Hebat! Putri Buruh Tani Jadi Lulusan Terbaik di UNY, IPK Cumlaude
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Hebat! Putri Buruh Tani Jadi Lulusan Terbaik di UNY, IPK Cumlaude

...
RILIS.ID
Sleman
31 Agustus 2021 - 15:44 WIB
Inspirasi | RILISID
...
Tri Wahyuni dan kedua orangtuanya. Foto: Dok Istimewa

RILISID, Sleman — Siapa bilang anak buruh tani tidak dapat mengukir prestasi? Tri Wahyuni adalah buktinya. Ia berhasil menjadi lulusan terbaik di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) periode Agustus 2021.

Tri menjadi lulusan terbaik jenjang D3 setelah meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,84 berpredikat cumlaude.

Pencapaian Tri tersebut bukanlah mudah. Apalagi, dia harus pintar membagi waktu untuk kuliah dan bekerja.

Warga Tangkilan Sidoarum Godean, Sleman, itu bekerja di salah satu toko bakpia terkenal di Yogyakarta. Saat kuliah, Tri bekerja part time mulai pukul 15.00 – 21.00 WIB.

"Saya beruntung teman-teman mendukung kegiatan saya dalam bekerja dan selalu diberi kemudahan dalam melakukannya,” kata gadis kelahiran Sleman, 22 Oktober 1999 ini seperti dilansir dari laman UNY, Selasa (31/8/2021).

Apalagi jarak antara rumah dan kampusnya di Wates cukup jauh yang dilaju setiap hari. Perjuangan anak bungsu dari tiga bersaudara itu memang terbilang luar biasa dalam menempuh pendidikan.

Putri satu-satunya pasangan Tugiyono dan Wagiyem yang berprofesi sebagai buruh tani tersebut mengaku bahwa orangtuanya sangat mendukung keinginannya kuliah.

Tugiyono mengatakan bahwa dia mendukung cita-cita Tri Wahyuni untuk kuliah karena anak bungsunya memang pintar.

"Saya tidak bisa baca tulis oleh karena itu saya akan melakukan segala cara agar anak saya bisa kuliah” katanya.

Wagiyem menambahkan bahwa dia menyuruh anak bungsunya kuliah di UNY karena biaya kuliahnya terjangkau dibandingkan perguruan tinggi negeri yang lain.

"Agar salah satu anak saya bisa pandai dan bisa mengubah nasib keluarga” papar Wagiyem.

Dua kakak laki-laki Tri Wahyuni putus sekolah karena tidak ada biaya. Oleh karena itu, pasangan suami istri tersebut rela bekerja keras agar putrinya bisa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.

Alumni SMAN 1 Gamping tersebut lulus pada 2017, namun baru diterima di UNY pada 2018. Jeda waktu satu tahun dimanfaatkannya untuk bekerja di salah satu rumah makan di Yogyakarta.

Tri tidak pernah mengikuti bimbingan belajar selama satu tahun itu karena ketiadaan biaya, dan hanya belajar secara online.

Selama kuliah di UNY dia juga tidak pernah meminta uang pada orang tuanya untuk membayar uang kuliah tunggal (UKT) dan uang pangkal pengembangan akademik.

Semua dibayar dengan hasil keringatnya sendiri selama bekerja di toko bakpia. Hal ini merupakan upaya UNY dalam agenda pembangunan berkelanjutan dalam bidang pendidikan bermutu. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Hebat! Putri Buruh Tani Jadi Lulusan Terbaik di UNY, IPK Cumlaude

...
RILIS.ID
Sleman
31 Agustus 2021 - 15:44 WIB
Inspirasi | RILISID
...
Tri Wahyuni dan kedua orangtuanya. Foto: Dok Istimewa

RILISID, Sleman — Siapa bilang anak buruh tani tidak dapat mengukir prestasi? Tri Wahyuni adalah buktinya. Ia berhasil menjadi lulusan terbaik di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) periode Agustus 2021.

Tri menjadi lulusan terbaik jenjang D3 setelah meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,84 berpredikat cumlaude.

Pencapaian Tri tersebut bukanlah mudah. Apalagi, dia harus pintar membagi waktu untuk kuliah dan bekerja.

Warga Tangkilan Sidoarum Godean, Sleman, itu bekerja di salah satu toko bakpia terkenal di Yogyakarta. Saat kuliah, Tri bekerja part time mulai pukul 15.00 – 21.00 WIB.

"Saya beruntung teman-teman mendukung kegiatan saya dalam bekerja dan selalu diberi kemudahan dalam melakukannya,” kata gadis kelahiran Sleman, 22 Oktober 1999 ini seperti dilansir dari laman UNY, Selasa (31/8/2021).

Apalagi jarak antara rumah dan kampusnya di Wates cukup jauh yang dilaju setiap hari. Perjuangan anak bungsu dari tiga bersaudara itu memang terbilang luar biasa dalam menempuh pendidikan.

Putri satu-satunya pasangan Tugiyono dan Wagiyem yang berprofesi sebagai buruh tani tersebut mengaku bahwa orangtuanya sangat mendukung keinginannya kuliah.

Tugiyono mengatakan bahwa dia mendukung cita-cita Tri Wahyuni untuk kuliah karena anak bungsunya memang pintar.

"Saya tidak bisa baca tulis oleh karena itu saya akan melakukan segala cara agar anak saya bisa kuliah” katanya.

Wagiyem menambahkan bahwa dia menyuruh anak bungsunya kuliah di UNY karena biaya kuliahnya terjangkau dibandingkan perguruan tinggi negeri yang lain.

"Agar salah satu anak saya bisa pandai dan bisa mengubah nasib keluarga” papar Wagiyem.

Dua kakak laki-laki Tri Wahyuni putus sekolah karena tidak ada biaya. Oleh karena itu, pasangan suami istri tersebut rela bekerja keras agar putrinya bisa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.

Alumni SMAN 1 Gamping tersebut lulus pada 2017, namun baru diterima di UNY pada 2018. Jeda waktu satu tahun dimanfaatkannya untuk bekerja di salah satu rumah makan di Yogyakarta.

Tri tidak pernah mengikuti bimbingan belajar selama satu tahun itu karena ketiadaan biaya, dan hanya belajar secara online.

Selama kuliah di UNY dia juga tidak pernah meminta uang pada orang tuanya untuk membayar uang kuliah tunggal (UKT) dan uang pangkal pengembangan akademik.

Semua dibayar dengan hasil keringatnya sendiri selama bekerja di toko bakpia. Hal ini merupakan upaya UNY dalam agenda pembangunan berkelanjutan dalam bidang pendidikan bermutu. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya