Lampung Darurat Predator Anak, Belum Setahun Ada 177 Kasus Kekerasan Seksual
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Lampung Darurat Predator Anak, Belum Setahun Ada 177 Kasus Kekerasan Seksual

...
RILIS.ID
Bandarlampung
12 Juni 2021 - 10:46 WIB
Daerah | RILISID
...
Ilustrasi korban kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan. Foto: Istimewa

RILISID, Bandarlampung — Kasus kekerasan seksual terhadap anak masih marak terjadi di Lampung. Bahkan belum setahun sudah tercatat ratusan kasus menimpa anak dan perempuan.

Berdasarkan data Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandarlampung, setidaknya ada 177 kasus terjadi dalam kurun Januari sampai Juni 2021.

Dari data tersebut, Kota Bandarlampung mencatat paling banyak ditemukan kasus kekerasan seksual terhadap anak. Jumlahnya mencapai 40 kasus.

Menyikapi hal tersebut, LBH Bandarlampung terus melakukan pendampingan terhadap para korban. Salah satunya adalah korban pencabulan yang dilakukan ayah tirinya, TAW (46).

”Sangat miris, saat jumlah angka kekerasan terhadap perempuan dan anak masih tinggi, Pemprov Lampung justru menargetkan meraih predikat provinsi layak anak 2021,” kata Syofia Gayatri, pengabdi bantuan hukum LBH Bandarlampung dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (12/6/2021).

Faktanya, lanjut Syofia, indikator-indikator untuk meraih predikat layak anak sudah tidak terpenuhi. Ia meminta pemerintah seharusnya fokus pada pembentukan dasar regulasi yang kuat dan upaya pencegahan.

Karena menurutnya, hal itulah yang harus menjadi prioritas dan harus dipersiapkan pemerintah supaya kejadian seperti itu tidak berulang.

”LBH Bandarlampung mendorong kepada pihak kepolisian untuk dengan tegas dan serius menangani perkara (pelecehan seksual perempuan dan anak) ini. Supaya korban dan keluarga mendapat kepastian hukum dan rasa aman,” ujar Syofia.

Guna membantu menghilangkan trauma korban, LBH Bandarlampung juga berkoordinasi dengan Dinas Sosial untuk memberikan pendampingan hingga kondisinya membaik.

”Kasus kekerasan seksual terhadap siapapun, terlebih korbannya anak-anak, meski pelakunya dihukum seberat apapun tidak sebanding dengan trauma korban yang membayanginya seumur hidup korban,” tandasnya. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Lampung Darurat Predator Anak, Belum Setahun Ada 177 Kasus Kekerasan Seksual

...
RILIS.ID
Bandarlampung
12 Juni 2021 - 10:46 WIB
Daerah | RILISID
...
Ilustrasi korban kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan. Foto: Istimewa

RILISID, Bandarlampung — Kasus kekerasan seksual terhadap anak masih marak terjadi di Lampung. Bahkan belum setahun sudah tercatat ratusan kasus menimpa anak dan perempuan.

Berdasarkan data Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandarlampung, setidaknya ada 177 kasus terjadi dalam kurun Januari sampai Juni 2021.

Dari data tersebut, Kota Bandarlampung mencatat paling banyak ditemukan kasus kekerasan seksual terhadap anak. Jumlahnya mencapai 40 kasus.

Menyikapi hal tersebut, LBH Bandarlampung terus melakukan pendampingan terhadap para korban. Salah satunya adalah korban pencabulan yang dilakukan ayah tirinya, TAW (46).

”Sangat miris, saat jumlah angka kekerasan terhadap perempuan dan anak masih tinggi, Pemprov Lampung justru menargetkan meraih predikat provinsi layak anak 2021,” kata Syofia Gayatri, pengabdi bantuan hukum LBH Bandarlampung dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (12/6/2021).

Faktanya, lanjut Syofia, indikator-indikator untuk meraih predikat layak anak sudah tidak terpenuhi. Ia meminta pemerintah seharusnya fokus pada pembentukan dasar regulasi yang kuat dan upaya pencegahan.

Karena menurutnya, hal itulah yang harus menjadi prioritas dan harus dipersiapkan pemerintah supaya kejadian seperti itu tidak berulang.

”LBH Bandarlampung mendorong kepada pihak kepolisian untuk dengan tegas dan serius menangani perkara (pelecehan seksual perempuan dan anak) ini. Supaya korban dan keluarga mendapat kepastian hukum dan rasa aman,” ujar Syofia.

Guna membantu menghilangkan trauma korban, LBH Bandarlampung juga berkoordinasi dengan Dinas Sosial untuk memberikan pendampingan hingga kondisinya membaik.

”Kasus kekerasan seksual terhadap siapapun, terlebih korbannya anak-anak, meski pelakunya dihukum seberat apapun tidak sebanding dengan trauma korban yang membayanginya seumur hidup korban,” tandasnya. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya