesedihan yang tak bisa ditutupi oleh senyum manisnya, bersama kedua putranya, ikut menggotong peti jenazah.

***

Tak sedikit yang terlibat dalam politik atau jabatan-jabatan publik yang keluarganya berantakan. Mereka bahkan dengan sadar membarter atau menukar-tambah keluarganya dengan obsesi, idealisme dan pemenuhan harapan yang sementara, fana dan (demi) kepuasan sesaat.

Juga tak kalah banyak yang menjadikan kesibukan di politik dan jabatan publik atau pekerjaan lainnya sebagai tempat pelarian, untuk memenuhi dorongan jiwa petualangan, dan mengorbankan keluarganya. Mereka tak hanya berselingkuh dengan profesi, cita-cita dan idealisme mereka. Tetapi, mereka juga menikah dengannya.

Kehidupan berkeluarga tidaklah mudah. Jatuh bangun adalah salah satu ciri wajar keluarga yang berjalan sehat. Kehidupan berkeluarga tak selalu sehat. Kadang bisa sakit berat. Parah atau kronis.

Tak sedikit yang karena ketidaktahanan dan juga karena kepicikan, lalu tergoda dan terjatuh pada pilihan yang terlihat gagah berani namun sebenarnya cuma cara pengecut dan pecundang.

Memilih jalan rusak, dan yang merusak. Jalan yang mengorbankan keluarga,  satu-satunya harta yang paling berharga yang diberikan Tuhan kepada manusia, setelah Diri-Nya sendiri.

Sama seperti keluarga pada umumnya, saya yakin Pepo dan Memo, demikian panggilan sayang dari anak-anak mereka kepada mereka, juga mengalami dinamika wajar kehidupan keluarga, yang jatuh bangun.

Tetapi, sejauh yang bisa dinilai dari luar dalam waktu yang cukup lama hingga hari ini ketika Bu Ani menghembuskan nafas terakhirnya, Pepo-Memo memilih jalan keabadian, yakni mengutamakan keluarga di atas segalanya. Hingga kematian memisahkan.

Sungguh sebuah wujud kesetiaan sampai akhir yang sempurna. Mereka pasangan teladan dalam kesetiaan.

Sebelumnya, kisah keteladanan serupa ini disaksikan rakyat negeri ini dari pasangan Ibu Ainun dan Pak Habibie.

Kalau Anda memerlukan contoh pria dan wanita sejati, yang setia sampai akhir demi keluarga, dari sekian banyak teladan yang sudah pernah ada, saya mengajukan dua contoh terdekat ini. Pak Habibie-Bu Ainun dan hari ini, teladan itu bertambah, Pak SBY-Bu Ani. 

Selamat jalan, Bu Ani. Salut dan hormat bagi Pak SBY yang setia sampai akhir.

Penulis: Etis Nehe, Pejaten Village, Jakarta Selatan, Sabtu 1 Juni 2019.

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Mengenang Pepo dan Memo

...
RILIS.ID
Jakarta
1 Juni 2021 - 17:01 WIB
Perspektif | RILISID
...
FOTO: ISTIMEWA

RILISID, Jakarta — Awal Ibu Ani didiagnosa menderita kanker darah dan harus dirawat di Singapura, saya mencoba menebak-nebak. Apakah Pak SBY akan meninggalkan aktivitas politiknya yang baru saja ikut mendukung salah satu capres 2019.

Kehadirannya sebagai salah satu pemain penting dan berpengalaman di jagad perpolitikan Indonesia sangat dibutuhkan dan sangat menjual.

Tak cuma untuk menggolkan kemenangan bagi capres yang didukungnya, juga guna memastikan kelanjutan ekistensi Partai Demokrat. Partai yang didirikannya, sebagai ketua umumnya, dan yang telah mengantarkannya menjadi presiden selama 10 tahun pada 2004-2014.

Lalu, setelah Bu Ani masuk RS, rasa ingin tahu saya bergeser. Apakah Pak SBY akan penuh waktu mendampingi Bu Ani di RS. Atau akan "on-off." Sesekali menjaga, lalu pergi melakukan tugas politik dan menyerahkan giliran jaga kepada anak-anak, menantu, atau suster/dokter.

Ternyata, Pak SBY memilih jalan yang tidak diduga banyak orang. Pak SBY berani meninggalkan aktivitas politiknya dan sepenuh waktu mendampingi Bu Ani. Menjadi suami siaga penuh waktu sampai nafas terakhir Bu Ani.

Total sekitar 4 bulan Pak SBY mendampingi siang malam di RS National University Hospital (NUH). Tak pernah sekalipun Pak SBY kembali ke Indonesia hingga kematian mengakhiri kebersamaan mereka selama 43 tahun tadi pagi.

Dan ketika jenazah dibawa ke Kedubes RI di Singapura pada sore ini, Pak SBY dengan mata sembab dengan kesedihan yang tak bisa ditutupi oleh senyum manisnya, bersama kedua putranya, ikut menggotong peti jenazah.

***

Tak sedikit yang terlibat dalam politik atau jabatan-jabatan publik yang keluarganya berantakan. Mereka bahkan dengan sadar membarter atau menukar-tambah keluarganya dengan obsesi, idealisme dan pemenuhan harapan yang sementara, fana dan (demi) kepuasan sesaat.

Juga tak kalah banyak yang menjadikan kesibukan di politik dan jabatan publik atau pekerjaan lainnya sebagai tempat pelarian, untuk memenuhi dorongan jiwa petualangan, dan mengorbankan keluarganya. Mereka tak hanya berselingkuh dengan profesi, cita-cita dan idealisme mereka. Tetapi, mereka juga menikah dengannya.

Kehidupan berkeluarga tidaklah mudah. Jatuh bangun adalah salah satu ciri wajar keluarga yang berjalan sehat. Kehidupan berkeluarga tak selalu sehat. Kadang bisa sakit berat. Parah atau kronis.

Tak sedikit yang karena ketidaktahanan dan juga karena kepicikan, lalu tergoda dan terjatuh pada pilihan yang terlihat gagah berani namun sebenarnya cuma cara pengecut dan pecundang.

Memilih jalan rusak, dan yang merusak. Jalan yang mengorbankan keluarga,  satu-satunya harta yang paling berharga yang diberikan Tuhan kepada manusia, setelah Diri-Nya sendiri.

Sama seperti keluarga pada umumnya, saya yakin Pepo dan Memo, demikian panggilan sayang dari anak-anak mereka kepada mereka, juga mengalami dinamika wajar kehidupan keluarga, yang jatuh bangun.

Tetapi, sejauh yang bisa dinilai dari luar dalam waktu yang cukup lama hingga hari ini ketika Bu Ani menghembuskan nafas terakhirnya, Pepo-Memo memilih jalan keabadian, yakni mengutamakan keluarga di atas segalanya. Hingga kematian memisahkan.

Sungguh sebuah wujud kesetiaan sampai akhir yang sempurna. Mereka pasangan teladan dalam kesetiaan.

Sebelumnya, kisah keteladanan serupa ini disaksikan rakyat negeri ini dari pasangan Ibu Ainun dan Pak Habibie.

Kalau Anda memerlukan contoh pria dan wanita sejati, yang setia sampai akhir demi keluarga, dari sekian banyak teladan yang sudah pernah ada, saya mengajukan dua contoh terdekat ini. Pak Habibie-Bu Ainun dan hari ini, teladan itu bertambah, Pak SBY-Bu Ani. 

Selamat jalan, Bu Ani. Salut dan hormat bagi Pak SBY yang setia sampai akhir.

Penulis: Etis Nehe, Pejaten Village, Jakarta Selatan, Sabtu 1 Juni 2019.

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya