Penanganan Pascapanen yang Tepat Tekan Tingkat Kerusakan Bawang Merah
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Penanganan Pascapanen yang Tepat Tekan Tingkat Kerusakan Bawang Merah

...
RILIS.ID
Jakarta
21 Oktober 2020 - 14:30 WIB
Bisnis | RILISID
...
Petani bawang merah di Jawa Timur. FOTO: Humas Balitbangtan

RILISID, Jakarta — Bawang merah merupakan salah satu komoditas unggulan dan strategis yang mempengaruhi perekonomian nasional dan mempunyai nilai ekonomi tinggi. Agar mendapatkan hasil yang berkualitas, budidaya bawang merah harus memperhatikan proses panen dan pascapanen yang benar. Penanganan pascapanen yang tepat dapat menekan tingkat kerusakan dan meminimalkan kehilangan hasil.

Peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur, Aniswatul Khamidah mengatakan kegiatan pascapanen dilakukan setelah panen dengan tujuan menjaga kesegaran dan memperpanjang daya simpan bawang merah. Kegiatan pascapanen meliputi panen, pengeringan, sortasi dan grading, penyimpanan, hingga pengemasan.

“Setelah panen, bawang merah masih melakukan metabolisme dan respirasi dengan mengandalkan bahan cadangan makanan yang masih tersisa pada umbi. Tugas kita adalah bagaimana menekan tingkat kerusakan selama penyimpanan hingga sampai ke tangan konsumen dalam keadaan yang masih diterima konsumen,” ujar Aniswatul dalam Bimtek Online Series yang digelar oleh BPTP Jatim baru-baru ini.

Untuk mendapatkan umbi bermutu, terangnya, saat panen harus diperhatikan ketuaan bawang merah yang optimal. Cirinya, pangkal daun bila dipegang sudah lemah, 70-80 persen daun berwarna kuning, sebagian umbi tersembul di atas permukaan tanah, serta munculnya bau bawang yang khas.

Masa panen tergantung pada varietas dan lokasi tumbuh. Bawang merah untuk konsumsi dipanen saat umur 55-60 hari setelah tanam (hst) di dataran rendah dan umur 70-75 hst di dataran tinggi, dengan kerebahan daun 75-80%. Sementara panen sebagai calon benih pada umur 70-75 hst di dataran rendah, dan umur 80-90 hst di dataran tinggi, dengan kerebahan daun 90%.

Lebih lanjut Aniswatul menerangkan, sesudah panen dilakuan sortasi secara manual untuk memisahkan umbi yang sehat, utuh dan menarik, dengan umbi yang rusak. Sementara, grading dilakukan untuk menentukan tingkat mutu produk sehingga harga dapat ditentukan sesuai mutunya. Bawang merah digolongkan berdasarkan keseragaman bentuk, kebersihan, kekerasan, bebas penyakit dan diameter.

Aniswatul menekankan bahwa titik kritis pascapanen bawang merah terletak pada pengeringan dan pelayuan. Panen di musim hujan dapat menyebabkan pengeringan dan pelayuan tidak sempurna yang bisa menurukan mutu bawang merah seperti susut bobot, kekerasan menurun, keriput, umbi bertunas dan keluar akar, serta lebih cepat busuk yang menyebabkan masa simpan menurun. “Kejadian ini bisa menyebabkan kehilangan hasil sekitar hasil 30-40%,” tuturnya.

Proses curing dan pengeringan dilakukan melalui penjemuran untuk menghilangkan air di kulit luar dan ujung batang (ujung umbi) agar tidak terjadi susut bobot, keriput, umbi tidak busuk, serta warna kulit mengkilat dan menarik. Pelayuan biasanya dilakukan menggunakan sinar matahari selama 2-3 hari tergantung cuaca.

Penjemuran, lanjutnya, sebaiknya dilakukan dengan alas daun kelapa/daun kering di atas bambu. Pada awal penjemuran umbi di bawah dan daun di atas sehingga tidak terkena matahari langsung. Setelah hampir kering, umbi di atas dan daun di bawah agar warna bagus.

Saat pengeringan menggunakan sinar matahari, buanglah tanah yang menempel di bagian umbi. Pengeringan berhenti jika kadar air umbi 80-85 persen atau berat menyusut 15-20 persen (7-14 hari). “Hal ini ditandai dengan membungkus rapat bawang pada plastik tembus pandang selama 24 jam. Jika tidak ada titik air menempel pada plastik tersebut berarti sudah kering dan siap disimpan di gudang,” terang Aniswatul.

Penyimpanan bawang merah dapat dilakukan di atas perapian, menggunakan para-para bambu dan dibawahnya diberi pengasapan. Pengasapan dilakukan dengan membuat tungku berbahan bakar kayu atau sekam. Ruang penyimpanan harus dilengkapi jendela agar sirkulasi udara baik, serta thermometer sebagai pengatur suhu. Saat pengasapan, bawang merah sering dibalik agar panas merata. Proses pengeringan dengan pengasapan ini membutuhkan waktu sekitar 12 jam.

Menurut Aniswatul, untuk Penyimpanan biasanya petani menggantungkan umbi di atas tungku dapur atau asap udara kering. Bawang merah digantungkan di ruang terbuka pada suhu 26-30°C dengan kelembaban udara relatif 70-80%. Ruang penyimpanan harus bersih, ventilasi sirkulasi udara lancar.

Permasalahan pengeringan secara konvensional terjadi saat panen di musim penghujan yang menyebabkan pengeringan tidak sempurna yang menyebabkan umbi cepat busuk. “Pengeringan dengan cara konvensional susah untuk mengatur suhu dan kelembaban. Pengeringan pun lebih lama,” tuturnya.

Untuk itu, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen) memberikan solusi dengan mengembangkan metode CAS (Control Atmosphere Storage) dengan cara mengendalikan suhu, kelembaban, serta kadar CO2 dan O2. Penyimpanan dilakukan dalam gudang dengan mengurangi mengurangi kadar O2 dan meningkatkan CO2. Diharapkan kondisi bawang merah segar, aman dari serangga dan kebusukan. Dengan metode ini, susut bobot hanya delapan persen.

Teknologi lainnya yaitu Instore Drying yang merupakan gudang pengeringan sekaligus penyimpanan yang sesuai untuk daerah sentra produksi dengan musim hujan tinggi. Kondisi ruangan dapat diatur sesuai kondisi optimum bawang merah. Proses pelayuan dan pengeringan selama 3 hari, lebih cepat daripada pengeringan tradisional selama 9 hari.

Teknologi Instore Drying ini digunakan untuk menstabilkan harga bawang merah. “Saat panen raya, petani dapat menyimpan hasil panennya dalam Instore Drying, sehingga pada saat harga tinggi petani dapat menjual. Ini diharapkan bisa menstabilkan pasokan bawang merah,” pungkasnya.

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya

Penanganan Pascapanen yang Tepat Tekan Tingkat Kerusakan Bawang Merah

...
RILIS.ID
Jakarta
21 Oktober 2020 - 14:30 WIB
Bisnis | RILISID
...
Petani bawang merah di Jawa Timur. FOTO: Humas Balitbangtan

RILISID, Jakarta — Bawang merah merupakan salah satu komoditas unggulan dan strategis yang mempengaruhi perekonomian nasional dan mempunyai nilai ekonomi tinggi. Agar mendapatkan hasil yang berkualitas, budidaya bawang merah harus memperhatikan proses panen dan pascapanen yang benar. Penanganan pascapanen yang tepat dapat menekan tingkat kerusakan dan meminimalkan kehilangan hasil.

Peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur, Aniswatul Khamidah mengatakan kegiatan pascapanen dilakukan setelah panen dengan tujuan menjaga kesegaran dan memperpanjang daya simpan bawang merah. Kegiatan pascapanen meliputi panen, pengeringan, sortasi dan grading, penyimpanan, hingga pengemasan.

“Setelah panen, bawang merah masih melakukan metabolisme dan respirasi dengan mengandalkan bahan cadangan makanan yang masih tersisa pada umbi. Tugas kita adalah bagaimana menekan tingkat kerusakan selama penyimpanan hingga sampai ke tangan konsumen dalam keadaan yang masih diterima konsumen,” ujar Aniswatul dalam Bimtek Online Series yang digelar oleh BPTP Jatim baru-baru ini.

Untuk mendapatkan umbi bermutu, terangnya, saat panen harus diperhatikan ketuaan bawang merah yang optimal. Cirinya, pangkal daun bila dipegang sudah lemah, 70-80 persen daun berwarna kuning, sebagian umbi tersembul di atas permukaan tanah, serta munculnya bau bawang yang khas.

Masa panen tergantung pada varietas dan lokasi tumbuh. Bawang merah untuk konsumsi dipanen saat umur 55-60 hari setelah tanam (hst) di dataran rendah dan umur 70-75 hst di dataran tinggi, dengan kerebahan daun 75-80%. Sementara panen sebagai calon benih pada umur 70-75 hst di dataran rendah, dan umur 80-90 hst di dataran tinggi, dengan kerebahan daun 90%.

Lebih lanjut Aniswatul menerangkan, sesudah panen dilakuan sortasi secara manual untuk memisahkan umbi yang sehat, utuh dan menarik, dengan umbi yang rusak. Sementara, grading dilakukan untuk menentukan tingkat mutu produk sehingga harga dapat ditentukan sesuai mutunya. Bawang merah digolongkan berdasarkan keseragaman bentuk, kebersihan, kekerasan, bebas penyakit dan diameter.

Aniswatul menekankan bahwa titik kritis pascapanen bawang merah terletak pada pengeringan dan pelayuan. Panen di musim hujan dapat menyebabkan pengeringan dan pelayuan tidak sempurna yang bisa menurukan mutu bawang merah seperti susut bobot, kekerasan menurun, keriput, umbi bertunas dan keluar akar, serta lebih cepat busuk yang menyebabkan masa simpan menurun. “Kejadian ini bisa menyebabkan kehilangan hasil sekitar hasil 30-40%,” tuturnya.

Proses curing dan pengeringan dilakukan melalui penjemuran untuk menghilangkan air di kulit luar dan ujung batang (ujung umbi) agar tidak terjadi susut bobot, keriput, umbi tidak busuk, serta warna kulit mengkilat dan menarik. Pelayuan biasanya dilakukan menggunakan sinar matahari selama 2-3 hari tergantung cuaca.

Penjemuran, lanjutnya, sebaiknya dilakukan dengan alas daun kelapa/daun kering di atas bambu. Pada awal penjemuran umbi di bawah dan daun di atas sehingga tidak terkena matahari langsung. Setelah hampir kering, umbi di atas dan daun di bawah agar warna bagus.

Saat pengeringan menggunakan sinar matahari, buanglah tanah yang menempel di bagian umbi. Pengeringan berhenti jika kadar air umbi 80-85 persen atau berat menyusut 15-20 persen (7-14 hari). “Hal ini ditandai dengan membungkus rapat bawang pada plastik tembus pandang selama 24 jam. Jika tidak ada titik air menempel pada plastik tersebut berarti sudah kering dan siap disimpan di gudang,” terang Aniswatul.

Penyimpanan bawang merah dapat dilakukan di atas perapian, menggunakan para-para bambu dan dibawahnya diberi pengasapan. Pengasapan dilakukan dengan membuat tungku berbahan bakar kayu atau sekam. Ruang penyimpanan harus dilengkapi jendela agar sirkulasi udara baik, serta thermometer sebagai pengatur suhu. Saat pengasapan, bawang merah sering dibalik agar panas merata. Proses pengeringan dengan pengasapan ini membutuhkan waktu sekitar 12 jam.

Menurut Aniswatul, untuk Penyimpanan biasanya petani menggantungkan umbi di atas tungku dapur atau asap udara kering. Bawang merah digantungkan di ruang terbuka pada suhu 26-30°C dengan kelembaban udara relatif 70-80%. Ruang penyimpanan harus bersih, ventilasi sirkulasi udara lancar.

Permasalahan pengeringan secara konvensional terjadi saat panen di musim penghujan yang menyebabkan pengeringan tidak sempurna yang menyebabkan umbi cepat busuk. “Pengeringan dengan cara konvensional susah untuk mengatur suhu dan kelembaban. Pengeringan pun lebih lama,” tuturnya.

Untuk itu, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen) memberikan solusi dengan mengembangkan metode CAS (Control Atmosphere Storage) dengan cara mengendalikan suhu, kelembaban, serta kadar CO2 dan O2. Penyimpanan dilakukan dalam gudang dengan mengurangi mengurangi kadar O2 dan meningkatkan CO2. Diharapkan kondisi bawang merah segar, aman dari serangga dan kebusukan. Dengan metode ini, susut bobot hanya delapan persen.

Teknologi lainnya yaitu Instore Drying yang merupakan gudang pengeringan sekaligus penyimpanan yang sesuai untuk daerah sentra produksi dengan musim hujan tinggi. Kondisi ruangan dapat diatur sesuai kondisi optimum bawang merah. Proses pelayuan dan pengeringan selama 3 hari, lebih cepat daripada pengeringan tradisional selama 9 hari.

Teknologi Instore Drying ini digunakan untuk menstabilkan harga bawang merah. “Saat panen raya, petani dapat menyimpan hasil panennya dalam Instore Drying, sehingga pada saat harga tinggi petani dapat menjual. Ini diharapkan bisa menstabilkan pasokan bawang merah,” pungkasnya.

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya