Revitalisasi RMU di Laboratorium BB Pascapanen Hasilkan Beras Premium
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Revitalisasi RMU di Laboratorium BB Pascapanen Hasilkan Beras Premium

...
RILIS.ID
Karawang
21 Juli 2020 - 17:28 WIB
Bisnis | RILISID
...
FOTO: Humas Balitbangtan

RILISID, Karawang — Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen) telah melakukan revitalisasi rice milling unit (RMU) untuk memperbaiki kinerja penggilingan padi yang ada di Laboratorium Mutu Beras dan Pascapanen Serealia Lainnya di Karawang pada 2019. Revitaliasi RMU ini menjadi model percontohan yang akan didiseminasikan kepada para stakeholder/pengguna penggilingan.

Revitalisasi RMU tersebut menghasilkan beras berkualitas premium dan medium yang diluncurkan di Lab Mutu Beras, Karawang pada Selasa (21/7/2020). Peluncuran beras premium tersebut merupakan hasil perjanjian kerja sama antara BB Pascapanen dengan PT. Spinindo Sarana Pangan tentang penerapan teknologi penggilingan padi hasil revitalisasi untuk produksi beras berkualitas yang ditandatangani di Bogor pada 18 Mei 2020.

Kepala BB Pascapanen, Prayudi Syamsuri mengatakan revitalisasi RMU tersebut merupakan upaya BB Pascapanen untuk menekan keberagaman dan meningkatkan mutu fisik beras dengan cara yang relatif efektif dan efisen. Revitalisasi RMU meliputi perbaikan konfigurasi layout dan teknologi dan system penyosohan model abrasif-abrasif-mist friction untuk menghasilkan mutu fisik beras berkualitas dengan rendemen yang optimal. 

“Permasalahan yang harus dijawab yaitu masih tingginya losses di pascapanen. Kalau semakin banyak peras patah maka semakin banyak rendemen yang terbuang, karena itu harus kita minimalisir. Kalau penggilingan padi kita optimalkan maka losses bisa kita kurangi,” kata Prayudi saat mewakili Kepala Balitbangtan dalam Peluncuran Beras Premium.

Menurut Prayudi, Lab Mutu Beras tersebut merupakan pusat pelatihan operator penggilingan padi di Indonesia. Melalui kerjasama dengan dinas-dinas, setiap tahun dilakukan bimbingan teknis untuk mencetak operator-operator penggilingan padi.

Peneliti Senior BB Pascapanen, Ridwan Rachmat mengatakan teknologi pengolahan padi sudah lama dikenal di Indonesia. Namun pengolahan padi di Indonesia masih sangat variatif dari teknologi sederhana hingga teknologi serba otomatis. Kualitas beras yang dihasilkan bervariasi, mulai dari kualitas beras giling yang rendah hingga beras premium dengan rendemen tinggi. Kondisi ini masih diperparah dengan umur alat yang lebih dari 10 tahun.

Menurut Ridwan, kendala yang dihadapi penggilingan padi di Indonesia antara lain karena belum menerapkan kaidah pengolahan beras yang standar. Sistem penggilingan one pass dengan konfigurasi mesin yang kurang baik menyebabkan rendemen masih rendah yaitu rata-rata sekitar 62,74 persen yang seharusnya dapat dicapai diatas 65 persen. Kualitas beras yang dihasilkan masih rendah dengan tingkat broken diatas 20 persen dan tidak seragam.

“Selain itu biaya pengolahan masih tinggi/belum efisien dan tingkat kehilangan hasil relatif masih tinggi. Manajemen pengelolaannya juga masih tradisional. Sementara, penggilingan padi keliling berkembang tapi kurang memperhatikan aspek mutu beras,” terangnya.

Dalam proses penggilingan padi, terangnya, mutu beras yang dihasilkan sangat dipengaruhi bahan bakunya yaitu gabah kering giling (GKG). Untuk mencapai hasil yang optimal diperlukan model RMU yang mampu menghasilkan beras yang memenuhi mutu fisik yang dipersyaratkan dalam Permentan no. 31 tahun 2017.

Persyaratan dalam permen tersebut meliputi kadar air, derajat sosoh, beras kepala, beras patah, total butir beras lainnya (butir menir, merah, kuning/rusak, mengapur), butir gabah, dan benda lain. Sedangkan, metoda analisa mutu beras mengikuti hasil pengujian di laboratorium sesuai SNI 6128 tahun 2015.

Lebih lanjut Ridwan menerangkan, penggilingan padi hasil revitalisasi RMU telah dilengkapi dengan penambahan whitener dan mist polisher serta penambahan elevator dan tanki tempering. RMU hasil revitalisasi berkapasitas maksimal 1,5 ton input perjam telah menunjukkan adanya peningkatan kualitas beras hasil giling dengan peningkatan rendemen masing-masing satu persen untuk VUB Ciherang, dan VUB Inpari 32.

Konfigurasi RMU ini, lanjutnya, berpotensi menjadi model yang mampu memproduksi beras premium dengan tiga alternatif input bahan baku yaitu dari Gabah Kering Giling (GKG), Beras Pecah kulit (BPK) dan dari beras sosoh asalan/berkualitas rendah.

Konfigurasi RMU hasil revitalisasi ini juga dapat diterapkan pada RMU skala menengah (PPM) menjadi fasilitas reprosesing beras yang telah melewati masa simpan 4 bulan, sesuai Peraturan Mentan No 38 tahun 2018 tentang Cadangan Beras Pemerintah (CBP) maksimal 4 bulan. Hal ini merupakan masalah terhadap derasnya arus masuk/keluarnya beras dari gudang Bulog dari aspek penyelamatan dan pemanfaatan beras yang telah melewati masa 4 bulan tersebut.

Dengan adanya kelengkapan teknologi whitener dan repolishing menggunakan Mist polisher, maka beras kusam dan berdebu setelah disimpan selama 4 bulan dapat direproses menjadi beras bersih dan mengkilap bebas debu. 

“Mutu beras rata-rata sebelum dan sesudah proses whitener dan mist polisher menunjukkan peningkatan kecerahan, derajat putih dan kebersihan beras, sehingga laik dipasarkan dengan harga beras yang layak,” pungkasnya.

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya

Revitalisasi RMU di Laboratorium BB Pascapanen Hasilkan Beras Premium

...
RILIS.ID
Karawang
21 Juli 2020 - 17:28 WIB
Bisnis | RILISID
...
FOTO: Humas Balitbangtan

RILISID, Karawang — Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen) telah melakukan revitalisasi rice milling unit (RMU) untuk memperbaiki kinerja penggilingan padi yang ada di Laboratorium Mutu Beras dan Pascapanen Serealia Lainnya di Karawang pada 2019. Revitaliasi RMU ini menjadi model percontohan yang akan didiseminasikan kepada para stakeholder/pengguna penggilingan.

Revitalisasi RMU tersebut menghasilkan beras berkualitas premium dan medium yang diluncurkan di Lab Mutu Beras, Karawang pada Selasa (21/7/2020). Peluncuran beras premium tersebut merupakan hasil perjanjian kerja sama antara BB Pascapanen dengan PT. Spinindo Sarana Pangan tentang penerapan teknologi penggilingan padi hasil revitalisasi untuk produksi beras berkualitas yang ditandatangani di Bogor pada 18 Mei 2020.

Kepala BB Pascapanen, Prayudi Syamsuri mengatakan revitalisasi RMU tersebut merupakan upaya BB Pascapanen untuk menekan keberagaman dan meningkatkan mutu fisik beras dengan cara yang relatif efektif dan efisen. Revitalisasi RMU meliputi perbaikan konfigurasi layout dan teknologi dan system penyosohan model abrasif-abrasif-mist friction untuk menghasilkan mutu fisik beras berkualitas dengan rendemen yang optimal. 

“Permasalahan yang harus dijawab yaitu masih tingginya losses di pascapanen. Kalau semakin banyak peras patah maka semakin banyak rendemen yang terbuang, karena itu harus kita minimalisir. Kalau penggilingan padi kita optimalkan maka losses bisa kita kurangi,” kata Prayudi saat mewakili Kepala Balitbangtan dalam Peluncuran Beras Premium.

Menurut Prayudi, Lab Mutu Beras tersebut merupakan pusat pelatihan operator penggilingan padi di Indonesia. Melalui kerjasama dengan dinas-dinas, setiap tahun dilakukan bimbingan teknis untuk mencetak operator-operator penggilingan padi.

Peneliti Senior BB Pascapanen, Ridwan Rachmat mengatakan teknologi pengolahan padi sudah lama dikenal di Indonesia. Namun pengolahan padi di Indonesia masih sangat variatif dari teknologi sederhana hingga teknologi serba otomatis. Kualitas beras yang dihasilkan bervariasi, mulai dari kualitas beras giling yang rendah hingga beras premium dengan rendemen tinggi. Kondisi ini masih diperparah dengan umur alat yang lebih dari 10 tahun.

Menurut Ridwan, kendala yang dihadapi penggilingan padi di Indonesia antara lain karena belum menerapkan kaidah pengolahan beras yang standar. Sistem penggilingan one pass dengan konfigurasi mesin yang kurang baik menyebabkan rendemen masih rendah yaitu rata-rata sekitar 62,74 persen yang seharusnya dapat dicapai diatas 65 persen. Kualitas beras yang dihasilkan masih rendah dengan tingkat broken diatas 20 persen dan tidak seragam.

“Selain itu biaya pengolahan masih tinggi/belum efisien dan tingkat kehilangan hasil relatif masih tinggi. Manajemen pengelolaannya juga masih tradisional. Sementara, penggilingan padi keliling berkembang tapi kurang memperhatikan aspek mutu beras,” terangnya.

Dalam proses penggilingan padi, terangnya, mutu beras yang dihasilkan sangat dipengaruhi bahan bakunya yaitu gabah kering giling (GKG). Untuk mencapai hasil yang optimal diperlukan model RMU yang mampu menghasilkan beras yang memenuhi mutu fisik yang dipersyaratkan dalam Permentan no. 31 tahun 2017.

Persyaratan dalam permen tersebut meliputi kadar air, derajat sosoh, beras kepala, beras patah, total butir beras lainnya (butir menir, merah, kuning/rusak, mengapur), butir gabah, dan benda lain. Sedangkan, metoda analisa mutu beras mengikuti hasil pengujian di laboratorium sesuai SNI 6128 tahun 2015.

Lebih lanjut Ridwan menerangkan, penggilingan padi hasil revitalisasi RMU telah dilengkapi dengan penambahan whitener dan mist polisher serta penambahan elevator dan tanki tempering. RMU hasil revitalisasi berkapasitas maksimal 1,5 ton input perjam telah menunjukkan adanya peningkatan kualitas beras hasil giling dengan peningkatan rendemen masing-masing satu persen untuk VUB Ciherang, dan VUB Inpari 32.

Konfigurasi RMU ini, lanjutnya, berpotensi menjadi model yang mampu memproduksi beras premium dengan tiga alternatif input bahan baku yaitu dari Gabah Kering Giling (GKG), Beras Pecah kulit (BPK) dan dari beras sosoh asalan/berkualitas rendah.

Konfigurasi RMU hasil revitalisasi ini juga dapat diterapkan pada RMU skala menengah (PPM) menjadi fasilitas reprosesing beras yang telah melewati masa simpan 4 bulan, sesuai Peraturan Mentan No 38 tahun 2018 tentang Cadangan Beras Pemerintah (CBP) maksimal 4 bulan. Hal ini merupakan masalah terhadap derasnya arus masuk/keluarnya beras dari gudang Bulog dari aspek penyelamatan dan pemanfaatan beras yang telah melewati masa 4 bulan tersebut.

Dengan adanya kelengkapan teknologi whitener dan repolishing menggunakan Mist polisher, maka beras kusam dan berdebu setelah disimpan selama 4 bulan dapat direproses menjadi beras bersih dan mengkilap bebas debu. 

“Mutu beras rata-rata sebelum dan sesudah proses whitener dan mist polisher menunjukkan peningkatan kecerahan, derajat putih dan kebersihan beras, sehingga laik dipasarkan dengan harga beras yang layak,” pungkasnya.

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya