Kenapa Perlu Capres Perempuan 2024?
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Kenapa Perlu Capres Perempuan 2024?

...
RILIS.ID
Jakarta
27 Mei 2021 - 21:03 WIB
Perspektif | RILISID
...
ILUSTRASI: RILIS.ID

RILISID, Jakarta — Oleh K. Anom, Kolumnis RILIS.ID

Sesudah Joko Widodo (Jokowi), presiden seperti apa yang ideal untuk Indonesia? Yang pasti pemimpin mendatang akan menanggung banyak pekerjaan rumah setelah sepuluh tahun kita hidup di periode yang begitu ambisius.

Sejak kemunculannya, Jokowi tampil sebagai teknokrat yang ingin berlari kencang mengejar ketertinggalan. Dan memang ia buktikan, di periode awal ia tampil memuaskan. Banyak capaian pembangunan yang ia lakukan, terutama infrastruktur.

Tapi di periode kedua, kenyataan mulai tampak bahwa pemerintah saat ini ternyata kedodoran. Problem pemborosan dan beban utang sudah menunjukkan irasional.

Ekonom Faisal Basri menyebutnya sebagai “pembangunan yang ugal-ugalan”. Di mana banyak kebijakan yang dibuat secara spontan tanpa merujuk pada perencanaan Bappenas. Alhasil, apa yang sudah diperbuat Jokowi tak akan mampu ia tutup saat menyerahkan jabatannya nanti.

Ini baru membicarakan ekonomi, belum membicarakan aspek politik, hukum, dan keadilan sosial. Periode Jokowi adalah tahun-tahun yang melelahkan dengan tingginya polarisasi kelompok nasionalis dan Islam kanan.

Perang urat syaraf hampir terjadi setiap hari. Termasuk tingginya keperpihakan pada investasi dan korporasi, yang kerap mengundang protes atas keberpihakan pada pekerja dan lingkungan.

Situasi inilah yang kelak akan ditanggungkan oleh siapapun presidennya. Karena itu yang kita butuhkan adalah sosok pemimpin yang mampu menetralisir keadaan seperti ini. Pemimpin yang menonjolkan kecermatan dan kehati-hatiannya dalam mengelola pemerintahan, serta kesungguhan menjalankan tugas utama negara, yaitu distribusi keadilan sosial.

Sementara di sisi lain, jebakan “popularitas” kerap memaksa seorang kandidat untuk tampil bombastis agar terlihat lebih unggul dan mendapat perhatian publik.

Sebagaimana yang terjadi pada Jokowi saat Pilpres atau kandidat lain pada pemilihan kepada daerah. Sehingga tak sedikit yang pontang-panting memenuhi janji yang bombastis itu.

Karena itu, kita perlu mempertimbangkan hadirnya calon presiden (capres) perempuan pada 2024. Kandidat perempuan bisa menjadi spirit atas pemenuhan hak kesetaraan dan keadilan di tengah sejarah politik Indonesia moderen yang cenderung patriarkis.

Kehadiran pemimpin perempuan, bisa menjadi parameter majunya demokrasi sebuah bangsa. Dan tentu bisa menjadi kebanggaan Indonesia di mata dunia internasional.  Memang, kandidat perempuan tidak menjamin bebasnya dari jebakan populisme massa. Tapi bisa memberi alternatif seperti spirit atas kesetaraan.

Megawati Soekarnoputri, bagaimanapun telah menyelamatkan “muka” politik Indonesia dari sejarah patriarki.  Tanpa “Mbak Mega” sulit rasanya membayangkan adanya presiden perempuan di Indonesia.

Dan PDI Perjuangan (PDIP), pada Pilpres 2024, masih memiliki kans untuk menyodorkan alternatif itu. Sebagai partai yang diprediksi masih cukup kuat pada Pileg nanti, PDIP akan leluasa mengatur pola koalisi.

Apalagi saat ini, PDI Perjuangan memiliki figur perempuan yang masuk dalam daftar unggulan kandidat Pilpres mendatang, seperti Puan Maharani dan Tri Rismaharini. (*)

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya

Kenapa Perlu Capres Perempuan 2024?

...
RILIS.ID
Jakarta
27 Mei 2021 - 21:03 WIB
Perspektif | RILISID
...
ILUSTRASI: RILIS.ID

RILISID, Jakarta — Oleh K. Anom, Kolumnis RILIS.ID

Sesudah Joko Widodo (Jokowi), presiden seperti apa yang ideal untuk Indonesia? Yang pasti pemimpin mendatang akan menanggung banyak pekerjaan rumah setelah sepuluh tahun kita hidup di periode yang begitu ambisius.

Sejak kemunculannya, Jokowi tampil sebagai teknokrat yang ingin berlari kencang mengejar ketertinggalan. Dan memang ia buktikan, di periode awal ia tampil memuaskan. Banyak capaian pembangunan yang ia lakukan, terutama infrastruktur.

Tapi di periode kedua, kenyataan mulai tampak bahwa pemerintah saat ini ternyata kedodoran. Problem pemborosan dan beban utang sudah menunjukkan irasional.

Ekonom Faisal Basri menyebutnya sebagai “pembangunan yang ugal-ugalan”. Di mana banyak kebijakan yang dibuat secara spontan tanpa merujuk pada perencanaan Bappenas. Alhasil, apa yang sudah diperbuat Jokowi tak akan mampu ia tutup saat menyerahkan jabatannya nanti.

Ini baru membicarakan ekonomi, belum membicarakan aspek politik, hukum, dan keadilan sosial. Periode Jokowi adalah tahun-tahun yang melelahkan dengan tingginya polarisasi kelompok nasionalis dan Islam kanan.

Perang urat syaraf hampir terjadi setiap hari. Termasuk tingginya keperpihakan pada investasi dan korporasi, yang kerap mengundang protes atas keberpihakan pada pekerja dan lingkungan.

Situasi inilah yang kelak akan ditanggungkan oleh siapapun presidennya. Karena itu yang kita butuhkan adalah sosok pemimpin yang mampu menetralisir keadaan seperti ini. Pemimpin yang menonjolkan kecermatan dan kehati-hatiannya dalam mengelola pemerintahan, serta kesungguhan menjalankan tugas utama negara, yaitu distribusi keadilan sosial.

Sementara di sisi lain, jebakan “popularitas” kerap memaksa seorang kandidat untuk tampil bombastis agar terlihat lebih unggul dan mendapat perhatian publik.

Sebagaimana yang terjadi pada Jokowi saat Pilpres atau kandidat lain pada pemilihan kepada daerah. Sehingga tak sedikit yang pontang-panting memenuhi janji yang bombastis itu.

Karena itu, kita perlu mempertimbangkan hadirnya calon presiden (capres) perempuan pada 2024. Kandidat perempuan bisa menjadi spirit atas pemenuhan hak kesetaraan dan keadilan di tengah sejarah politik Indonesia moderen yang cenderung patriarkis.

Kehadiran pemimpin perempuan, bisa menjadi parameter majunya demokrasi sebuah bangsa. Dan tentu bisa menjadi kebanggaan Indonesia di mata dunia internasional.  Memang, kandidat perempuan tidak menjamin bebasnya dari jebakan populisme massa. Tapi bisa memberi alternatif seperti spirit atas kesetaraan.

Megawati Soekarnoputri, bagaimanapun telah menyelamatkan “muka” politik Indonesia dari sejarah patriarki.  Tanpa “Mbak Mega” sulit rasanya membayangkan adanya presiden perempuan di Indonesia.

Dan PDI Perjuangan (PDIP), pada Pilpres 2024, masih memiliki kans untuk menyodorkan alternatif itu. Sebagai partai yang diprediksi masih cukup kuat pada Pileg nanti, PDIP akan leluasa mengatur pola koalisi.

Apalagi saat ini, PDI Perjuangan memiliki figur perempuan yang masuk dalam daftar unggulan kandidat Pilpres mendatang, seperti Puan Maharani dan Tri Rismaharini. (*)

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya