Miris! Siswa SD di Malang Terpaksa Ikut Ujian di Bawah Tenda
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Miris! Siswa SD di Malang Terpaksa Ikut Ujian di Bawah Tenda

...
Imron Hakiki
Malang
14 Juni 2021 - 14:42 WIB
Daerah | RILISID
...
Siswa SDN 1 Sumbertangkil Kabupaten Malang saat mengikuti ujian akhir semester di bawah tenda BNPB. FOTO: RILIS.ID/Imron Hakiki

RILISID, Malang — Pelaksanaan ujian akhir semester (UAS) di Sekolah Dasar Negeri (SDN) I Sumbertangkil, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, memprihatinkan.

Mereka terpaksa harus mengikuti UAS di bawah tenda. Ini setelah gedung sekolah mereka mengalami kerusakan cukup parah akibat gempa bumi bermagnitudo 6,1 pada 10 April lalu.

Tampak tersedia dua tenda yang dimanfaatkan sebagai kelas siswa-siswa tersebut untuk sementara. Yakni tenda Direktorat Jenderal Disdakmen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di halaman sekolah dan tenda Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang terletak di halaman salah satu warga setempat.

"Ya, karena gedung sekolah tidak bisa ditempati karena retak parah. Terpaksa kami melaksanakan ujian di dua tenda ini, secara bergantian per kelas. Hari ini (Senin, 14/6/2021) kelas V dan VI," ungkapnya salah satu guru kelas, Saptono saat ditemui, Senin (14/6/2021).

Pria berusia 56 tahun itu mengatakan kerusakan gedung sekolah itu hingga saat ini belum diperbaiki. Pasalnya, belum bantuan atau instruksi dari Pemkab Malang.

"Beberapa waktu lalu ada bantuan dari BUMN memberi bantuan senilai Rp 50 juta. Dari donatut swasta juga ada berupa material bangunan," tuturnya.

Sementara bantuan dari pemerintah, menurut Saptono, saat ini masih dalam proses pengajuan melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Malang.

"Pengajuan bantuannya maksimal Rp200 juta. Dengan nilai segitu, melihat kondisi kerusakan gedung sekolah sepertinya akan kurang," ujarnya.

"Saat ini, sambil menunggu bantuan itu turun, kami (sekolah) sedang memutar otak untuk mencukupi dana rencana rekonstruksi tersebut," sambungnya.

Nasib yang hampir sama juga dialami oleh SDN 1 Jogomulyan, Desa Jogomulyan, Kecamatan Tirtoyudo. Akibat gempa bumi 10 April lalu, sebagian gedung sekolahnya tidak dapat ditempati.

"Dari 6 ruang kelas, hanya tersisa 3 kelas yang masih bisa ditempati. Ketiga kelas itulah yang saat ini kita tempati untuk melaksanakan ujian siswa," ungkap salah satu guru kelas SDN 1 Jogomulyan, Sukandar.

Ditanya terkait bantuan, ia juga mengaku hanya menunggu bantuan dari pemerintah.

"Proposal sudah kami ajukan melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Malang. BUMN katanya juga mau memberikan bantuan Rp 50 juta, tapi saat ini belum cair," bebernya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang Rahmat Hardijono mengatakan proposal pengajuan bantuan pembangunan sekolah-sekolah terdampak gempa bumi itu sudah diajukan ke Kementerian Pendidikan.

"Apabila tidak direalisasikan tahun ini maka diusahakan untuk masuk dalam program tahun anggaran 2022," ujarnya.

Diketahui, jumlah sekolah yang mengalami kerusakan di Kabupaten Malang akibat gempa bumi 10 April lalu sebanyak 226 unit.

"Nilai bantuannya disesuaikan dengan kondisi kerusakan pada masing-masing sekolah," pungkasnya. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Miris! Siswa SD di Malang Terpaksa Ikut Ujian di Bawah Tenda

...
Imron Hakiki
Malang
14 Juni 2021 - 14:42 WIB
Daerah | RILISID
...
Siswa SDN 1 Sumbertangkil Kabupaten Malang saat mengikuti ujian akhir semester di bawah tenda BNPB. FOTO: RILIS.ID/Imron Hakiki

RILISID, Malang — Pelaksanaan ujian akhir semester (UAS) di Sekolah Dasar Negeri (SDN) I Sumbertangkil, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, memprihatinkan.

Mereka terpaksa harus mengikuti UAS di bawah tenda. Ini setelah gedung sekolah mereka mengalami kerusakan cukup parah akibat gempa bumi bermagnitudo 6,1 pada 10 April lalu.

Tampak tersedia dua tenda yang dimanfaatkan sebagai kelas siswa-siswa tersebut untuk sementara. Yakni tenda Direktorat Jenderal Disdakmen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di halaman sekolah dan tenda Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang terletak di halaman salah satu warga setempat.

"Ya, karena gedung sekolah tidak bisa ditempati karena retak parah. Terpaksa kami melaksanakan ujian di dua tenda ini, secara bergantian per kelas. Hari ini (Senin, 14/6/2021) kelas V dan VI," ungkapnya salah satu guru kelas, Saptono saat ditemui, Senin (14/6/2021).

Pria berusia 56 tahun itu mengatakan kerusakan gedung sekolah itu hingga saat ini belum diperbaiki. Pasalnya, belum bantuan atau instruksi dari Pemkab Malang.

"Beberapa waktu lalu ada bantuan dari BUMN memberi bantuan senilai Rp 50 juta. Dari donatut swasta juga ada berupa material bangunan," tuturnya.

Sementara bantuan dari pemerintah, menurut Saptono, saat ini masih dalam proses pengajuan melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Malang.

"Pengajuan bantuannya maksimal Rp200 juta. Dengan nilai segitu, melihat kondisi kerusakan gedung sekolah sepertinya akan kurang," ujarnya.

"Saat ini, sambil menunggu bantuan itu turun, kami (sekolah) sedang memutar otak untuk mencukupi dana rencana rekonstruksi tersebut," sambungnya.

Nasib yang hampir sama juga dialami oleh SDN 1 Jogomulyan, Desa Jogomulyan, Kecamatan Tirtoyudo. Akibat gempa bumi 10 April lalu, sebagian gedung sekolahnya tidak dapat ditempati.

"Dari 6 ruang kelas, hanya tersisa 3 kelas yang masih bisa ditempati. Ketiga kelas itulah yang saat ini kita tempati untuk melaksanakan ujian siswa," ungkap salah satu guru kelas SDN 1 Jogomulyan, Sukandar.

Ditanya terkait bantuan, ia juga mengaku hanya menunggu bantuan dari pemerintah.

"Proposal sudah kami ajukan melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Malang. BUMN katanya juga mau memberikan bantuan Rp 50 juta, tapi saat ini belum cair," bebernya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang Rahmat Hardijono mengatakan proposal pengajuan bantuan pembangunan sekolah-sekolah terdampak gempa bumi itu sudah diajukan ke Kementerian Pendidikan.

"Apabila tidak direalisasikan tahun ini maka diusahakan untuk masuk dalam program tahun anggaran 2022," ujarnya.

Diketahui, jumlah sekolah yang mengalami kerusakan di Kabupaten Malang akibat gempa bumi 10 April lalu sebanyak 226 unit.

"Nilai bantuannya disesuaikan dengan kondisi kerusakan pada masing-masing sekolah," pungkasnya. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya