Pemerintah dan DPR Sepakat Pertumbuhan Ekonomi 2022 Capai 5,5 Persen
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Pemerintah dan DPR Sepakat Pertumbuhan Ekonomi 2022 Capai 5,5 Persen

...
RILIS.ID
Jakarta
2 September 2021 - 0:02 WIB
Ekonomi | RILISID
...
Menkeu Sri Mulyani Indrawati. Ilustrasi: Rilisid/Kalbi Rikardo

RILISID, Jakarta — Pemerintah dan DPR optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan bisa lebih baik meski sedang dihantam pandemi Covid-19.

Hal itu terungkap dalam asumsi dasar ekonomi makro Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau RAPBN 2022, di mana besaran pertumbuhan ekonomi disepakati sebesar 5,2 sampai 5,5 persen (year on year/yoy).

Kemudian tingkat inflasi tiga persen, nilai tukar rupiah Rp14.350/dolar Amerika Serikat, dan tingkat suku bunga Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun sebesar 6,8 persen.

Sebelum mencapai kesepakatan tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR pada Senin (30/8/2021) lalu, mengestimasi pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,0-5,5 persen.

Hal ini menurut Sri Mulyani, disebabkan pandemi Covid-19 yang masih mempengaruhi perekonomian Indonesia.

"Ini adalah salah satu forecast yang mungkin paling sulit dalam ketidakpastian begitu banyak. Pandeminya tidak bisa 100 persen kita bisa prediksi,” kata Sri Mulyani dikutip dari laman setkab.go.id, Rabu (1/9/2021).

Dia menyampaikan Indonesia perlu mewaspadai faktor tapering, supply disruption, dan administered price dalam menjaga inflasi. Meski rerata inflasi 2021 masih di bawah 1,5 persen, namun tahun depan harus tetap mempertimbangkan secara hati-hati faktor yang bisa mempengaruhi.

“Pemerintah akan terus melakukan berbagai reformasi untuk bisa memperbaiki dari sisi komunikasi, sisi distribusi, sisi suplai pasokan, dan juga untuk melihat pola dari seasonality atau musiman yang biasanya juga mempengaruhi inflasi,” jelasnya.

Sedangkan dalam memberikan proyeksi untuk nilai tukar dan tingkat suku bunga SUN 10 tahun, Sri Mulyani mengatakan faktor yang menentukan yaitu gerakan suku bunga internasional maupun denominasi dolar yang sangat bergantung dari pemulihan ekonomi di Amerika Serikat.

“Dari sisi dua faktor ini, terutama Amerika Serikat kita perlu mengantisipasi pergerakan terhadap rupiah kita, walaupun rupiah Indonesia dalam hal ini dari sisi depresiasi yield to date-nya relatif di 2,3 persen dibandingkan dengan negara lain emerging country yang mengalami koreksi lebih dalam, ini Indonesia relatif cukup baik,” pungkasnya. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Pemerintah dan DPR Sepakat Pertumbuhan Ekonomi 2022 Capai 5,5 Persen

...
RILIS.ID
Jakarta
2 September 2021 - 0:02 WIB
Ekonomi | RILISID
...
Menkeu Sri Mulyani Indrawati. Ilustrasi: Rilisid/Kalbi Rikardo

RILISID, Jakarta — Pemerintah dan DPR optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan bisa lebih baik meski sedang dihantam pandemi Covid-19.

Hal itu terungkap dalam asumsi dasar ekonomi makro Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau RAPBN 2022, di mana besaran pertumbuhan ekonomi disepakati sebesar 5,2 sampai 5,5 persen (year on year/yoy).

Kemudian tingkat inflasi tiga persen, nilai tukar rupiah Rp14.350/dolar Amerika Serikat, dan tingkat suku bunga Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun sebesar 6,8 persen.

Sebelum mencapai kesepakatan tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR pada Senin (30/8/2021) lalu, mengestimasi pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,0-5,5 persen.

Hal ini menurut Sri Mulyani, disebabkan pandemi Covid-19 yang masih mempengaruhi perekonomian Indonesia.

"Ini adalah salah satu forecast yang mungkin paling sulit dalam ketidakpastian begitu banyak. Pandeminya tidak bisa 100 persen kita bisa prediksi,” kata Sri Mulyani dikutip dari laman setkab.go.id, Rabu (1/9/2021).

Dia menyampaikan Indonesia perlu mewaspadai faktor tapering, supply disruption, dan administered price dalam menjaga inflasi. Meski rerata inflasi 2021 masih di bawah 1,5 persen, namun tahun depan harus tetap mempertimbangkan secara hati-hati faktor yang bisa mempengaruhi.

“Pemerintah akan terus melakukan berbagai reformasi untuk bisa memperbaiki dari sisi komunikasi, sisi distribusi, sisi suplai pasokan, dan juga untuk melihat pola dari seasonality atau musiman yang biasanya juga mempengaruhi inflasi,” jelasnya.

Sedangkan dalam memberikan proyeksi untuk nilai tukar dan tingkat suku bunga SUN 10 tahun, Sri Mulyani mengatakan faktor yang menentukan yaitu gerakan suku bunga internasional maupun denominasi dolar yang sangat bergantung dari pemulihan ekonomi di Amerika Serikat.

“Dari sisi dua faktor ini, terutama Amerika Serikat kita perlu mengantisipasi pergerakan terhadap rupiah kita, walaupun rupiah Indonesia dalam hal ini dari sisi depresiasi yield to date-nya relatif di 2,3 persen dibandingkan dengan negara lain emerging country yang mengalami koreksi lebih dalam, ini Indonesia relatif cukup baik,” pungkasnya. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya