TKP Kecelakaan Tewaskan 8 Emak-emak Arisan Ternyata Makam Korban Penjajah Belanda
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

TKP Kecelakaan Tewaskan 8 Emak-emak Arisan Ternyata Makam Korban Penjajah Belanda

...
Imron Hakiki
Malang
1 Juni 2021 - 15:49 WIB
Daerah | RILISID
...
Puluhan masyarakat adat menggelar selamatan di Jalan Raya Dusun Simpar, Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Selasa (1/6/2021). FOTO: RILIS.ID/Imron Hakiki.

RILISID, Malang — Peristiwa kecalakaan maut yang menewaskan 8 orang di Jalan Raya Dusun Simpar, Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Rabu (26/5/2021) lalu, tampaknya menyita perhatian masyarakat setempat.

Hari ini, Selasa (1/6/2021), puluhan warga Desa Wringinanom bersama masyarakat adat dari suku Tengger, Gubuklakah, Ngadas di Kecamatan Poncokusumo dan warga Desa Ranupane, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang kompak menggelar acara selamatan (Jawa: Selametan) di tempat kejadian perkara (TKP) kecelakaan lalu lintas tersebut.

"Selamatan itu digelar untuk memanjatkan doa kepada tuhan, semoga kejadian yang sama tidak terjadi kembali di area itu," ungkap Kepala Desa Wringinanom Achmad Muslimin kepada Rilis.id, Selasa (1/6/2021).

Sebab, lanjut Muslimin, TKP itu adalah perlintasan wisatawan yang ingin berlibur ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

"Sehingga memang banyak arus kendaraan di area ini. Maka, semoga dengan acara ini kedepan tidak terjadi lagi peristiwa yang sama," ujarnya.

Meski terbilang bukan kawasan rawan kecelakaan, namun hingga saat ini sudah dua kali terjadi kecelakaan lalu lintas. Tahun lalu, juga terjadi kecelakaan lalu lintas yang menewaskan satu orang.

"Berdasarkan sejarah masyarakat. Area TKP kejadian itu dulunya adalah makam korban perang melawan Belanda," tuturnya.

Menariknya, berdasarkan pantauan Rilis.id di lapangan nuansa kerukunan masyarakat dalam acara selamatan itu tampak kental.

Sebab dari puluhan masyarakat tersebut tidak hanya berasal dari satu komunitas agama tertentu. Tapi Muslim, Hindu, dan Budha berbaur menjadi satu, sama-sama memanjatkan doa berdasarkan keyakinan masing-masing.

"Ada yang membawa ayam ingkung, tumpeng, serta bunga tujuh rupa. Kemudian kami makan bersama dan bunganya ditabur di area kejadia perkara," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, kendaraan pikap yang mengangkut ibu-ibu arisan dari Desa Ranupane, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang menuju Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Raya Dusun Simpar, Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Rabu (26/5/2021) lalu.

Akibatnya, sebanyak 8 dari 14 orang tewas pada kejadian tersebut. Penyebabnya karena sopir mengantuk dan sempat terlelap saat menyetir. Sehingga kendaraan limbung dan menabrak pohon di pinggir jalan.

Kini, sopir kendaraan itu, Muhammad Asim (44), warga Desa Ranupane, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Malang. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

TKP Kecelakaan Tewaskan 8 Emak-emak Arisan Ternyata Makam Korban Penjajah Belanda

...
Imron Hakiki
Malang
1 Juni 2021 - 15:49 WIB
Daerah | RILISID
...
Puluhan masyarakat adat menggelar selamatan di Jalan Raya Dusun Simpar, Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Selasa (1/6/2021). FOTO: RILIS.ID/Imron Hakiki.

RILISID, Malang — Peristiwa kecalakaan maut yang menewaskan 8 orang di Jalan Raya Dusun Simpar, Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Rabu (26/5/2021) lalu, tampaknya menyita perhatian masyarakat setempat.

Hari ini, Selasa (1/6/2021), puluhan warga Desa Wringinanom bersama masyarakat adat dari suku Tengger, Gubuklakah, Ngadas di Kecamatan Poncokusumo dan warga Desa Ranupane, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang kompak menggelar acara selamatan (Jawa: Selametan) di tempat kejadian perkara (TKP) kecelakaan lalu lintas tersebut.

"Selamatan itu digelar untuk memanjatkan doa kepada tuhan, semoga kejadian yang sama tidak terjadi kembali di area itu," ungkap Kepala Desa Wringinanom Achmad Muslimin kepada Rilis.id, Selasa (1/6/2021).

Sebab, lanjut Muslimin, TKP itu adalah perlintasan wisatawan yang ingin berlibur ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

"Sehingga memang banyak arus kendaraan di area ini. Maka, semoga dengan acara ini kedepan tidak terjadi lagi peristiwa yang sama," ujarnya.

Meski terbilang bukan kawasan rawan kecelakaan, namun hingga saat ini sudah dua kali terjadi kecelakaan lalu lintas. Tahun lalu, juga terjadi kecelakaan lalu lintas yang menewaskan satu orang.

"Berdasarkan sejarah masyarakat. Area TKP kejadian itu dulunya adalah makam korban perang melawan Belanda," tuturnya.

Menariknya, berdasarkan pantauan Rilis.id di lapangan nuansa kerukunan masyarakat dalam acara selamatan itu tampak kental.

Sebab dari puluhan masyarakat tersebut tidak hanya berasal dari satu komunitas agama tertentu. Tapi Muslim, Hindu, dan Budha berbaur menjadi satu, sama-sama memanjatkan doa berdasarkan keyakinan masing-masing.

"Ada yang membawa ayam ingkung, tumpeng, serta bunga tujuh rupa. Kemudian kami makan bersama dan bunganya ditabur di area kejadia perkara," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, kendaraan pikap yang mengangkut ibu-ibu arisan dari Desa Ranupane, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang menuju Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Raya Dusun Simpar, Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Rabu (26/5/2021) lalu.

Akibatnya, sebanyak 8 dari 14 orang tewas pada kejadian tersebut. Penyebabnya karena sopir mengantuk dan sempat terlelap saat menyetir. Sehingga kendaraan limbung dan menabrak pohon di pinggir jalan.

Kini, sopir kendaraan itu, Muhammad Asim (44), warga Desa Ranupane, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Malang. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya