Mahasiswa Unila asal Palestina Ini Mengaku Malu Dapat Penggalangan Dana dari Kampus
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Mahasiswa Unila asal Palestina Ini Mengaku Malu Dapat Penggalangan Dana dari Kampus

...
Dora Afrohah
Bandarlampung
25 Mei 2021 - 12:15 WIB
Daerah | RILISID
...
Penyerahan donasi kepada mahasiswa Unila asal Palestina. FOTO: Dora Afrorah

RILISID, Bandarlampung — Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung (FMIPA Unila) asal Palestina, Mohammed Zyad Alshurafa mengaku malu mendapatkan donasi dari kampusnya.

"(Ditanya apa rasa setelah mendapat bantuan dari Fakultas penggalangan dana) malu, karena sudah ngasih bantuan,” ujarnya tersipu kepada wartawan Rilisidlampung (Grup Rilis.id), dikutip pada Selasa (25/5/2021).

Mohammed pun meminta penggalangan dana untuk dirinya dihentikan. Karena menurutnya, warga Palestina bukanlah bangsa pengemis.

"Dulu harus kamu tahu orang Palestina itu bukan tangannya di bawah, kalau kita sudah merdeka tidak ada perang, tidak ada Israel," katanya.

"Dulu siapa yang merdeka Indonesia di sini, kita negara Palestina yang merdekain Indonesia di sini. Kita salah satu negara yang pertama dan Indonesia, sekarang kita yang butuh Indonesia, tapi kita tetap tangan kita tidak di bawah. Tapi mau tidak mau itu konsdisi kita. Makanya tetap malu walupun tabah,” lanjut Mohammed.

Disinggung apakah mau menerima lagi jika ada yang menggalang dana, ia hanya bilang tidak bersedia.

"Tidak, sudah (hentikan penggalangan dana),” tuturnya.

Meski begitu, Mohammed berencana akan mengirimkan donasi tersebut kepada keluarganya di Gaza, Palestina.

"Alhamdulillah di sana keluarga baik. Mereka tinggal di rumah kakak saya,” ucapnya.

Diketahui, Mohammed yang merupakan warga Gaza ini menerima total donasi dari tim sosial FMIPA Unila sebesar Rp44.083.506 pada Senin (24/5/2021).

Ia mengaku belum pernah pulang ke Gaza sejak kuliah di Unila, Bandarlampung.

"Saya rindu keluarga disana karena sudah dua tahun saya disini. Kalau sekarang saya pulang lihat kondisi keluarga disana, saya khawatir tidak bisa kembali ke Indonesia karena mengurus suratnya sangat sulit,” tandasnya.

Sementara itu, Bendahara Tim Sosial FMIPA Unila Widiarti menyatakan bahwa penggalangan donasi untuk Mohammed dikumpulkan lewat media sosial sejak 18-23 Mei 2021.

"Dana yang baru masuk hari ini akan kita lanjutkan pada tahap kedua, karena masih ada yang ingin memberikan donasi,” ungkap Widiarti.

Widiarti menjelaskan donasi yang terkumpul berasal dari berbagai pihak. Mulai dari civitas akademik Unila, lembaga kemahasiswaan, Musala BPOM Bandarlampung, Majelis Ta'lim alumni UI, perkumpulan pengajian di Jerman, serta masyarakat umum.

Ketua Tim Sosial FMIPA Agus Riyanto menjelaskan bahwa kampusnya saat ini sudah memiliki tim sosial, di mana tugasnya membantu sivitas akademika yang terkena musibah.

"Awalnya kami menerima informasi bahwa ada salah satu mahasiswa yang rumahnya hancur karena serangan Israel. Setelah sedikit berdiskusi, kami langsung lakukan penggalangan dana,” kata Agus. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Mahasiswa Unila asal Palestina Ini Mengaku Malu Dapat Penggalangan Dana dari Kampus

...
Dora Afrohah
Bandarlampung
25 Mei 2021 - 12:15 WIB
Daerah | RILISID
...
Penyerahan donasi kepada mahasiswa Unila asal Palestina. FOTO: Dora Afrorah

RILISID, Bandarlampung — Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung (FMIPA Unila) asal Palestina, Mohammed Zyad Alshurafa mengaku malu mendapatkan donasi dari kampusnya.

"(Ditanya apa rasa setelah mendapat bantuan dari Fakultas penggalangan dana) malu, karena sudah ngasih bantuan,” ujarnya tersipu kepada wartawan Rilisidlampung (Grup Rilis.id), dikutip pada Selasa (25/5/2021).

Mohammed pun meminta penggalangan dana untuk dirinya dihentikan. Karena menurutnya, warga Palestina bukanlah bangsa pengemis.

"Dulu harus kamu tahu orang Palestina itu bukan tangannya di bawah, kalau kita sudah merdeka tidak ada perang, tidak ada Israel," katanya.

"Dulu siapa yang merdeka Indonesia di sini, kita negara Palestina yang merdekain Indonesia di sini. Kita salah satu negara yang pertama dan Indonesia, sekarang kita yang butuh Indonesia, tapi kita tetap tangan kita tidak di bawah. Tapi mau tidak mau itu konsdisi kita. Makanya tetap malu walupun tabah,” lanjut Mohammed.

Disinggung apakah mau menerima lagi jika ada yang menggalang dana, ia hanya bilang tidak bersedia.

"Tidak, sudah (hentikan penggalangan dana),” tuturnya.

Meski begitu, Mohammed berencana akan mengirimkan donasi tersebut kepada keluarganya di Gaza, Palestina.

"Alhamdulillah di sana keluarga baik. Mereka tinggal di rumah kakak saya,” ucapnya.

Diketahui, Mohammed yang merupakan warga Gaza ini menerima total donasi dari tim sosial FMIPA Unila sebesar Rp44.083.506 pada Senin (24/5/2021).

Ia mengaku belum pernah pulang ke Gaza sejak kuliah di Unila, Bandarlampung.

"Saya rindu keluarga disana karena sudah dua tahun saya disini. Kalau sekarang saya pulang lihat kondisi keluarga disana, saya khawatir tidak bisa kembali ke Indonesia karena mengurus suratnya sangat sulit,” tandasnya.

Sementara itu, Bendahara Tim Sosial FMIPA Unila Widiarti menyatakan bahwa penggalangan donasi untuk Mohammed dikumpulkan lewat media sosial sejak 18-23 Mei 2021.

"Dana yang baru masuk hari ini akan kita lanjutkan pada tahap kedua, karena masih ada yang ingin memberikan donasi,” ungkap Widiarti.

Widiarti menjelaskan donasi yang terkumpul berasal dari berbagai pihak. Mulai dari civitas akademik Unila, lembaga kemahasiswaan, Musala BPOM Bandarlampung, Majelis Ta'lim alumni UI, perkumpulan pengajian di Jerman, serta masyarakat umum.

Ketua Tim Sosial FMIPA Agus Riyanto menjelaskan bahwa kampusnya saat ini sudah memiliki tim sosial, di mana tugasnya membantu sivitas akademika yang terkena musibah.

"Awalnya kami menerima informasi bahwa ada salah satu mahasiswa yang rumahnya hancur karena serangan Israel. Setelah sedikit berdiskusi, kami langsung lakukan penggalangan dana,” kata Agus. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya