Motif Pembunuhan Bos Konter di Tanggamus, Tak Terima Dibayar Rp300 Usai Berhubungan Sesama Jenis
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Motif Pembunuhan Bos Konter di Tanggamus, Tak Terima Dibayar Rp300 Usai Berhubungan Sesama Jenis

...
RILIS.ID
Tanggamus
15 Juli 2021 - 19:43 WIB
Hukum | RILISID
...
Polres Tanggamus menggelar konferensi pers terkait kasus pembunuhan bos konter, Kamis (15/7/2021). Foto: Adi

RILISID, Tanggamus — Polisi akhirnya berhasil menangkap pelaku pembunuhan bos konter HP di Tanggamus, Dede Saputra (32). Mereka adalah Bakas Maulana (21), warga Talangpadang dan Syahrial Aswad (33), warga Nabangsari, Kecamatan Kedondong, Pesawaran, Lampung.

Kasatreskrim Polres Tanggamus Iptu Ramon Zamora mengatakan kedua tersangka merupakan teman dekat korban. Keduanya ditangkap sehari setelah peristiwa tersebut, tepatnya Rabu (14/7/2021).

Awalnya, Syahrial lebih dulu diciduk di rumahnya. Setelah itu, polisi kemudian melakukan pengembangan hingga berhasil menangkap Bakas di wilayah Talangpadang, Tanggamus.

Ramon mengungkapkan kronologi pembunuhan berawal saat Bakas menjemput korban. Sementara, Syahrial bersembunyi di sebuah gubuk yang berada di areal perkebunan pepaya milik warga Kebumen, Desa Banjaragung, Kecamatan Pugung.

"Bakas dan korban sempat melakukan hubungan badan (sesama jenis) di gubuk itu," katanya dalam konferensi pers di Mapolres Tanggamus, Kamis (15/7/2021).

Setelahnya, lanjut Ramon, korban memberikan uang sebesar Rp300 ribu. Namun, tersangka tidak terima karena sedari awal sudah dijanjikan Rp500 ribu.

"Karena tidak terima diberi bayaran Rp300 ribu, tersangka langsung menikam korban. Tersangka Syahrial langsung keluar dari persembunyiannya dan membantu memukul kepala korban menggunakan batu,” ungkapnya.

Mengetahui korban sudah meregang nyawa, kedua tersangka kemudian memasukkan jenazah korban ke dalam plastik yang sudah mereka sediakan sejak awal.

"Lalu mayat korban dibuang ke TKP dengan menggunakan sepeda motor korban," tutur Ramon.

Sebelum berpisah di kuburan Sukaraja, Talangpadang, tersangka Bakas lebih dulu membuang pisau dan baju korban ke Sungai Sumanda. Sementara Syahrial membawa kabur motor, ponsel, dan uang korban.

"Kedua tersangka dendam. Korban disebut sering ingkar janji, dengan menjanjikan bayaran Rp700 ribu usai melakukan hubungan, namun hanya dibayarkan Rp300 ribu. Bahkan setelah korban menikah, tersangka Bakas tidak pernah lagi mendapatkan uang dari korban,” ungkap Ramon.

Berdasarkan hasil visum, korban mengalami 24 luka tusukan di dada dan kepala. Akibat perbuatannya, keduanya disangkakan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup.

"Juga Pasal 365 KUHP dengan ancaman hukuman sembilan tahun penjara,” ucap Ramon.

Sementara, tersangka Bakas menyesali perbuatannya. Ia mengaku khilaf karena sudah sering dibohongi oleh korban.

"Saya minta maaf kepada keluarga. Saya menyesal dan khilaf melakukan pembunuh,” aku Bakas terduduk di lantai setelah kakinya dihadiahi timah panas petugas.

Lebih lanjut, Bakas mengaku sudah mengenal korban sejak 2019 lalu. Saat itu, mereka sering bermain futsal bareng di Talangpadang. Keduanya juga sering nongkrong bareng di sana.

Senada dengan Bakas, Syahrial juga menyesali perbuatannya. Terlebih ia akan menikah pada bulan ini.

"Sudah sebar undangan. Saya kecewa enggak jadi nikah,” singkatnya. (*)

Laporan: Adi Yulyandi, Kontributor Tanggamus

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Motif Pembunuhan Bos Konter di Tanggamus, Tak Terima Dibayar Rp300 Usai Berhubungan Sesama Jenis

...
RILIS.ID
Tanggamus
15 Juli 2021 - 19:43 WIB
Hukum | RILISID
...
Polres Tanggamus menggelar konferensi pers terkait kasus pembunuhan bos konter, Kamis (15/7/2021). Foto: Adi

RILISID, Tanggamus — Polisi akhirnya berhasil menangkap pelaku pembunuhan bos konter HP di Tanggamus, Dede Saputra (32). Mereka adalah Bakas Maulana (21), warga Talangpadang dan Syahrial Aswad (33), warga Nabangsari, Kecamatan Kedondong, Pesawaran, Lampung.

Kasatreskrim Polres Tanggamus Iptu Ramon Zamora mengatakan kedua tersangka merupakan teman dekat korban. Keduanya ditangkap sehari setelah peristiwa tersebut, tepatnya Rabu (14/7/2021).

Awalnya, Syahrial lebih dulu diciduk di rumahnya. Setelah itu, polisi kemudian melakukan pengembangan hingga berhasil menangkap Bakas di wilayah Talangpadang, Tanggamus.

Ramon mengungkapkan kronologi pembunuhan berawal saat Bakas menjemput korban. Sementara, Syahrial bersembunyi di sebuah gubuk yang berada di areal perkebunan pepaya milik warga Kebumen, Desa Banjaragung, Kecamatan Pugung.

"Bakas dan korban sempat melakukan hubungan badan (sesama jenis) di gubuk itu," katanya dalam konferensi pers di Mapolres Tanggamus, Kamis (15/7/2021).

Setelahnya, lanjut Ramon, korban memberikan uang sebesar Rp300 ribu. Namun, tersangka tidak terima karena sedari awal sudah dijanjikan Rp500 ribu.

"Karena tidak terima diberi bayaran Rp300 ribu, tersangka langsung menikam korban. Tersangka Syahrial langsung keluar dari persembunyiannya dan membantu memukul kepala korban menggunakan batu,” ungkapnya.

Mengetahui korban sudah meregang nyawa, kedua tersangka kemudian memasukkan jenazah korban ke dalam plastik yang sudah mereka sediakan sejak awal.

"Lalu mayat korban dibuang ke TKP dengan menggunakan sepeda motor korban," tutur Ramon.

Sebelum berpisah di kuburan Sukaraja, Talangpadang, tersangka Bakas lebih dulu membuang pisau dan baju korban ke Sungai Sumanda. Sementara Syahrial membawa kabur motor, ponsel, dan uang korban.

"Kedua tersangka dendam. Korban disebut sering ingkar janji, dengan menjanjikan bayaran Rp700 ribu usai melakukan hubungan, namun hanya dibayarkan Rp300 ribu. Bahkan setelah korban menikah, tersangka Bakas tidak pernah lagi mendapatkan uang dari korban,” ungkap Ramon.

Berdasarkan hasil visum, korban mengalami 24 luka tusukan di dada dan kepala. Akibat perbuatannya, keduanya disangkakan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup.

"Juga Pasal 365 KUHP dengan ancaman hukuman sembilan tahun penjara,” ucap Ramon.

Sementara, tersangka Bakas menyesali perbuatannya. Ia mengaku khilaf karena sudah sering dibohongi oleh korban.

"Saya minta maaf kepada keluarga. Saya menyesal dan khilaf melakukan pembunuh,” aku Bakas terduduk di lantai setelah kakinya dihadiahi timah panas petugas.

Lebih lanjut, Bakas mengaku sudah mengenal korban sejak 2019 lalu. Saat itu, mereka sering bermain futsal bareng di Talangpadang. Keduanya juga sering nongkrong bareng di sana.

Senada dengan Bakas, Syahrial juga menyesali perbuatannya. Terlebih ia akan menikah pada bulan ini.

"Sudah sebar undangan. Saya kecewa enggak jadi nikah,” singkatnya. (*)

Laporan: Adi Yulyandi, Kontributor Tanggamus

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya