Mengenal Gempa Megathrust yang Terjadi di Selat Sunda pada Jumat Sore
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Mengenal Gempa Megathrust yang Terjadi di Selat Sunda pada Jumat Sore

...
RILIS.ID
Jakarta
14 Januari 2022 - 17:41 WIB
Teknologi | RILISID
...
Foto: Tangkapan layar BMKG

RILISID, Jakarta — Istilah megathrust dalam peristiwa gempa bumi belakangan ramai diperbincangkan. Teranyar, istilah itu kembali muncul saat gempa bermagnitudo 6,6 mengguncang Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Jumat (14/1/2022) pukul 16.05 WIB.

Lalu bagaimana memaknai arti gempa megathrust? Berikut penjelasan Koordinator Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono seperti dikutip dari laman bpbd.jogjaprov.go.id.

Gempa megathrust dipahami masyarakat sebagai sesuatu yang baru dan akan segera terjadi dalam waktu dekat, berkekuatan sangat besar, dan menimbulkan kerusakan serta tsunami dahsyat. Pemahaman seperti ini tentu saja kurang tepat.

Zona megathrust sebenarnya sekadar istilah untuk menyebutkan sumber gempa tumbukan lempeng di kedalaman dangkal.

Dalam hal ini, lempeng samudra yang menunjam ke bawah lempeng benua membentuk medan tegangan (stress) pada bidang kontak antar-lempeng yang kemudian dapat bergeser secara tiba-tiba memicu gempa.

Jika terjadi gempa, maka bagian lempeng benua yang berada di atas lempeng samudra bergerak terdorong naik (thrusting).

Jalur subduksi lempeng umumnya sangat panjang dengan kedalaman dangkal mencakup bidang kontak antar-lempeng. Dalam perkembangannya, zona subduksi diasumsikan sebagai patahan naik yang besar atau kini populer dengan sebutan zona megathrust.

Zona megathrust bukanlah hal baru. Di Indonesia, zona sumber gempa ini sudah ada sejak jutaan tahun lalu saat terbentuknya rangkaian busur kepulauan. Ini berada di zona subduksi aktif, seperti subduksi Sunda mencakup Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, dan Sumba.

Kemudian subduksi Banda, subduksi lempeng Laut Maluku, subduksi Sulawesi, subduksi lempeng Laut Filipina, dan subduksi Utara Papua.

Saat ini, segmen zona megathrust Indonesia sudah dapat dikenali potensinya. Seluruh aktivitas gempa yang bersumber di zona megathrust disebut sebagai gempa megathrust dan tidak selalu berkekuatan besar.

Sebagai sumber gempa, zona megathrust dapat membangkitkan gempa berbagai magnitudo dan kedalaman. Data hasil monitoring BMKG menunjukkan, justru gempa kecil yang lebih banyak terjadi di zona megathrust, meskipun zona tersebut dapat memicu gempa besar.

Megathrust Selatan Jawa

Dalam buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia tahun 2017 disebutkan bahwa di Samudra Hindia selatan Jawa terdapat tiga segmentasi megathrust. Yakni segmen Jawa Timur, Jawa Tengah-Jawa Barat, dan Banten-Selat Sunda. Ketiganya memiliki magnitudo tertarget M 8,7.

Namun demikian, jika skenario model dibuat dengan asumsi dua segmen megathrust yang "bergerak" secara simultan, maka magnitudo gempa yang dihasilkan bisa lebih besar dari 8,7.

Besarnya magnitudo gempa yang disampaikan tersebut adalah potensi skenario terburuk (worst case), bukan prediksi yang akan terjadi dalam waktu dekat. Sehingga kapan terjadinya tidak ada satu pun orang yang tahu. Untuk itu, dalam ketidakpastian kapan terjadinya, kita semua harus melakukan upaya mitigasi.

Hasil monitoring BMKG menunjukkan bahwa zona megathrust selatan Jawa memang sangat aktif yang tampak dalam peta aktivitas kegempaannya (seismisitas).

Dalam catatan sejarah, sejak tahun 1700 zona megathrust selatan Jawa sudah beberapa kali terjadi aktivitas gempa besar (major earthquake) dan dahsyat (great earthquake).

Gempa besar dengan magnitudo antara 7,0 dan 7,9 yang bersumber di zona megathrust selatan Jawa sudah terjadi delapan kali. Yaitu pada tahun 1903 (M 7,9), 1921 (M 7,5), 1937 (M 7,2), 1981 (M 7,0), 1994 (M 7,6), 2006 (M 7,8), dan 2009 (M 7,3).

Sementara gempa dahsyat dengan magnitudo 8,0 atau lebih besar yang bersumber di zona megathrust selatan Jawa sudah terjadi tiga kali. Masing-masing pada 1780 (M 8,5), 1859 (M 8,5), dan 1943 (M 8,1).

Sedangkan untuk gempa dengan kekuatan 9,0 atau lebih besar di selatan Jawa belum tercatat dalam katalog sejarah gempa. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Mengenal Gempa Megathrust yang Terjadi di Selat Sunda pada Jumat Sore

...
RILIS.ID
Jakarta
14 Januari 2022 - 17:41 WIB
Teknologi | RILISID
...
Foto: Tangkapan layar BMKG

RILISID, Jakarta — Istilah megathrust dalam peristiwa gempa bumi belakangan ramai diperbincangkan. Teranyar, istilah itu kembali muncul saat gempa bermagnitudo 6,6 mengguncang Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Jumat (14/1/2022) pukul 16.05 WIB.

Lalu bagaimana memaknai arti gempa megathrust? Berikut penjelasan Koordinator Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono seperti dikutip dari laman bpbd.jogjaprov.go.id.

Gempa megathrust dipahami masyarakat sebagai sesuatu yang baru dan akan segera terjadi dalam waktu dekat, berkekuatan sangat besar, dan menimbulkan kerusakan serta tsunami dahsyat. Pemahaman seperti ini tentu saja kurang tepat.

Zona megathrust sebenarnya sekadar istilah untuk menyebutkan sumber gempa tumbukan lempeng di kedalaman dangkal.

Dalam hal ini, lempeng samudra yang menunjam ke bawah lempeng benua membentuk medan tegangan (stress) pada bidang kontak antar-lempeng yang kemudian dapat bergeser secara tiba-tiba memicu gempa.

Jika terjadi gempa, maka bagian lempeng benua yang berada di atas lempeng samudra bergerak terdorong naik (thrusting).

Jalur subduksi lempeng umumnya sangat panjang dengan kedalaman dangkal mencakup bidang kontak antar-lempeng. Dalam perkembangannya, zona subduksi diasumsikan sebagai patahan naik yang besar atau kini populer dengan sebutan zona megathrust.

Zona megathrust bukanlah hal baru. Di Indonesia, zona sumber gempa ini sudah ada sejak jutaan tahun lalu saat terbentuknya rangkaian busur kepulauan. Ini berada di zona subduksi aktif, seperti subduksi Sunda mencakup Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, dan Sumba.

Kemudian subduksi Banda, subduksi lempeng Laut Maluku, subduksi Sulawesi, subduksi lempeng Laut Filipina, dan subduksi Utara Papua.

Saat ini, segmen zona megathrust Indonesia sudah dapat dikenali potensinya. Seluruh aktivitas gempa yang bersumber di zona megathrust disebut sebagai gempa megathrust dan tidak selalu berkekuatan besar.

Sebagai sumber gempa, zona megathrust dapat membangkitkan gempa berbagai magnitudo dan kedalaman. Data hasil monitoring BMKG menunjukkan, justru gempa kecil yang lebih banyak terjadi di zona megathrust, meskipun zona tersebut dapat memicu gempa besar.

Megathrust Selatan Jawa

Dalam buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia tahun 2017 disebutkan bahwa di Samudra Hindia selatan Jawa terdapat tiga segmentasi megathrust. Yakni segmen Jawa Timur, Jawa Tengah-Jawa Barat, dan Banten-Selat Sunda. Ketiganya memiliki magnitudo tertarget M 8,7.

Namun demikian, jika skenario model dibuat dengan asumsi dua segmen megathrust yang "bergerak" secara simultan, maka magnitudo gempa yang dihasilkan bisa lebih besar dari 8,7.

Besarnya magnitudo gempa yang disampaikan tersebut adalah potensi skenario terburuk (worst case), bukan prediksi yang akan terjadi dalam waktu dekat. Sehingga kapan terjadinya tidak ada satu pun orang yang tahu. Untuk itu, dalam ketidakpastian kapan terjadinya, kita semua harus melakukan upaya mitigasi.

Hasil monitoring BMKG menunjukkan bahwa zona megathrust selatan Jawa memang sangat aktif yang tampak dalam peta aktivitas kegempaannya (seismisitas).

Dalam catatan sejarah, sejak tahun 1700 zona megathrust selatan Jawa sudah beberapa kali terjadi aktivitas gempa besar (major earthquake) dan dahsyat (great earthquake).

Gempa besar dengan magnitudo antara 7,0 dan 7,9 yang bersumber di zona megathrust selatan Jawa sudah terjadi delapan kali. Yaitu pada tahun 1903 (M 7,9), 1921 (M 7,5), 1937 (M 7,2), 1981 (M 7,0), 1994 (M 7,6), 2006 (M 7,8), dan 2009 (M 7,3).

Sementara gempa dahsyat dengan magnitudo 8,0 atau lebih besar yang bersumber di zona megathrust selatan Jawa sudah terjadi tiga kali. Masing-masing pada 1780 (M 8,5), 1859 (M 8,5), dan 1943 (M 8,1).

Sedangkan untuk gempa dengan kekuatan 9,0 atau lebih besar di selatan Jawa belum tercatat dalam katalog sejarah gempa. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya