Kedubes AS Keluarkan Peringatan Dini, IPW Sarankan Ini ke Polri
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Kedubes AS Keluarkan Peringatan Dini, IPW Sarankan Ini ke Polri

...
RILIS.ID
JAKARTA
10 April 2021 - 8:36 WIB
Hukum | RILISID
...
ILUSTRASI: RILIS.ID

RILISID, JAKARTA — Polri harus bersikap dengan membersihkan sarang-sarang terorisme dan radikalisme yang bisa mengancam ketertiban umum.

Saran itu disampaikan Ind Police Watch (IPW) menyusul Kedubes Amerika Serikat yang mengeluarkan peringatan dini kepada warganya untuk menghindari mal, kerumunan, dan tempat-tempat hiburan karena ancaman teroris di Indonesia masih tinggi.

Ketua Presidium IPW Neta S Pane mengatakan, pihaknya mendesak Kabaintelkam Polri bekerja keras dan membuat langkah langkah nyata untuk membersihkan kantong kantong terorisme dan radikalisme di negeri ini.

Tujuannya, agar kelompok terorisme tidak punya ruang gerak untuk beraksi. Sebab dalam peringatan dininya yg dikeluarkan 7 April itu, Kedubes AS menyebutkan, pasca terjadinya teror bom di Makassar pada 28 Maret dan teror penembakan di Mabes Polri pada 31 Maret, ancaman terorisme di Indonesia masih tinggi.

Potensi ancaman teroris memang masih tinggi. Di Jabodetabek misalnya, sejumlah kantong teroris sudah diacak acak polisi, tapi di kawasan Depok, Tangsel, dan Tangerang belum berhasil ringkus. Dari pendataan IPW sedikitnya ada 11 daerah yang rawan teroris di Indonesia, yakni Jakarta, Jabar, Jateng, Jogja, Jatim, Papua, Sulsel, Sulteng, Lampung, Sumut, dan Banten.

Di Banten berbagai langkah antisipasi sudah dilakukan polisi. Antara lain mengumpulkan kiai kampung, penyuluh agama, dan guru madrasah di seluruh Banten. Tujuannya agar paham radikalisme, terorisme dan intoleransi bisa diminimalisir.

”Bahkan dialog dengan eks napi teroris (napiter) aktif dilakukan. Misalnya, Yayasan Lingkar Perdamaian bersama Polda Banten, pekan lalu melakukan seminar kebangsaan dan agrokultural,” ujarnya dalam siaran persnya yang diterima Rilis.id.

Seminar ini, terus dia, dilakukan untuk mengubah mindset anggota Yayasan Lingkar Perdamaian dan Bina Insan Mandiri yang sebagian besar adalah napiter.

Lewat dialog, diskusi, dan seminar diharapkan para eks napiter bisa mandiri, bisa maju dan yang terpenting bisa membantu mereka untuk keluar dari zona merah. Sehingga mereka kembali menyatu dengan masyarakat dan bisa bersahabat dengan aparat untuk menjaga Kamtibmas.

”Artinya, selain memburu kantong-kantong terorisme, para Kapolda juga perlu aktif membina para eks napiter agar keluar dari zona merah. Begitu juga Intelkam Polri jangan sampai kecolongan lagi dari ulah teroris. Dengan pagar betis yg maksimal negeri ini tidak terus menerus menjadi bulan bulanan aksi terorisme dan radikalisme,” pungkasnya.(*)

Editor : Wirahadikusumah

TAG:

Berita Lainnya

Kedubes AS Keluarkan Peringatan Dini, IPW Sarankan Ini ke Polri

...
RILIS.ID
JAKARTA
10 April 2021 - 8:36 WIB
Hukum | RILISID
...
ILUSTRASI: RILIS.ID

RILISID, JAKARTA — Polri harus bersikap dengan membersihkan sarang-sarang terorisme dan radikalisme yang bisa mengancam ketertiban umum.

Saran itu disampaikan Ind Police Watch (IPW) menyusul Kedubes Amerika Serikat yang mengeluarkan peringatan dini kepada warganya untuk menghindari mal, kerumunan, dan tempat-tempat hiburan karena ancaman teroris di Indonesia masih tinggi.

Ketua Presidium IPW Neta S Pane mengatakan, pihaknya mendesak Kabaintelkam Polri bekerja keras dan membuat langkah langkah nyata untuk membersihkan kantong kantong terorisme dan radikalisme di negeri ini.

Tujuannya, agar kelompok terorisme tidak punya ruang gerak untuk beraksi. Sebab dalam peringatan dininya yg dikeluarkan 7 April itu, Kedubes AS menyebutkan, pasca terjadinya teror bom di Makassar pada 28 Maret dan teror penembakan di Mabes Polri pada 31 Maret, ancaman terorisme di Indonesia masih tinggi.

Potensi ancaman teroris memang masih tinggi. Di Jabodetabek misalnya, sejumlah kantong teroris sudah diacak acak polisi, tapi di kawasan Depok, Tangsel, dan Tangerang belum berhasil ringkus. Dari pendataan IPW sedikitnya ada 11 daerah yang rawan teroris di Indonesia, yakni Jakarta, Jabar, Jateng, Jogja, Jatim, Papua, Sulsel, Sulteng, Lampung, Sumut, dan Banten.

Di Banten berbagai langkah antisipasi sudah dilakukan polisi. Antara lain mengumpulkan kiai kampung, penyuluh agama, dan guru madrasah di seluruh Banten. Tujuannya agar paham radikalisme, terorisme dan intoleransi bisa diminimalisir.

”Bahkan dialog dengan eks napi teroris (napiter) aktif dilakukan. Misalnya, Yayasan Lingkar Perdamaian bersama Polda Banten, pekan lalu melakukan seminar kebangsaan dan agrokultural,” ujarnya dalam siaran persnya yang diterima Rilis.id.

Seminar ini, terus dia, dilakukan untuk mengubah mindset anggota Yayasan Lingkar Perdamaian dan Bina Insan Mandiri yang sebagian besar adalah napiter.

Lewat dialog, diskusi, dan seminar diharapkan para eks napiter bisa mandiri, bisa maju dan yang terpenting bisa membantu mereka untuk keluar dari zona merah. Sehingga mereka kembali menyatu dengan masyarakat dan bisa bersahabat dengan aparat untuk menjaga Kamtibmas.

”Artinya, selain memburu kantong-kantong terorisme, para Kapolda juga perlu aktif membina para eks napiter agar keluar dari zona merah. Begitu juga Intelkam Polri jangan sampai kecolongan lagi dari ulah teroris. Dengan pagar betis yg maksimal negeri ini tidak terus menerus menjadi bulan bulanan aksi terorisme dan radikalisme,” pungkasnya.(*)

Editor : Wirahadikusumah

TAG:

Berita Lainnya