Lawan Pandemi dengan Protein Hewani
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Lawan Pandemi dengan Protein Hewani


3 April 2020 - 6:01 WIB
Perspektif | RILISID
...
Chairul Rahman Arif, Mahasiswa Peternakan Universitas Lampung; Pemimpin Umum UKPM Teknokra

RILISID, — VIRUS corona jenis baru atau Corona Virus Disease (Covid)-19 saat ini tengah membuat geger seluruh dunia. Sebanyak lebih dari 200 negara terinfeksi, termasuk Indonesia.

Virus zoonosis yang pertama kali menyerang Kota Wuhan, Cina ini diduga kuat ditularkan dari kelelawar.

Jika menyerang manusia, virus ini akan mengakibatkan pneumonia atau radang paru-paru akut. Namun, gejala dari tiap manusia yang terserang Covid-19 berbeda-beda. Tergantung kekuatan imun tubuh masing-masing.

Jika imun sedang bagus, dampak dari virus ini tidak terlalu terasa. Jika sedang lemah, maka efeknya dapat menyebabkan kematian.

Covid-19 sampai saat ini belum ditemukan obatnya. Untuk itu, penting bagi kita menjaga kebersihan dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Menjaga kebersihan dapat dilakukan dengan rajin mencuci tangan dengan sabun, mandi dua kali sehari, dan bersih-bersih rumah dengan menyemprotkan disinfektan.

Sedangkan meningkatkan imun dapat dilakukan dengan menjaga pola makan, istirahat yang cukup, dan jangan lupa konsumsi buah-buahan dan sayur. Selain itu, dirasa perlu juga mengonsumsi protein hewani guna menjaga daya tahan tubuh tetap baik.


Konsumsi Protein Hewani
Protein hewani dapat ditemukan dalam berbagai bentuk. Dalam segelas susu, seiris daging, ataupun sepotong telur.

Protein hewani terdiri atas asam amino dengan daya serap tubuh yang tinggi.

Protein hewani merupakan sumber berbagai zat gizi mikro yang penting bagi tubuh. Kandungannya seperti zat besi, vitamin B12, dan zinc diperlukan tubuh untuk membentuk antibodi.

Permasalahanya adalah saat ini konsumsi protein hewani Indonesia tergolong rendah.

Menurut data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) 2018, Indonesia rata-rata mengonsumsi 1,8 kilogram (kg) untuk daging sapi, 7 kg daging ayam, 2,3 kg daging babi, dan 0,4 kg daging kambing.

Hal ini terpaut cukup jauh jika dibanding konsumsi rata-rata dunia yang mencapai 6,4 kg daging sapi, 14 kg daging ayam, 12,2 daging babi, dan 1,7 kg daging kambing.

Dari data yang sama, rata-rata konsumsi di Malaysia sebanyak 4,8 kg daging sapi, 46 kg daging ayam, 2,6 daging babi, dan 1 kg daging kambing.

Sementara Filipina mencapai 3,1 kg daging sapi, 12,6 kg daging ayam, 15,4 kg daging babi, dan 0,5 kg daging kambing.

Thailand angka konsumsinya mencapai 1,7 kg daging sapi, 14,5 daging ayam, dan 10,4 daging babi.

Sedangkan Vietnam tingkat konsumsinya 9,9 kg daging sapi, 13 kg daging ayam, 30,4 kg daging babi dan 1,7 kg daging kambing.

Data Food and Agriculture Organization (FAO) 2018, menunjukan total konsumsi protein hewani Indonesia masih rendah dari negara-negara tetangga.

Konsumsi protein hewani Indonesia baru mencapai 8 persen. Sementara, Malaysia 30 persen, Thailand 24 persen, dan Filipina 21 persen.

Jika bicara masalah kematian akibat Covid-19, di Indonesia menunjukan angka yang cukup tinggi.

Penyakit yang diakibatkan virus ini dapat membahayakan bagi tubuh manusia dan menunjukan gejala jika ketahanan tubuh seseorang lemah. Tak heran jika angka kematian di Indonesia menyentuh angka 8 persen.

Tingginya angka kematian ini bisa jadi karena banyak faktor. Selain warga yang ngeyel dengan imbauan pemerintah untuk di rumah aja, faktor lain karena imun tubuh masyarakat lemah. Imun yang lemah dapat ditingkatkan dengan konsumsi protein hewani.

Membiasakan diri mengonsumsi produk peternakan perlu digalakkan. Agar tubuh menjadi fit dan membentuk imun yang baik pula. Sehingga angka kematian akibat Covid-19 bisa ditekan. (*)

Editor : gueade

TAG:

Berita Lainnya

Lawan Pandemi dengan Protein Hewani

...
[email protected]

3 April 2020 - 6:01 WIB
Perspektif | RILISID
...
Chairul Rahman Arif, Mahasiswa Peternakan Universitas Lampung; Pemimpin Umum UKPM Teknokra

RILISID, — VIRUS corona jenis baru atau Corona Virus Disease (Covid)-19 saat ini tengah membuat geger seluruh dunia. Sebanyak lebih dari 200 negara terinfeksi, termasuk Indonesia.

Virus zoonosis yang pertama kali menyerang Kota Wuhan, Cina ini diduga kuat ditularkan dari kelelawar.

Jika menyerang manusia, virus ini akan mengakibatkan pneumonia atau radang paru-paru akut. Namun, gejala dari tiap manusia yang terserang Covid-19 berbeda-beda. Tergantung kekuatan imun tubuh masing-masing.

Jika imun sedang bagus, dampak dari virus ini tidak terlalu terasa. Jika sedang lemah, maka efeknya dapat menyebabkan kematian.

Covid-19 sampai saat ini belum ditemukan obatnya. Untuk itu, penting bagi kita menjaga kebersihan dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Menjaga kebersihan dapat dilakukan dengan rajin mencuci tangan dengan sabun, mandi dua kali sehari, dan bersih-bersih rumah dengan menyemprotkan disinfektan.

Sedangkan meningkatkan imun dapat dilakukan dengan menjaga pola makan, istirahat yang cukup, dan jangan lupa konsumsi buah-buahan dan sayur. Selain itu, dirasa perlu juga mengonsumsi protein hewani guna menjaga daya tahan tubuh tetap baik.


Konsumsi Protein Hewani
Protein hewani dapat ditemukan dalam berbagai bentuk. Dalam segelas susu, seiris daging, ataupun sepotong telur.

Protein hewani terdiri atas asam amino dengan daya serap tubuh yang tinggi.

Protein hewani merupakan sumber berbagai zat gizi mikro yang penting bagi tubuh. Kandungannya seperti zat besi, vitamin B12, dan zinc diperlukan tubuh untuk membentuk antibodi.

Permasalahanya adalah saat ini konsumsi protein hewani Indonesia tergolong rendah.

Menurut data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) 2018, Indonesia rata-rata mengonsumsi 1,8 kilogram (kg) untuk daging sapi, 7 kg daging ayam, 2,3 kg daging babi, dan 0,4 kg daging kambing.

Hal ini terpaut cukup jauh jika dibanding konsumsi rata-rata dunia yang mencapai 6,4 kg daging sapi, 14 kg daging ayam, 12,2 daging babi, dan 1,7 kg daging kambing.

Dari data yang sama, rata-rata konsumsi di Malaysia sebanyak 4,8 kg daging sapi, 46 kg daging ayam, 2,6 daging babi, dan 1 kg daging kambing.

Sementara Filipina mencapai 3,1 kg daging sapi, 12,6 kg daging ayam, 15,4 kg daging babi, dan 0,5 kg daging kambing.

Thailand angka konsumsinya mencapai 1,7 kg daging sapi, 14,5 daging ayam, dan 10,4 daging babi.

Sedangkan Vietnam tingkat konsumsinya 9,9 kg daging sapi, 13 kg daging ayam, 30,4 kg daging babi dan 1,7 kg daging kambing.

Data Food and Agriculture Organization (FAO) 2018, menunjukan total konsumsi protein hewani Indonesia masih rendah dari negara-negara tetangga.

Konsumsi protein hewani Indonesia baru mencapai 8 persen. Sementara, Malaysia 30 persen, Thailand 24 persen, dan Filipina 21 persen.

Jika bicara masalah kematian akibat Covid-19, di Indonesia menunjukan angka yang cukup tinggi.

Penyakit yang diakibatkan virus ini dapat membahayakan bagi tubuh manusia dan menunjukan gejala jika ketahanan tubuh seseorang lemah. Tak heran jika angka kematian di Indonesia menyentuh angka 8 persen.

Tingginya angka kematian ini bisa jadi karena banyak faktor. Selain warga yang ngeyel dengan imbauan pemerintah untuk di rumah aja, faktor lain karena imun tubuh masyarakat lemah. Imun yang lemah dapat ditingkatkan dengan konsumsi protein hewani.

Membiasakan diri mengonsumsi produk peternakan perlu digalakkan. Agar tubuh menjadi fit dan membentuk imun yang baik pula. Sehingga angka kematian akibat Covid-19 bisa ditekan. (*)

Editor : gueade

TAG:

Berita Lainnya