Aduan Konsumen soal e-Commerce Sepanjang 2020 Melonjak, Ini Kata BPKN
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Aduan Konsumen soal e-Commerce Sepanjang 2020 Melonjak, Ini Kata BPKN

...
RILIS.ID
Jakarta
14 Desember 2020 - 14:00 WIB
Bisnis | RILISID
...
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supartman

RILISID, Jakarta — Ketua Komisi Advokasi Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) Rolas B. Sitinjak menyebut, pengaduan soal e-commercer melonjak pada 2020.

Dia menjelaskan, dari 1.276 pengaduan sepanjang Januari-Desember 2020 pengaduan sektor e-commerce meningkat tajam. Meski demikian, sektor perumahan masih mendominasi pengaduan yang masuk.

"Dari 1.276 pengaduan ini, e-commerce yang alami peningkatan paling tajam, paling tinggi. Karena tiga tahun kemarin (2017-2019) cuma 1,35 persen, tapi pada 2020 meningkat tajam menjadi 23,11 persen," jelasnya, dalam paparan capaian kinerja secara virtual, Senin (14/12/2020).

Rolas merinci, pengaduan di sektor perumahan mencapai 39,92 persen. Disusul kemudian sektor e-commerce 23,11 persen; jasa keuangan 16,48 persen; lalu jasa telekomunikasi 5,41 persen; jasa transportasi 2,38 persen; serta barang elektronik, telematika dan kendaraan bermotor; listrik gas dan rumah tangga; obat dan makanan; hingga layanan kesehatan yang persentasenya kecil.

Berdasarkan data September 2017-2019 tercatat ada 2.378 pengaduan, di mana sektor perumahan mendominasi pengaduan hingga 83,6 persen.

Rolas menuturkan dari 1.276 pengaduan tersebut, sebanyak 600 pengaduan (47,02 persen) terpulihkan haknya, atau masalahnya selesai tanpa proses hukum.

Sementara itu, sejumlah masalah yang banyak diadukan konsumen di bidang e-commerce yakni mengenai OTP dan pishing. Namun, ia menilai hal tersebut kebanyakan terjadi karena keteledoran konsumen. Maka BPKN terus mendorong edukasi bagi konsumen dalam transaksi berbelanja online yang aman.

Wakil Ketua Komisi Penelitian dan Pengembangan BPKN Anna Maria Tri Anggraini menambahkan rekomendasi yang disampaikan BPKN dalam penanganan pengaduan di sektor e-commerce diantaranya meminta otoritas terkait, termasuk marketplace, untuk lebih meningkatkan pengawasan.

"Terutama juga pentingnya atau disegerakannya terbitnya UU perlindungan data pribadi karena ini juga sesuai dengan imbauan dan anjuran Presiden Jokowi agar segera DPR sahkan UU perlindungan data pribadi karena ini ini penting untuk keamanan dan keselamatan konsumen yang selama ini bocor lewat pishing atau SMS atau data yang diserahkan ke online shop," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua BPKN Rizal E. Halim mengakui sepanjang 2020, ada pergeseran tren pengaduan yang tadinya didominasi sektor perumahan, kini mulai merambah sektor e-commerce dan jasa keuangan.

"Sektor yang melonjak tinggi sepanjang pandemi ini sektor keuangan dan e-commerce. Maka, BPKN sementara akan memfokuskan diri ke sini, pertama karena regulasi yang belum ajek dan karena dampak kasus yang melanda dua sektor ini cukup masif dan meresahkan masyarakat," pungkas Rizal.

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya

Aduan Konsumen soal e-Commerce Sepanjang 2020 Melonjak, Ini Kata BPKN

...
RILIS.ID
Jakarta
14 Desember 2020 - 14:00 WIB
Bisnis | RILISID
...
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supartman

RILISID, Jakarta — Ketua Komisi Advokasi Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) Rolas B. Sitinjak menyebut, pengaduan soal e-commercer melonjak pada 2020.

Dia menjelaskan, dari 1.276 pengaduan sepanjang Januari-Desember 2020 pengaduan sektor e-commerce meningkat tajam. Meski demikian, sektor perumahan masih mendominasi pengaduan yang masuk.

"Dari 1.276 pengaduan ini, e-commerce yang alami peningkatan paling tajam, paling tinggi. Karena tiga tahun kemarin (2017-2019) cuma 1,35 persen, tapi pada 2020 meningkat tajam menjadi 23,11 persen," jelasnya, dalam paparan capaian kinerja secara virtual, Senin (14/12/2020).

Rolas merinci, pengaduan di sektor perumahan mencapai 39,92 persen. Disusul kemudian sektor e-commerce 23,11 persen; jasa keuangan 16,48 persen; lalu jasa telekomunikasi 5,41 persen; jasa transportasi 2,38 persen; serta barang elektronik, telematika dan kendaraan bermotor; listrik gas dan rumah tangga; obat dan makanan; hingga layanan kesehatan yang persentasenya kecil.

Berdasarkan data September 2017-2019 tercatat ada 2.378 pengaduan, di mana sektor perumahan mendominasi pengaduan hingga 83,6 persen.

Rolas menuturkan dari 1.276 pengaduan tersebut, sebanyak 600 pengaduan (47,02 persen) terpulihkan haknya, atau masalahnya selesai tanpa proses hukum.

Sementara itu, sejumlah masalah yang banyak diadukan konsumen di bidang e-commerce yakni mengenai OTP dan pishing. Namun, ia menilai hal tersebut kebanyakan terjadi karena keteledoran konsumen. Maka BPKN terus mendorong edukasi bagi konsumen dalam transaksi berbelanja online yang aman.

Wakil Ketua Komisi Penelitian dan Pengembangan BPKN Anna Maria Tri Anggraini menambahkan rekomendasi yang disampaikan BPKN dalam penanganan pengaduan di sektor e-commerce diantaranya meminta otoritas terkait, termasuk marketplace, untuk lebih meningkatkan pengawasan.

"Terutama juga pentingnya atau disegerakannya terbitnya UU perlindungan data pribadi karena ini juga sesuai dengan imbauan dan anjuran Presiden Jokowi agar segera DPR sahkan UU perlindungan data pribadi karena ini ini penting untuk keamanan dan keselamatan konsumen yang selama ini bocor lewat pishing atau SMS atau data yang diserahkan ke online shop," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua BPKN Rizal E. Halim mengakui sepanjang 2020, ada pergeseran tren pengaduan yang tadinya didominasi sektor perumahan, kini mulai merambah sektor e-commerce dan jasa keuangan.

"Sektor yang melonjak tinggi sepanjang pandemi ini sektor keuangan dan e-commerce. Maka, BPKN sementara akan memfokuskan diri ke sini, pertama karena regulasi yang belum ajek dan karena dampak kasus yang melanda dua sektor ini cukup masif dan meresahkan masyarakat," pungkas Rizal.

Editor : RILIS.ID

TAG:

Berita Lainnya