Pengukuhan Profesor Riset, Dr. Ir Mukhlis, MS Orasikan Inovasi Teknologi Pupuk untuk Rawa
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Pengukuhan Profesor Riset, Dr. Ir Mukhlis, MS Orasikan Inovasi Teknologi Pupuk untuk Rawa

...
RILIS.ID
Jakarta
23 Desember 2020 - 12:55 WIB
Bisnis | RILISID
...
Prof. Dr. Ir. Mukhlis, MS. FOTO: Humas Balitbangtan

RILISID, Jakarta — Dr. Ir. Mukhlis, MS dikukuhkan menjadi profesor riset bidang ilmu tanah, agroklimatologi, dan hidrologi oleh Majelis Pengukuhan Profesor Riset Kementerian Pertanian (Kementan) di Bogor, Senin (21/12/2020). Pada orasi pengukuhan profesor riset yang digelar secara virtual, Mukhlis menyampaikan orasi berjudul “Inovasi Teknologi Pupuk Hayati Mendukung Pengembangan Lahan Rawa Sebagai Lumbung Pangan.”

Dalam orasi tersebut, Mukhlis memaparkan bahwa sejak beberapa dekade terakhir, pemerintah berkali-kali mencanangkan dan mengembangkan program pengembangan lahan rawa untuk lumbung pangan. Terakhir pada 2020, lahan rawa di Kalimantan Tengah (Kalteng) disiapkan sebagai kawasan food estate untuk lumbung pangan terintegrasi.

“Pengalaman menunjukkan bahwa pengembangan dan pengelolaan lahan rawa untuk mendukung peningkatan produksi pangan menghadapi berbagai masalah dan tantangan. Utamanya, kekurangsuburan lahan akibat tingginya tingkat kemasaman tanah dan juga tingginya serangan organisme pengganggu tanaman sehingga tingkat produksi lahan rawa dan kesejahteraan petani relatif rendah,” terang Mukhlis.

Untuk mendukung optimalisasi lahan rawa, Mukhlis berhasil mengembangkan teknologi pupuk hayati adaptif tanah masam di lahan rawa. Menurutnya, pupuk sebagai salah satu komponen penting dalam optimalisasi lahan rawa perlu muatan inovasi dengan sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi.

Pengembangan teknologi pemupukan, lanjutnya, pada dasarnya bertumpu pada tiga basis inovasi utama dan ketiganya saling berinteraksi, yaitu: jumlah (dosis), cara pemberian, jenis atau formula inovatif yang sasarannya adalah peningkatan efektivitas, efisiensi penggunaan dan minimum dampak negatif.

“Selama ini, penggunaan pupuk di lahan rawa masih bertumpu pada pupuk anorganik. Kondisi lahan rawa yang masam menyebabkan efektivitas pupuk ini berkurang, sehingga penggunaannya cenderung boros,” ujar peneliti kelahiran Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, tanggal 16 September 1960 ini.

Menurutnya, penggunaan pupuk hayati merupakan solusi bijak menuju pertanian berkelanjutan, dan meminimalkan pencemaran lingkungan. “Titik tumpu pengembangan formulasi pupuk hayati secara teknis adalah memanfaatkan mikroba potensial hasil eksplorasi dan seleksi di lahan rawa,” tambah Mukhlis.

Pupuk hayati berbasis mikroba indigenous yang berasal dari lahan rawa, terangnya, mempunyai potensi besar dalam mendukung pengembangan lahan rawa sebagai lumbung pangan ke depan. Berbagai keunggulannya antara lain dapat meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman melalui percepatan dekomposisi bahan organik, penambatan N2, pelarutan P, dan penurunan kemasaman tanah. Penggunaan pupuk hayati juga dapat mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan pupuk anorganik, dan dapat memperbaiki kesehatan tanah (soil health).

“Seiring program food estate lahan rawa sebagai kawasan lumbung pangan yang sedang dikembangkan di Kalimantan Tengah, maka penggunaan pupuk hayati perlu terus digalakkan dan disinergikan dengan penggunaan pupuk anorganik dan atau pupuk organik, teknologi pengolahan tanah, varietas unggul, serta teknologi ramah lingkungan lainnya,” tuturnya.

Mukhlis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, dari pasangan H. Musdar (alm) dan Hj. Misra (almh). Ia menikah dengan Nani Astuty dan dikarunia tiga orang anak, yaitu Netya Khairina, Enny Khalisa, dan Gina Magfirah.

Ia menyelesaikan pendidikan dasar di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (1971) dan Madrasah Tsanawiyah Negeri di Angkinang (1974); serta SMA Negeri Kandangan (1977). Memperoleh gelar Sarjana Pertanian Jurusan Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat (1983); memperoleh gelar Master Sain bidang Sistem-Sistem Pertanian, Fakultas Pasca Sarjana, Universitas Hasanuddin, Makassar (1992); dan memperoleh gelar Doctor of Phylosophy bidang Mikrobiologi dan Kesuburan Lahan, Universiti Putra Malaysia, Kuala Lumpur (2006).

Mukhlis telah mengikuti beberapa pelatihan dengan bidang kompetensinya, antara lain: A Three-Week Course in Field Methods for Pest Management Research in Deepwater Rice, di Calcutta, India dan Dhaka, Bangladesh (1987); dan Training on Research Management di Michigan State University, USA (2014).

Menduduki jabatan struktural sebagai Kepala Bidang Program dan Evaluasi pada Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Badan Litbang Pertanian (2014-2017). Jabatan fungsional diawali sebagai Asisten Peneliti Muda (1988), Asisten Peneliti Madya (1989), Ajun Peneliti Muda (1992), Ajun Peneliti Madya (1994), Peneliti Muda (1997), Peneliti Madya (1999), Peneliti Madya (IV/c) tahun 2009, dan Peneliti Utama (IV/d) Bidang Ilmu Tanah, Agroklimatologi, dan Hidrologi tahun 2014.

Peraih tanda penghargaan Satyalancana Karya Satya XXX Tahun (2016) dari Presiden RI ini telah menghasilkan 90 Karya Tulis Ilmiah, baik yang ditulis sendiri maupun bersama penulis lain, dalam bentuk buku, jurnal, prosiding, dan makalah yang diterbitkan; 11 diantaranya ditulis dalam Bahasa Inggris.

Mukhlis aktif dalam organisasi profesi ilmiah, yaitu sebagai Ketua Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia cabang Kalimantan Selatan (2014 – sekarang), anggota Asosiasi Biochar Indonesia (2013 – sekarang), Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (2014 – sekarang), dan Perhimpunan Agronomi Indonesia (1996 – sekarang).

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya

Pengukuhan Profesor Riset, Dr. Ir Mukhlis, MS Orasikan Inovasi Teknologi Pupuk untuk Rawa

...
RILIS.ID
Jakarta
23 Desember 2020 - 12:55 WIB
Bisnis | RILISID
...
Prof. Dr. Ir. Mukhlis, MS. FOTO: Humas Balitbangtan

RILISID, Jakarta — Dr. Ir. Mukhlis, MS dikukuhkan menjadi profesor riset bidang ilmu tanah, agroklimatologi, dan hidrologi oleh Majelis Pengukuhan Profesor Riset Kementerian Pertanian (Kementan) di Bogor, Senin (21/12/2020). Pada orasi pengukuhan profesor riset yang digelar secara virtual, Mukhlis menyampaikan orasi berjudul “Inovasi Teknologi Pupuk Hayati Mendukung Pengembangan Lahan Rawa Sebagai Lumbung Pangan.”

Dalam orasi tersebut, Mukhlis memaparkan bahwa sejak beberapa dekade terakhir, pemerintah berkali-kali mencanangkan dan mengembangkan program pengembangan lahan rawa untuk lumbung pangan. Terakhir pada 2020, lahan rawa di Kalimantan Tengah (Kalteng) disiapkan sebagai kawasan food estate untuk lumbung pangan terintegrasi.

“Pengalaman menunjukkan bahwa pengembangan dan pengelolaan lahan rawa untuk mendukung peningkatan produksi pangan menghadapi berbagai masalah dan tantangan. Utamanya, kekurangsuburan lahan akibat tingginya tingkat kemasaman tanah dan juga tingginya serangan organisme pengganggu tanaman sehingga tingkat produksi lahan rawa dan kesejahteraan petani relatif rendah,” terang Mukhlis.

Untuk mendukung optimalisasi lahan rawa, Mukhlis berhasil mengembangkan teknologi pupuk hayati adaptif tanah masam di lahan rawa. Menurutnya, pupuk sebagai salah satu komponen penting dalam optimalisasi lahan rawa perlu muatan inovasi dengan sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi.

Pengembangan teknologi pemupukan, lanjutnya, pada dasarnya bertumpu pada tiga basis inovasi utama dan ketiganya saling berinteraksi, yaitu: jumlah (dosis), cara pemberian, jenis atau formula inovatif yang sasarannya adalah peningkatan efektivitas, efisiensi penggunaan dan minimum dampak negatif.

“Selama ini, penggunaan pupuk di lahan rawa masih bertumpu pada pupuk anorganik. Kondisi lahan rawa yang masam menyebabkan efektivitas pupuk ini berkurang, sehingga penggunaannya cenderung boros,” ujar peneliti kelahiran Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, tanggal 16 September 1960 ini.

Menurutnya, penggunaan pupuk hayati merupakan solusi bijak menuju pertanian berkelanjutan, dan meminimalkan pencemaran lingkungan. “Titik tumpu pengembangan formulasi pupuk hayati secara teknis adalah memanfaatkan mikroba potensial hasil eksplorasi dan seleksi di lahan rawa,” tambah Mukhlis.

Pupuk hayati berbasis mikroba indigenous yang berasal dari lahan rawa, terangnya, mempunyai potensi besar dalam mendukung pengembangan lahan rawa sebagai lumbung pangan ke depan. Berbagai keunggulannya antara lain dapat meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman melalui percepatan dekomposisi bahan organik, penambatan N2, pelarutan P, dan penurunan kemasaman tanah. Penggunaan pupuk hayati juga dapat mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan pupuk anorganik, dan dapat memperbaiki kesehatan tanah (soil health).

“Seiring program food estate lahan rawa sebagai kawasan lumbung pangan yang sedang dikembangkan di Kalimantan Tengah, maka penggunaan pupuk hayati perlu terus digalakkan dan disinergikan dengan penggunaan pupuk anorganik dan atau pupuk organik, teknologi pengolahan tanah, varietas unggul, serta teknologi ramah lingkungan lainnya,” tuturnya.

Mukhlis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, dari pasangan H. Musdar (alm) dan Hj. Misra (almh). Ia menikah dengan Nani Astuty dan dikarunia tiga orang anak, yaitu Netya Khairina, Enny Khalisa, dan Gina Magfirah.

Ia menyelesaikan pendidikan dasar di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (1971) dan Madrasah Tsanawiyah Negeri di Angkinang (1974); serta SMA Negeri Kandangan (1977). Memperoleh gelar Sarjana Pertanian Jurusan Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat (1983); memperoleh gelar Master Sain bidang Sistem-Sistem Pertanian, Fakultas Pasca Sarjana, Universitas Hasanuddin, Makassar (1992); dan memperoleh gelar Doctor of Phylosophy bidang Mikrobiologi dan Kesuburan Lahan, Universiti Putra Malaysia, Kuala Lumpur (2006).

Mukhlis telah mengikuti beberapa pelatihan dengan bidang kompetensinya, antara lain: A Three-Week Course in Field Methods for Pest Management Research in Deepwater Rice, di Calcutta, India dan Dhaka, Bangladesh (1987); dan Training on Research Management di Michigan State University, USA (2014).

Menduduki jabatan struktural sebagai Kepala Bidang Program dan Evaluasi pada Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Badan Litbang Pertanian (2014-2017). Jabatan fungsional diawali sebagai Asisten Peneliti Muda (1988), Asisten Peneliti Madya (1989), Ajun Peneliti Muda (1992), Ajun Peneliti Madya (1994), Peneliti Muda (1997), Peneliti Madya (1999), Peneliti Madya (IV/c) tahun 2009, dan Peneliti Utama (IV/d) Bidang Ilmu Tanah, Agroklimatologi, dan Hidrologi tahun 2014.

Peraih tanda penghargaan Satyalancana Karya Satya XXX Tahun (2016) dari Presiden RI ini telah menghasilkan 90 Karya Tulis Ilmiah, baik yang ditulis sendiri maupun bersama penulis lain, dalam bentuk buku, jurnal, prosiding, dan makalah yang diterbitkan; 11 diantaranya ditulis dalam Bahasa Inggris.

Mukhlis aktif dalam organisasi profesi ilmiah, yaitu sebagai Ketua Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia cabang Kalimantan Selatan (2014 – sekarang), anggota Asosiasi Biochar Indonesia (2013 – sekarang), Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (2014 – sekarang), dan Perhimpunan Agronomi Indonesia (1996 – sekarang).

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya