Kisah Pilu Sang Paskibra asal Lampung Barat: Tak Diurus Pemkab dan Sekolah
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Kisah Pilu Sang Paskibra asal Lampung Barat: Tak Diurus Pemkab dan Sekolah

...
RILIS.ID
Lampung Barat
20 Agustus 2021 - 8:02 WIB
Daerah | RILISID
...
Citra Ayu Septiana, anggota Paskibra Lampung asal Lambar. Foto: Dok. Pribadi

RILISID, Lampung Barat — Suksesnya pengibaran bendera Merah Putih pada HUT ke-76 RI, Selasa 17 Agustus 2021 lalu oleh pasukan pengibar bendera (Paskibra) tingkat Provinsi Lampung menyisakan cerita pilu bagi Citra Ayu Septiana.

Dia merupakan salah satu petugas pasukan delapan paskibra asal SMAN 1 Liwa, Lampung Barat (Lambar).

Siswi Kelas XI tersebut harus berjuang sendiri bersama orang tuanya untuk menjadi anggota Paskibra pada hari bersejarah Bangsa Indonesia tersebut.

Sejak awal keberangkatan untuk mengikuti proses karantina selama 10 hari di Bandarlampung –ibu kota Provinsi Lampung- Citra hanya didampingi orang tuanya.

Bahkan, saat proses pelepasan untuk pulang kembali ke kabupaten asalnya, ia juga dijemput orang tuanya. Tidak ada pendampingan dari pemerintah daerah maupun sekolahnya.

Sementara, rekannya dari kabupaten lain diantar dan jemput serta didampingi oleh utusan dinas terkait maupun pihak sekolah.
Khairul Umur, ayah Citra mengatakan, putrinya pada awalnya mendaftar untuk mengikuti seleksi sebagai anggota Paskibra Provinsi yang digelar Pemkab Lambar.

Berdasarkan Informasi dari petugas Dinas Pemuda dan Olahraga Lambar, anaknya masuk enam besar dan akan diberangkatkan ke Bandarlampung untuk mengikuti seleksi oleh Pemprov Lampung.

”Saat itu saya dihubungi oleh petugas dari dinas, anak saya diminta untuk menunggu di sekolah karena akan dijemput untuk mengikuti seleksi di provinsi. Anak saya kemudian ke sekolah menunggu di pintu gerbang karena tidak ada satupun guru di sekolah,” cerita Khairul, Kamis (19/8/2021).

Beberapa hari kemudian, lanjut Khairul, dirinya mendapat kabar jika anaknya lolos tiga besar menjadi anggota Paskibra tingkat provinsi.

Dari situ, cerita pilu mulai dirasakan Citra dan Khairul selaku orang tua. Saat itu, ia mendapat Informasi jika putrinya harus segera ke Bandarlampung untuk mengikuti karantina di Hotel Kurnia II, Bandarlampung.

”Ketika saya tanya teknis keberangkatan, kata Ibu Kadisporapar harus diantar sendiri oleh orang tua karena dinas tidak ada anggaran,” ucapnya.

Awalnya ia mengaku bingung, sebab mengapa utusan kabupaten mau ke Bandarlampung tidak didampingi dinas terkait atau pihak sekolah. Tapi, karena hal itu bentuk kebanggaannya selaku orang tua, ia bersama ibunya mengantarkan anaknya ke Bandarlampung.

Yang membuat Khairul miris, sesampainya di Bandarlampung ia melihat anggota Paskibra dari beberapa kabupaten lain, diantar petugas dari dinas dan pihak sekolah. Bahkan di depan hotel berderet mobil dinas yang mengantarkan utusan kabupaten lain.

”Saat di hotel, ada panitia yang bertanya kepada saya, pak mana SPPD-nya yang mau ditandatangani, saya bilang nggak ada. Saya kemudian bertanya sama beberapa orang di situ. Pak itu yang diantar anaknya ya? Orang tersebut menjawab bukan. Mereka dari dinas mengantarkan anak-anak yang lolos paskibra. Itu yang membuat saya begitu sedih,” kenang Khairul.

Tapi demi menguatkan anaknya dan sebagai bentuk kebanggaan keluarga, ia tetap memotivasi anaknya untuk semangat mengikuti semua tahapan karantina yang telah ditetapkan petugas Paskibra hingga selesai.

”Kamu harus semangat, kamu adalah kebanggaan keluarga besar kita, Nak,” pesan Khairul kepada Citra.
Bahkan kata Khairul, ketika mendapat kabar akan dilakukan pembubaran petugas paskibra oleh panitia, ia bersama istrinya berangkat ke Bandarlampung untuk menjemput anaknya.

Sementara, Citra juga mengaku kerap sedih dan sempat beberapa kali menangis ketika mendengar cerita kawan-kawannya dari daerah lain yang ketika berangkat diantar oleh petugas dinas. Ada juga yang didampingi pihak sekolah.

”Kalau saat dengar kawan-kawan dari kabupaten lain cerita, mereka berangkat saja diantar orang dari dinas dan pihak sekolah. Ada yang dikasih uang saku dari sekolah Rp700 ribu, ditambah dari dinas Rp1,2 juta dan lainnya,” tutur siswi kelahiran 5 September 2004 itu.

”Saya juga dikasih uang saku Rp300 ribu dari sekolah, tapi yang buat saya sedih tidak ada yang mengantar dan mendampingi dari Pemkab Lambar maupun dari sekolah,” ungkapnya.(*)

Laporan Ari Gunawan/Rilisid Lampung Barat

Editor : Wirahadikusumah

TAG:

Berita Lainnya

Kisah Pilu Sang Paskibra asal Lampung Barat: Tak Diurus Pemkab dan Sekolah

...
RILIS.ID
Lampung Barat
20 Agustus 2021 - 8:02 WIB
Daerah | RILISID
...
Citra Ayu Septiana, anggota Paskibra Lampung asal Lambar. Foto: Dok. Pribadi

RILISID, Lampung Barat — Suksesnya pengibaran bendera Merah Putih pada HUT ke-76 RI, Selasa 17 Agustus 2021 lalu oleh pasukan pengibar bendera (Paskibra) tingkat Provinsi Lampung menyisakan cerita pilu bagi Citra Ayu Septiana.

Dia merupakan salah satu petugas pasukan delapan paskibra asal SMAN 1 Liwa, Lampung Barat (Lambar).

Siswi Kelas XI tersebut harus berjuang sendiri bersama orang tuanya untuk menjadi anggota Paskibra pada hari bersejarah Bangsa Indonesia tersebut.

Sejak awal keberangkatan untuk mengikuti proses karantina selama 10 hari di Bandarlampung –ibu kota Provinsi Lampung- Citra hanya didampingi orang tuanya.

Bahkan, saat proses pelepasan untuk pulang kembali ke kabupaten asalnya, ia juga dijemput orang tuanya. Tidak ada pendampingan dari pemerintah daerah maupun sekolahnya.

Sementara, rekannya dari kabupaten lain diantar dan jemput serta didampingi oleh utusan dinas terkait maupun pihak sekolah.
Khairul Umur, ayah Citra mengatakan, putrinya pada awalnya mendaftar untuk mengikuti seleksi sebagai anggota Paskibra Provinsi yang digelar Pemkab Lambar.

Berdasarkan Informasi dari petugas Dinas Pemuda dan Olahraga Lambar, anaknya masuk enam besar dan akan diberangkatkan ke Bandarlampung untuk mengikuti seleksi oleh Pemprov Lampung.

”Saat itu saya dihubungi oleh petugas dari dinas, anak saya diminta untuk menunggu di sekolah karena akan dijemput untuk mengikuti seleksi di provinsi. Anak saya kemudian ke sekolah menunggu di pintu gerbang karena tidak ada satupun guru di sekolah,” cerita Khairul, Kamis (19/8/2021).

Beberapa hari kemudian, lanjut Khairul, dirinya mendapat kabar jika anaknya lolos tiga besar menjadi anggota Paskibra tingkat provinsi.

Dari situ, cerita pilu mulai dirasakan Citra dan Khairul selaku orang tua. Saat itu, ia mendapat Informasi jika putrinya harus segera ke Bandarlampung untuk mengikuti karantina di Hotel Kurnia II, Bandarlampung.

”Ketika saya tanya teknis keberangkatan, kata Ibu Kadisporapar harus diantar sendiri oleh orang tua karena dinas tidak ada anggaran,” ucapnya.

Awalnya ia mengaku bingung, sebab mengapa utusan kabupaten mau ke Bandarlampung tidak didampingi dinas terkait atau pihak sekolah. Tapi, karena hal itu bentuk kebanggaannya selaku orang tua, ia bersama ibunya mengantarkan anaknya ke Bandarlampung.

Yang membuat Khairul miris, sesampainya di Bandarlampung ia melihat anggota Paskibra dari beberapa kabupaten lain, diantar petugas dari dinas dan pihak sekolah. Bahkan di depan hotel berderet mobil dinas yang mengantarkan utusan kabupaten lain.

”Saat di hotel, ada panitia yang bertanya kepada saya, pak mana SPPD-nya yang mau ditandatangani, saya bilang nggak ada. Saya kemudian bertanya sama beberapa orang di situ. Pak itu yang diantar anaknya ya? Orang tersebut menjawab bukan. Mereka dari dinas mengantarkan anak-anak yang lolos paskibra. Itu yang membuat saya begitu sedih,” kenang Khairul.

Tapi demi menguatkan anaknya dan sebagai bentuk kebanggaan keluarga, ia tetap memotivasi anaknya untuk semangat mengikuti semua tahapan karantina yang telah ditetapkan petugas Paskibra hingga selesai.

”Kamu harus semangat, kamu adalah kebanggaan keluarga besar kita, Nak,” pesan Khairul kepada Citra.
Bahkan kata Khairul, ketika mendapat kabar akan dilakukan pembubaran petugas paskibra oleh panitia, ia bersama istrinya berangkat ke Bandarlampung untuk menjemput anaknya.

Sementara, Citra juga mengaku kerap sedih dan sempat beberapa kali menangis ketika mendengar cerita kawan-kawannya dari daerah lain yang ketika berangkat diantar oleh petugas dinas. Ada juga yang didampingi pihak sekolah.

”Kalau saat dengar kawan-kawan dari kabupaten lain cerita, mereka berangkat saja diantar orang dari dinas dan pihak sekolah. Ada yang dikasih uang saku dari sekolah Rp700 ribu, ditambah dari dinas Rp1,2 juta dan lainnya,” tutur siswi kelahiran 5 September 2004 itu.

”Saya juga dikasih uang saku Rp300 ribu dari sekolah, tapi yang buat saya sedih tidak ada yang mengantar dan mendampingi dari Pemkab Lambar maupun dari sekolah,” ungkapnya.(*)

Laporan Ari Gunawan/Rilisid Lampung Barat

Editor : Wirahadikusumah

TAG:

Berita Lainnya