Airlangga dan Golkar Empat Titik Nol 
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Airlangga dan Golkar Empat Titik Nol 

...
Ilham Mendrofa
Jakarta
25 Maret 2018 - 10:10 WIB
Perspektif | RILISID
...
ILUSTRASI: Hafiz

RILISID, Jakarta — SAYA duduk di antara ratusan orang berbaju kuning, mendengar dia di podium berbicara. Kata-katanya datar saja, tidak menggebu, bukan laiknya orator. Tapi apa yang ia ungkapkan sebagai ketua umum partai yang memberi pembekalan bagi kadernya, bukan hanya jauh dari kesan klise, tapi tak terduga. Ia bicara tentang revolusi industri 4.0. 

Sebagai orang baru di Golkar yang ingin menyelami nafas partai ini, saya tergugah. Sosok itu, Airlangga Hartarto, mengutip tentang teknologi artificial intelligence yang akan berkembang luas dalam kehidupan manusia. Sehingga jika bangsa ingin mampu bersaing di masa itu, ada hal yang harus dipersiapkan saat ini, hari ini. 

Sebenarnya saya tergugah bukan karena ia mengulas tentang revolusi industri 4.0.  Tapi ketika hal itu diungkapkan di sebuah forum orang-orang yang ingin mendaftar jadi calon legislatif. Padahal di hari itu saya sudah menyediakan diri untuk mendengar doktrin-doktrin partai, atau loyalitas sebagai petugas partai. Hal yang wajar sebenarnya, karena tak semua yang hadir adalah “kader lama”, sehingga perlu dibina komitmennya pada partai. Tapi Airlangga justru tak banyak menyebut tentang Golkar, ia banyak bicara tentang Indonesia. Kalaupun ia mengulas tentang Golkar, adalah Golkar yang mempersiapkan Indonesia 2030. Dan saat itu Indonesia tidak bubar. 

Tentu, partai lain juga tidak akan melulu bicara tentang partai dalam forum seperti ini. Tapi ketiadaan pretensi membalut kepentingan partai atas nama: Indonesia, itu yang tertangkap dari cara bicara Airlangga. Dan itu penting, khususnya bagi anak baru seperti saya yang lama di profesional. Artinya, saya bisa tetap menjadi diri saya sendiri. 

Saya yang sehari-hari hidup bersama anak-anak kreatif di bidang media dan agrobisnis, sebenarnya ketika masuk partai sudah mengikhlaskan untuk memasuki kultur sebagai orang politik. Tapi di hari pertama pembekalan, kami justru diajak untuk beradaptasi dengan tantangan perkembangan teknologi. Dimana saya paham, bahwa hal itu bukan sekadar penguasaan teknis, tapi soal paradigma dan kreatifitas. Dan kreatifitas hanya akan subur di atas kepala yang memiliki kebebasan. Bahkan lebih jauh, kepala yang meyakini nilai-nilai universalitas. 

Dan ketika sang ketua umum mengisyaratkan perlunya partai untuk beradaptasi menyongsong industri 4.0, saya merasa mendapatkan pijakan untuk memperjuangkan nilai-nilai politik yang saya yakini selama ini. 

Setidaknya di Golkar, saya tidak di bawah bayang-bayang seseorang yang merasa paling tahu tentang Indonesia, dan saya harus patuh padanya. Setidaknya di Golkar, saya bisa berdebat di lingkungan yang menghormati perdebatan, tanpa ada hal yang tabu untuk dipertanyakan. Setidaknya di Golkar, saya memiliki kesempatan melahirkan ide dan memperjuangkannya. Selamat bagi saya yang sudah menjadi kader Golkar.

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya

Airlangga dan Golkar Empat Titik Nol 

...
Ilham Mendrofa
Jakarta
25 Maret 2018 - 10:10 WIB
Perspektif | RILISID
...
ILUSTRASI: Hafiz

RILISID, Jakarta — SAYA duduk di antara ratusan orang berbaju kuning, mendengar dia di podium berbicara. Kata-katanya datar saja, tidak menggebu, bukan laiknya orator. Tapi apa yang ia ungkapkan sebagai ketua umum partai yang memberi pembekalan bagi kadernya, bukan hanya jauh dari kesan klise, tapi tak terduga. Ia bicara tentang revolusi industri 4.0. 

Sebagai orang baru di Golkar yang ingin menyelami nafas partai ini, saya tergugah. Sosok itu, Airlangga Hartarto, mengutip tentang teknologi artificial intelligence yang akan berkembang luas dalam kehidupan manusia. Sehingga jika bangsa ingin mampu bersaing di masa itu, ada hal yang harus dipersiapkan saat ini, hari ini. 

Sebenarnya saya tergugah bukan karena ia mengulas tentang revolusi industri 4.0.  Tapi ketika hal itu diungkapkan di sebuah forum orang-orang yang ingin mendaftar jadi calon legislatif. Padahal di hari itu saya sudah menyediakan diri untuk mendengar doktrin-doktrin partai, atau loyalitas sebagai petugas partai. Hal yang wajar sebenarnya, karena tak semua yang hadir adalah “kader lama”, sehingga perlu dibina komitmennya pada partai. Tapi Airlangga justru tak banyak menyebut tentang Golkar, ia banyak bicara tentang Indonesia. Kalaupun ia mengulas tentang Golkar, adalah Golkar yang mempersiapkan Indonesia 2030. Dan saat itu Indonesia tidak bubar. 

Tentu, partai lain juga tidak akan melulu bicara tentang partai dalam forum seperti ini. Tapi ketiadaan pretensi membalut kepentingan partai atas nama: Indonesia, itu yang tertangkap dari cara bicara Airlangga. Dan itu penting, khususnya bagi anak baru seperti saya yang lama di profesional. Artinya, saya bisa tetap menjadi diri saya sendiri. 

Saya yang sehari-hari hidup bersama anak-anak kreatif di bidang media dan agrobisnis, sebenarnya ketika masuk partai sudah mengikhlaskan untuk memasuki kultur sebagai orang politik. Tapi di hari pertama pembekalan, kami justru diajak untuk beradaptasi dengan tantangan perkembangan teknologi. Dimana saya paham, bahwa hal itu bukan sekadar penguasaan teknis, tapi soal paradigma dan kreatifitas. Dan kreatifitas hanya akan subur di atas kepala yang memiliki kebebasan. Bahkan lebih jauh, kepala yang meyakini nilai-nilai universalitas. 

Dan ketika sang ketua umum mengisyaratkan perlunya partai untuk beradaptasi menyongsong industri 4.0, saya merasa mendapatkan pijakan untuk memperjuangkan nilai-nilai politik yang saya yakini selama ini. 

Setidaknya di Golkar, saya tidak di bawah bayang-bayang seseorang yang merasa paling tahu tentang Indonesia, dan saya harus patuh padanya. Setidaknya di Golkar, saya bisa berdebat di lingkungan yang menghormati perdebatan, tanpa ada hal yang tabu untuk dipertanyakan. Setidaknya di Golkar, saya memiliki kesempatan melahirkan ide dan memperjuangkannya. Selamat bagi saya yang sudah menjadi kader Golkar.

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya