ASN dan Petugas Penyeberangan Ditangkap Terkait Pungli Tes Antigen di Pelabuhan Bakauheni
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

ASN dan Petugas Penyeberangan Ditangkap Terkait Pungli Tes Antigen di Pelabuhan Bakauheni

...
RILIS.ID
Lampung Selatan
17 Juli 2021 - 10:10 WIB
Hukum | RILISID
...
Kapolres Lamsel AKBP Edwin saat konferensi pers terkait kasus pungli tes antigen. Foto: Ahmad Kurdy

RILISID, Lampung Selatan — Pandemi ternyata menjadi kesempatan bagi oknum aparatur dan petugas untuk memeras warga. Mereka tak segan-segan memungut sejumlah uang di tengah gencarnya pemerintah membatasi mobilitas masyarakat melalui PPKM Darurat.

Seperti dilakukan oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) bernama Afrianto dan Budi Rizki, pengurus penyeberangan bus di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan (Lamsel). Aksi keduanya pun terekam dalam video hingga viral di media sosial.

Berbekal dari video viral tersebut, jajaran Polres Lamsel bergerak cepat dengan menangkap keduanya terkait pungutan liar (pungli) tes antigen di Pelabuhan Bakauheni.

Polisi telah menetapkan Budi Rizki dan Afrianto yang diketahui bertugas di Badan Penanggulangan dan Bencana Daerah (BPBD) Lamsel sebagai tersangka kasus pungli tes antigen.

Afrianto sendiri memang diperbantukan di Seaport Interdiction (SI) atau pintu masuk Pelabuhan Bakauheni pada masa PPKM Darurat Pulau Jawa dan Bali.

Kapolres Lamsel AKBP Edwin mengatakan pungli yang dilakukan keduanya memanfaatkan masa PPKM Darurat Pulau Jawa dan Bali di Bakauheni, pada 11-12 Juli 2021 lalu.

"Pada 11 Juli, Polres Lamsel melakukan investigasi akibat setelah adanya video yang menyebar dan saat viral dua hari belakangan," kata Edwin seperti dikutip dari Rilisid Lampung (Grup Rilisid), Sabtu (17/7/2021).

Edwin menjelaskan modus yang digunakan kedua tersangka adalah meminta sejumlah uang kepada penumpang yang tidak memiliki surat keterangan tes antigen, untuk bisa melewati pos penyekatan.

"Dalam video itu ada dua orang yang terlihat sedang meminta sejumlah uang di dalam bus. Penumpang yang membayar Rp100 ribu dianggap telah memiliki surat, tapi yang bersangkutan tidak mengeluarkan surat tes antigen," jelas Edwin.

Sementara tersangka Budi yang merupakan pengurus penyeberangan, bertugas untuk mengomunikasikan kepada sopir bus dan juga penumpang yang tidak memiliki surat tes antigen.

Setelah itu, Afrianto bertugas meloloskan bus di pintu masuk pelabuhan dari pemeriksaan petugas. Keduanya mengaku telah beberapa kali melakukan pungli.

"Korban pertama lima orang penumpang di bus pertama. lalu beberapa orang lagi di bus kedua dan ketiga. Total uang yang didapat kedua tersangka mencapai Rp1,3 juta," tambah Kapolres.

Akibat perbuatannya, kedua tersangka diancam Pasal 368 KUHP tentang pemerasan dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara. Serta pasal 14 UU nomor 4 tahun 1984 tentang penyebaran penyakit menular dengan ancaman hukuman 1 tahun penjara. (*)

Laporan: Ahmad Kurdy, Kontributor Lampung Selatan

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

ASN dan Petugas Penyeberangan Ditangkap Terkait Pungli Tes Antigen di Pelabuhan Bakauheni

...
RILIS.ID
Lampung Selatan
17 Juli 2021 - 10:10 WIB
Hukum | RILISID
...
Kapolres Lamsel AKBP Edwin saat konferensi pers terkait kasus pungli tes antigen. Foto: Ahmad Kurdy

RILISID, Lampung Selatan — Pandemi ternyata menjadi kesempatan bagi oknum aparatur dan petugas untuk memeras warga. Mereka tak segan-segan memungut sejumlah uang di tengah gencarnya pemerintah membatasi mobilitas masyarakat melalui PPKM Darurat.

Seperti dilakukan oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) bernama Afrianto dan Budi Rizki, pengurus penyeberangan bus di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan (Lamsel). Aksi keduanya pun terekam dalam video hingga viral di media sosial.

Berbekal dari video viral tersebut, jajaran Polres Lamsel bergerak cepat dengan menangkap keduanya terkait pungutan liar (pungli) tes antigen di Pelabuhan Bakauheni.

Polisi telah menetapkan Budi Rizki dan Afrianto yang diketahui bertugas di Badan Penanggulangan dan Bencana Daerah (BPBD) Lamsel sebagai tersangka kasus pungli tes antigen.

Afrianto sendiri memang diperbantukan di Seaport Interdiction (SI) atau pintu masuk Pelabuhan Bakauheni pada masa PPKM Darurat Pulau Jawa dan Bali.

Kapolres Lamsel AKBP Edwin mengatakan pungli yang dilakukan keduanya memanfaatkan masa PPKM Darurat Pulau Jawa dan Bali di Bakauheni, pada 11-12 Juli 2021 lalu.

"Pada 11 Juli, Polres Lamsel melakukan investigasi akibat setelah adanya video yang menyebar dan saat viral dua hari belakangan," kata Edwin seperti dikutip dari Rilisid Lampung (Grup Rilisid), Sabtu (17/7/2021).

Edwin menjelaskan modus yang digunakan kedua tersangka adalah meminta sejumlah uang kepada penumpang yang tidak memiliki surat keterangan tes antigen, untuk bisa melewati pos penyekatan.

"Dalam video itu ada dua orang yang terlihat sedang meminta sejumlah uang di dalam bus. Penumpang yang membayar Rp100 ribu dianggap telah memiliki surat, tapi yang bersangkutan tidak mengeluarkan surat tes antigen," jelas Edwin.

Sementara tersangka Budi yang merupakan pengurus penyeberangan, bertugas untuk mengomunikasikan kepada sopir bus dan juga penumpang yang tidak memiliki surat tes antigen.

Setelah itu, Afrianto bertugas meloloskan bus di pintu masuk pelabuhan dari pemeriksaan petugas. Keduanya mengaku telah beberapa kali melakukan pungli.

"Korban pertama lima orang penumpang di bus pertama. lalu beberapa orang lagi di bus kedua dan ketiga. Total uang yang didapat kedua tersangka mencapai Rp1,3 juta," tambah Kapolres.

Akibat perbuatannya, kedua tersangka diancam Pasal 368 KUHP tentang pemerasan dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara. Serta pasal 14 UU nomor 4 tahun 1984 tentang penyebaran penyakit menular dengan ancaman hukuman 1 tahun penjara. (*)

Laporan: Ahmad Kurdy, Kontributor Lampung Selatan

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya