Jeritan Pelaku Wisata Akibat PPKM Darurat: PHK Karyawan hingga Agunan Terancam Disita Bank
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Jeritan Pelaku Wisata Akibat PPKM Darurat: PHK Karyawan hingga Agunan Terancam Disita Bank

...
RILIS.ID
Bandarlampung
25 Juli 2021 - 11:26 WIB
Daerah | RILISID
...
Adi Susanto. Foto: Istimewa

RILISID, Bandarlampung — Sejumlah pelaku wisata di Lampung mulai menjerit akibat PPKM Darurat atau PPKM Level 4 yang akan diperpanjang pada 26 Juli hingga 8 Agustus 2021 mendatang.

Seperti disampaikan Adi Susanto, salah satu pelaku wisata yang tergabung dalam Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO).

Adi menuliskan jeritannya dalam surat terbuka untuk Gubernur Lampung Arinal Djunaidi dan Wali Kota Bandarlampung Eva Dwiana di media sosialnya, Minggu (25/7/2021).

Adi telah mengizinkan Rilis.id mengutip unggahannya tersebut.

Menurutnya, agen perjalanan wisata merupakan yang paling terdampak pandemi Covid-19. Ia terpaksa membatalkan semua perjalanan wisatawan ke Lampung.

Akibatnya, lanjut Adi, pihaknya harus merumahkan atau pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan karena tak sanggup lagi membayar gaji.

"Bahkan listrik dan angsuran Bank, kami tak sanggup bayar sehingga kami pastikan angunan kami disita pihak Bank. Karena tak sanggup mengangsur, Bapak Gubernur dan Ibu Walikota Bandarlampung," katanya.

Adi mengaku tak sanggup lagi bertahan akibat diberlakukannya PPKM Darurat Jawa-Bali dan luar Jawa-Bali sejak 3 Juli 2021 lalu.

Sementara, menurut Adi, pelaku wisata harus mematuhi kebijakan pemerintah, termasuk mengikuti aturan yang diterbitkan gubernur dan wali kota.

"Tapi apakah Bapak Gubernur dan Ibu Wali Kota paham dengan nasib usaha kami, apakah paham dengan nasib anak istri kami yang butuh makan dan sekolah untuk kelangsungan hidup kami selanjutnya. Apakah Bapak Gubernur dan Ibu Wali Kota paham kami?," ungkapnya.

Padahal selama ini, kata Adi, agen perjalanan wisata selalu dielu-elukan sebagai ujung tombak pariwisata Lampung. Termasuk mempromosikan destinasi wisata Lampung ke seluruh nusantara hingga mancanegara.

"Tapi nyatanya sampai saat ini, kami sama sekali tak tersentuh oleh bantuan. Bahkan kata simpati pun enggak pernah terucap dari bapak Gubernur dan ibu Wali Kota Bandarlampung," ucapnya.

Ia meminta agar gubernur dan wali kota segera menyalurkan bantuan kepada pelaku wisata yang terdampak PPKM Darurat atau PPKM Level 4.

"Jika kami tidak mendapat bantuan, beri kami peluang usaha atau apalah jangan biarkan kami kelaparan karena kebijakan yang terus memperpanjang PPKM yang semakin tidak menentu. Jangan biarkan kami menangisi penyesalan memilih bapak dan ibu sebagai pemimpin kami," lirihnya.

Adi juga meminta gubernur dan wali kota mendengarkan jeritan mereka. Atau mengajak berdialog agar pelaku wisata merasa diperhatikan oleh pemerintah.

"Bapak Gubernur dan Ibu Wali Kota ajaklah kami diskusi agar kami tidak tambah sakit hati," tambahnya.

Pihaknya pun memohon agar gubernur dan wali kota Bandarlampung tidak marah karena menuliskan surat terbuka ini.

"Karena harapan kami adalah kebijakan dan regulasi Bapak Gubernur dan wali kota untuk kelangsungan usaha kami selanjutnya. Karena kami butuh makan, butuh menyekolahkan anak, hanya itu saja harapan kami," ujarnya.

"Semoga Bapak Gubernur dan Ibu Wali Kota mendengar harapan kami yang patuh kepada pemimpinnya untuk tidak keluar rumah, selalu menggunakan masker dan tidak berkerumun. Semoga bapak dan ibu sehat selalu. Aamin," pungkasnya. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Jeritan Pelaku Wisata Akibat PPKM Darurat: PHK Karyawan hingga Agunan Terancam Disita Bank

...
RILIS.ID
Bandarlampung
25 Juli 2021 - 11:26 WIB
Daerah | RILISID
...
Adi Susanto. Foto: Istimewa

RILISID, Bandarlampung — Sejumlah pelaku wisata di Lampung mulai menjerit akibat PPKM Darurat atau PPKM Level 4 yang akan diperpanjang pada 26 Juli hingga 8 Agustus 2021 mendatang.

Seperti disampaikan Adi Susanto, salah satu pelaku wisata yang tergabung dalam Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO).

Adi menuliskan jeritannya dalam surat terbuka untuk Gubernur Lampung Arinal Djunaidi dan Wali Kota Bandarlampung Eva Dwiana di media sosialnya, Minggu (25/7/2021).

Adi telah mengizinkan Rilis.id mengutip unggahannya tersebut.

Menurutnya, agen perjalanan wisata merupakan yang paling terdampak pandemi Covid-19. Ia terpaksa membatalkan semua perjalanan wisatawan ke Lampung.

Akibatnya, lanjut Adi, pihaknya harus merumahkan atau pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan karena tak sanggup lagi membayar gaji.

"Bahkan listrik dan angsuran Bank, kami tak sanggup bayar sehingga kami pastikan angunan kami disita pihak Bank. Karena tak sanggup mengangsur, Bapak Gubernur dan Ibu Walikota Bandarlampung," katanya.

Adi mengaku tak sanggup lagi bertahan akibat diberlakukannya PPKM Darurat Jawa-Bali dan luar Jawa-Bali sejak 3 Juli 2021 lalu.

Sementara, menurut Adi, pelaku wisata harus mematuhi kebijakan pemerintah, termasuk mengikuti aturan yang diterbitkan gubernur dan wali kota.

"Tapi apakah Bapak Gubernur dan Ibu Wali Kota paham dengan nasib usaha kami, apakah paham dengan nasib anak istri kami yang butuh makan dan sekolah untuk kelangsungan hidup kami selanjutnya. Apakah Bapak Gubernur dan Ibu Wali Kota paham kami?," ungkapnya.

Padahal selama ini, kata Adi, agen perjalanan wisata selalu dielu-elukan sebagai ujung tombak pariwisata Lampung. Termasuk mempromosikan destinasi wisata Lampung ke seluruh nusantara hingga mancanegara.

"Tapi nyatanya sampai saat ini, kami sama sekali tak tersentuh oleh bantuan. Bahkan kata simpati pun enggak pernah terucap dari bapak Gubernur dan ibu Wali Kota Bandarlampung," ucapnya.

Ia meminta agar gubernur dan wali kota segera menyalurkan bantuan kepada pelaku wisata yang terdampak PPKM Darurat atau PPKM Level 4.

"Jika kami tidak mendapat bantuan, beri kami peluang usaha atau apalah jangan biarkan kami kelaparan karena kebijakan yang terus memperpanjang PPKM yang semakin tidak menentu. Jangan biarkan kami menangisi penyesalan memilih bapak dan ibu sebagai pemimpin kami," lirihnya.

Adi juga meminta gubernur dan wali kota mendengarkan jeritan mereka. Atau mengajak berdialog agar pelaku wisata merasa diperhatikan oleh pemerintah.

"Bapak Gubernur dan Ibu Wali Kota ajaklah kami diskusi agar kami tidak tambah sakit hati," tambahnya.

Pihaknya pun memohon agar gubernur dan wali kota Bandarlampung tidak marah karena menuliskan surat terbuka ini.

"Karena harapan kami adalah kebijakan dan regulasi Bapak Gubernur dan wali kota untuk kelangsungan usaha kami selanjutnya. Karena kami butuh makan, butuh menyekolahkan anak, hanya itu saja harapan kami," ujarnya.

"Semoga Bapak Gubernur dan Ibu Wali Kota mendengar harapan kami yang patuh kepada pemimpinnya untuk tidak keluar rumah, selalu menggunakan masker dan tidak berkerumun. Semoga bapak dan ibu sehat selalu. Aamin," pungkasnya. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya