Pandemi COVID-19, Peningkatan Indeks Pertanaman Terus Berlanjut
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Pandemi COVID-19, Peningkatan Indeks Pertanaman Terus Berlanjut

...
RILIS.ID
Jakarta
28 Oktober 2020 - 13:59 WIB
Bisnis | RILISID
...
FOTO: Humas Balitbangtan

RILISID, Jakarta — Kegiatan peningkatan indeks pertanaman (IP) merupakan salah satu kegiatan andalan lingkup Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) selama 3 tahun terakhir. Tujuannya untuk meningkatan Indeks Pertanaman pada lahan sub optimal dari IP 100 menjadi IP 200 atau dari IP 200 menjadi IP 300 dalam pola tanam setahun sehingga meningkatkan produksi, produktivitas, dan pendapatan usahatani berbasis tanaman pangan.

Namun pandemi COVID-19 seakan menghambat pelaksanaan kegiatan tersebut, terutama adanya refocusing anggaran dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pada kenyataannya, Langkah Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) tidak terhenti dalam melakukan implementasi peningkatan IP di daerahnya.

Untuk meningkatkan koordinasi kegiatan, pada Senin (26/10/2020) digelar Jumpa Teknologi: Dialog Peningkatan Indeks Pertanaman pada Kondisi Pandemi Covid-19. Kegiatan ini diikuti seluruh penanggung jawab dan anggota tim kegiatan peningkatan IP di BPTP.

Penanggung Jawab kegiatan peningkatan IP, Erytrhina menyampaikan bahwa selama masa pandemi ini terdapat keragaman kegiatan IP di BPTP. Ada BPTP yang sebatas koordinasi, namun ada juga yang sampai panen. Selain itu, ada BPTP yang aktif menyelenggarakan webinar sebagai bagian dari diseminasi.

Pada jumpa teknologi ini, narasumber dari Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi, Yayan Apriyana menyampaikan materi terkait Sistem Informasi Kalender Tanam (SI Katam) Terpadu Versi 3.1 menghadapi musim hujan 2020/2021. Pada Oktober 2020, kita sudah memasuki musim hujan dan diprediksi akan terjadinya La Nina. Sisi positifnya di sektor pertanian yaitu potensi luas tanam padi di lahan sawah mencapai 9.798.762 Ha (131,4 persen Luas Baku Sawah).

Menurut yayan, SI Katam Terpadu sudah memasuki generasi ke-3 yang diperkaya dengan prediksi kekeringan, pemodelan neraca air dan standing crop, serta mencakup 7.062 informasi untuk penyuluh pertanian (Info BPP).

Narasumber dari BPTP Jawa Barat, Yanto Surdianto materi tentang “Persepsi dan Tingkat Adopsi Inovasi Petani terhadap Teknologi Peningkatan IP Patbo Super”. Hasil kajian menunjukkan bawah petani sudah sampai pada taraf konfirmasi yaitu siap melaksanakan teknologi. Diseminasi teknologi ini sudah sangat baik, dibuktikan dengan adanya replikasi teknologi pada lokasi yang berbeda yang mencapai 20 hektare untuk tahun ini di Kabupaten Sumedang.

Sharing pengalaman disampaikan oleh BPTP Sumatera Utara, Bengkulu, Bangka Belitung, Lampung, DI Yogyakarta dan Kalimantan Selatan. Keenam BPTP ini mampu melaksanakan kegiatan peningkatan IP sampai produksi dan tetap melakukan diseminasi secara online.

Sebaran lahan suboptimal yang menjadi lokasi kegiatan yaitu lahan kering, sawah tadah hujan, lahan rawa pasang surut dan lahan sawah ex-tambang timah. Teknologi yang dilakukan diantaranya pemanfataan sumber daya air dalam dan air permukaan, Patbo Super, Tumpang Sari Tanaman (Turiman) serta introduksi Varietas Unggul Baru.

Adanya refocusing akibat Pandemi C-19 dan PSBB menjadi pembelajaran yang “seru” dalam implementasi kegiatan. Diantaranya komunikasi yang dilakukan via WhatsApp, pendampingan intensif dilakukan oleh PPL, pengambilan data dilakukan oleh petani dan melaksanakan perjalanan dinas dengan merogoh kocek sendiri. Lesson learned dari 6 BPTP diharapkan menjadi inspirasi bagi BPTP lainnya untuk berkreasi dalam implementasi kegiatan.

Pada akhir acara, Erythrina menyampaikan apresiasi luar biasa kepada semua Tim Peningkatan IP dan menghimbau tahun 2021 dapat dirancang kolaborasi antar sesama BPTP dan BBP2TP untuk menghasilkan Karya Tulis Ilmiah (KTI) sesuai pemenuhan Hasil Kerja Minimal (HKM) untuk peneliti dan pemenuhan Angka Kredit untuk Penyuluh.

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya

Pandemi COVID-19, Peningkatan Indeks Pertanaman Terus Berlanjut

...
RILIS.ID
Jakarta
28 Oktober 2020 - 13:59 WIB
Bisnis | RILISID
...
FOTO: Humas Balitbangtan

RILISID, Jakarta — Kegiatan peningkatan indeks pertanaman (IP) merupakan salah satu kegiatan andalan lingkup Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) selama 3 tahun terakhir. Tujuannya untuk meningkatan Indeks Pertanaman pada lahan sub optimal dari IP 100 menjadi IP 200 atau dari IP 200 menjadi IP 300 dalam pola tanam setahun sehingga meningkatkan produksi, produktivitas, dan pendapatan usahatani berbasis tanaman pangan.

Namun pandemi COVID-19 seakan menghambat pelaksanaan kegiatan tersebut, terutama adanya refocusing anggaran dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pada kenyataannya, Langkah Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) tidak terhenti dalam melakukan implementasi peningkatan IP di daerahnya.

Untuk meningkatkan koordinasi kegiatan, pada Senin (26/10/2020) digelar Jumpa Teknologi: Dialog Peningkatan Indeks Pertanaman pada Kondisi Pandemi Covid-19. Kegiatan ini diikuti seluruh penanggung jawab dan anggota tim kegiatan peningkatan IP di BPTP.

Penanggung Jawab kegiatan peningkatan IP, Erytrhina menyampaikan bahwa selama masa pandemi ini terdapat keragaman kegiatan IP di BPTP. Ada BPTP yang sebatas koordinasi, namun ada juga yang sampai panen. Selain itu, ada BPTP yang aktif menyelenggarakan webinar sebagai bagian dari diseminasi.

Pada jumpa teknologi ini, narasumber dari Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi, Yayan Apriyana menyampaikan materi terkait Sistem Informasi Kalender Tanam (SI Katam) Terpadu Versi 3.1 menghadapi musim hujan 2020/2021. Pada Oktober 2020, kita sudah memasuki musim hujan dan diprediksi akan terjadinya La Nina. Sisi positifnya di sektor pertanian yaitu potensi luas tanam padi di lahan sawah mencapai 9.798.762 Ha (131,4 persen Luas Baku Sawah).

Menurut yayan, SI Katam Terpadu sudah memasuki generasi ke-3 yang diperkaya dengan prediksi kekeringan, pemodelan neraca air dan standing crop, serta mencakup 7.062 informasi untuk penyuluh pertanian (Info BPP).

Narasumber dari BPTP Jawa Barat, Yanto Surdianto materi tentang “Persepsi dan Tingkat Adopsi Inovasi Petani terhadap Teknologi Peningkatan IP Patbo Super”. Hasil kajian menunjukkan bawah petani sudah sampai pada taraf konfirmasi yaitu siap melaksanakan teknologi. Diseminasi teknologi ini sudah sangat baik, dibuktikan dengan adanya replikasi teknologi pada lokasi yang berbeda yang mencapai 20 hektare untuk tahun ini di Kabupaten Sumedang.

Sharing pengalaman disampaikan oleh BPTP Sumatera Utara, Bengkulu, Bangka Belitung, Lampung, DI Yogyakarta dan Kalimantan Selatan. Keenam BPTP ini mampu melaksanakan kegiatan peningkatan IP sampai produksi dan tetap melakukan diseminasi secara online.

Sebaran lahan suboptimal yang menjadi lokasi kegiatan yaitu lahan kering, sawah tadah hujan, lahan rawa pasang surut dan lahan sawah ex-tambang timah. Teknologi yang dilakukan diantaranya pemanfataan sumber daya air dalam dan air permukaan, Patbo Super, Tumpang Sari Tanaman (Turiman) serta introduksi Varietas Unggul Baru.

Adanya refocusing akibat Pandemi C-19 dan PSBB menjadi pembelajaran yang “seru” dalam implementasi kegiatan. Diantaranya komunikasi yang dilakukan via WhatsApp, pendampingan intensif dilakukan oleh PPL, pengambilan data dilakukan oleh petani dan melaksanakan perjalanan dinas dengan merogoh kocek sendiri. Lesson learned dari 6 BPTP diharapkan menjadi inspirasi bagi BPTP lainnya untuk berkreasi dalam implementasi kegiatan.

Pada akhir acara, Erythrina menyampaikan apresiasi luar biasa kepada semua Tim Peningkatan IP dan menghimbau tahun 2021 dapat dirancang kolaborasi antar sesama BPTP dan BBP2TP untuk menghasilkan Karya Tulis Ilmiah (KTI) sesuai pemenuhan Hasil Kerja Minimal (HKM) untuk peneliti dan pemenuhan Angka Kredit untuk Penyuluh.

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya