Alam, Manusia, dan Bencana
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Alam, Manusia, dan Bencana


27 Januari 2020 - 11:01 WIB
Perspektif | RILISID
...
M Syanda Giantara Ali KM, Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Lampung

RILISID, — AKHIR-AKHIR ini bencana alam menjadi kemasan berita yang kita konsumsi setiap saat, sampai pada transisi pergantian tahun.

Pada pertengahan tahun lalu (2019), kebakaran hutan terjadi di berbagai titik akibat kemarau panjang.

Asap tebal di mana-mana, sampai bersemayam di dalam tubuh dan menjadi momok pada kesehatan tubuh.

Lalu, selanjutnya kita dikejutkan oleh populasi ular yang meningkat drastis.

Kemudian pada transisi pergantian tahun, banjir menghiasi bursa berita teratas serta tag pada pencarian di beberapa sosial media.

Jakarta, kota bergengsi yang dianggap ideal dengan fasilitas yang maju serta ikon dari kota hiburan dan bisnis pun takluk oleh kekuasaan alam.

Menurunnya polulasi musuh alami dan transisi pergantian musim hanya segelintir contoh yang berimbas pada terganggunya tatanan ekosistem.

Puncak musim hujan 2019/2020 di 342 Zona Musim (ZoM) diprakirakan umumnya terjadi pada Januari 2020 sebanyak 128 ZoM (37,4 persen) dan  115 ZoM di Februari 2020 (33,6 persen).

Berikutnya, Maret 2020 sebanyak 10 ZoM (2,9 persen), 6 ZoM di April 2020 (1,8 persen), 12 ZoM di Mei 2020 (3,5 persen), dan 10 ZoM di Juni 2020 (2,9 persen).

Data tersebut berasal dari website resmi BMKG. Dapat dilihat puncak musim hujan akan terjadi pada bulan Januari-Febuari.

Bahkan wilayah lain, seperti Lampung sudah merasakan efeknya.

Beberapa media menampilkan berita becana alam. Banjir telah terjadi di Kota Bandarlampung dan Kabupaten Tanggamus yang disusul dengan tanah longsor.

Curah hujan yang tinggi akan menghasilkan air yang melimpah, yang kemudian akan terakumulasi pada wilayah yang cenderung rendah.

Sayangnya kawasan perkotaan dengan hamparan jalan raya yang luas, serta cor-coran beton kokoh membuat lubang filtrasi resapan air menjadi minim.

Kemudian pepohonan besar yang berperan menjaga kontur tanah, meresap, dan mengikat air jumlahnya semakin berkurang.

Bahkan biopori, lubang silindris yang dibuat vertikal ke dalam tanah dengan tujuan meningkatkan daya resap air pada tanah pun mulai terlupakan.

Ditambah lagi angka penggunaan bahan plastik yang tinggi, serta budaya buang sampah pada tempatnya yang masih minim menjadi problema klasik.

Air yang seharusnya dapat terserap oleh tanah, mau tidak mau hanya bisa mengikuti kontur wilayah yang sudah penuh dengan jalan raya dan beton.

Sampai terakumulasi pada saluran air yang kemudian ditemani oleh sampah-sampah anorganik yang membuat transportasi air semakin melambat.

Pada akhirnya air yang memiliki sifat mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah menjadi sama rata dengan tempat ia terjatuh.

Lalu setelah alam menegur, kita berteriak, ”Selamatkan alam?”

Terlalu sombong kah kita, berteriak dengan lantang menyelamatkan alam. Padahal alam mampu memulihkan dirinya sendiri.

Malah kita yang terhempas oleh amarahnya.

Kita manusia hanya berupaya, membantu agar proses bisa lebih cepat, menjaga serta menghambat terjadinya kerusakan yang lebih parah.

Kitalah yang perlu diselamatkan, terutama moral dan pemahaman terkait lingkungan.

Sebagian dari kita mulai sadar pada kondisi lingkungan, memulai menanamkan kesadaran pada diri sendiri dan orang terdekat.

Sebagian pula mulai terlibat aktif pada gerakan-gerakan lingkungan.

Namun sebagian lagi masih eksis dalam ekploitasi alam secara besar-besaran.

Sampai hewan liar, pohon-pohon besar, sungai, rawa dan hutan alami yang memiliki peran penting pada kestabilan ekosistem mulai turun dari panggungnya.

Alam dipaksa mengalah untuk memenuhi kebutuhan umat manusia, sandang, pangan, dan papan.

Cukuplah dengan retorika, sederhana saja.

Tahukah apa bedanya sampah organik dan anorganik

Jika tidak mengerti, bagaimana mau reduce reuse recycle?

Coba tengok, berapa jumlah tanaman di pekarangan rumah?

Atau bahkan tidak ada sama sekali?

Anda yang perlu di selamatkan,

Bahkan oksigen pun yang dibutuhkan setiap saat pun menghutang pada tanaman tetangga.

Marilah tingkatkan kesadaran dari yang paling kecil, serta lebih bijak dalam mengelola alam.

Tanamlah tanaman dan jangan buang sampah sembarangan.

Mari kita mulai dari diri sendiri! (*)

Editor : gueade

TAG:

Berita Lainnya

Alam, Manusia, dan Bencana

...
[email protected]

27 Januari 2020 - 11:01 WIB
Perspektif | RILISID
...
M Syanda Giantara Ali KM, Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Lampung

RILISID, — AKHIR-AKHIR ini bencana alam menjadi kemasan berita yang kita konsumsi setiap saat, sampai pada transisi pergantian tahun.

Pada pertengahan tahun lalu (2019), kebakaran hutan terjadi di berbagai titik akibat kemarau panjang.

Asap tebal di mana-mana, sampai bersemayam di dalam tubuh dan menjadi momok pada kesehatan tubuh.

Lalu, selanjutnya kita dikejutkan oleh populasi ular yang meningkat drastis.

Kemudian pada transisi pergantian tahun, banjir menghiasi bursa berita teratas serta tag pada pencarian di beberapa sosial media.

Jakarta, kota bergengsi yang dianggap ideal dengan fasilitas yang maju serta ikon dari kota hiburan dan bisnis pun takluk oleh kekuasaan alam.

Menurunnya polulasi musuh alami dan transisi pergantian musim hanya segelintir contoh yang berimbas pada terganggunya tatanan ekosistem.

Puncak musim hujan 2019/2020 di 342 Zona Musim (ZoM) diprakirakan umumnya terjadi pada Januari 2020 sebanyak 128 ZoM (37,4 persen) dan  115 ZoM di Februari 2020 (33,6 persen).

Berikutnya, Maret 2020 sebanyak 10 ZoM (2,9 persen), 6 ZoM di April 2020 (1,8 persen), 12 ZoM di Mei 2020 (3,5 persen), dan 10 ZoM di Juni 2020 (2,9 persen).

Data tersebut berasal dari website resmi BMKG. Dapat dilihat puncak musim hujan akan terjadi pada bulan Januari-Febuari.

Bahkan wilayah lain, seperti Lampung sudah merasakan efeknya.

Beberapa media menampilkan berita becana alam. Banjir telah terjadi di Kota Bandarlampung dan Kabupaten Tanggamus yang disusul dengan tanah longsor.

Curah hujan yang tinggi akan menghasilkan air yang melimpah, yang kemudian akan terakumulasi pada wilayah yang cenderung rendah.

Sayangnya kawasan perkotaan dengan hamparan jalan raya yang luas, serta cor-coran beton kokoh membuat lubang filtrasi resapan air menjadi minim.

Kemudian pepohonan besar yang berperan menjaga kontur tanah, meresap, dan mengikat air jumlahnya semakin berkurang.

Bahkan biopori, lubang silindris yang dibuat vertikal ke dalam tanah dengan tujuan meningkatkan daya resap air pada tanah pun mulai terlupakan.

Ditambah lagi angka penggunaan bahan plastik yang tinggi, serta budaya buang sampah pada tempatnya yang masih minim menjadi problema klasik.

Air yang seharusnya dapat terserap oleh tanah, mau tidak mau hanya bisa mengikuti kontur wilayah yang sudah penuh dengan jalan raya dan beton.

Sampai terakumulasi pada saluran air yang kemudian ditemani oleh sampah-sampah anorganik yang membuat transportasi air semakin melambat.

Pada akhirnya air yang memiliki sifat mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah menjadi sama rata dengan tempat ia terjatuh.

Lalu setelah alam menegur, kita berteriak, ”Selamatkan alam?”

Terlalu sombong kah kita, berteriak dengan lantang menyelamatkan alam. Padahal alam mampu memulihkan dirinya sendiri.

Malah kita yang terhempas oleh amarahnya.

Kita manusia hanya berupaya, membantu agar proses bisa lebih cepat, menjaga serta menghambat terjadinya kerusakan yang lebih parah.

Kitalah yang perlu diselamatkan, terutama moral dan pemahaman terkait lingkungan.

Sebagian dari kita mulai sadar pada kondisi lingkungan, memulai menanamkan kesadaran pada diri sendiri dan orang terdekat.

Sebagian pula mulai terlibat aktif pada gerakan-gerakan lingkungan.

Namun sebagian lagi masih eksis dalam ekploitasi alam secara besar-besaran.

Sampai hewan liar, pohon-pohon besar, sungai, rawa dan hutan alami yang memiliki peran penting pada kestabilan ekosistem mulai turun dari panggungnya.

Alam dipaksa mengalah untuk memenuhi kebutuhan umat manusia, sandang, pangan, dan papan.

Cukuplah dengan retorika, sederhana saja.

Tahukah apa bedanya sampah organik dan anorganik

Jika tidak mengerti, bagaimana mau reduce reuse recycle?

Coba tengok, berapa jumlah tanaman di pekarangan rumah?

Atau bahkan tidak ada sama sekali?

Anda yang perlu di selamatkan,

Bahkan oksigen pun yang dibutuhkan setiap saat pun menghutang pada tanaman tetangga.

Marilah tingkatkan kesadaran dari yang paling kecil, serta lebih bijak dalam mengelola alam.

Tanamlah tanaman dan jangan buang sampah sembarangan.

Mari kita mulai dari diri sendiri! (*)

Editor : gueade

TAG:

Berita Lainnya