Dikenal Angker, TKP Kecelakaan Ini Dulunya Pemakaman Korban Pembantaian PKI
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Dikenal Angker, TKP Kecelakaan Ini Dulunya Pemakaman Korban Pembantaian PKI

...
Imron Hakiki
Malang
2 Juni 2021 - 17:55 WIB
Daerah | RILISID
...
Kakek Supa'at, warga Wringinanom. FOTO: RILIS.ID/Imron Hakiki

RILISID, Malang — Lahan tebu menghampar di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) kecelakaan lalu lintas yang menewaskan delapan orang rombongan ibu-ibu arisan di Jalan Raya Dusun Simpar, Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, pada Rabu (26/5/2021) lalu.

Sekilas, suasananya tampak asri dengan rindangnya pepohonan yang berjejer di sepanjang jalan, dihiasi pemandangan gunung semeru jika kita melaju ke arah timur (Malang-Lumajang).

Namun, siapa sangka kawasan itu ternyata menyimpan sejarah kelam. Seperti diceritakan Supa'at, salah satu sesepuh Desa Wringinanom.

Kakek berusia 111 tahun ini mengatakan bahwa kawasan TKP kecelakaan maut itu dulunya tempat pemakaman korban pembantaian simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI).

"Ya, lahan yang ada di sepanjang jalan Simpar itu dulunya memang tempat pemakaman orang-orang PKI," ungkap kakek yang akrab disapa Mbah Pa'at ini dengan nada terbata-bata.

Saat itu, lanjutnya, korban pembantaian PKI dikuburkan menjadi satu di dalam lubang besar yang dibuat oleh masyarakat.

"Waktu itu saya sudah punya anak satu. Cuma tahunnya berapa saya sudah lupa. Yang pasti mayat-mayat tersebut bukan orang Desa Wringinanom. Tapi orang-orang luar, yang dibunuh lalu dikuburkan di sini," tutur pria kelahiran 1910 ini.

Menurut Mbah Pa'at, korban saat itu diangkut menggunakan truk dan dikuburkan pada tengah malam atau sekitar pukul 01.00 WIB.

"Warga sini tidak boleh melihat ketika proses pemakaman itu. Selain itu, kami juga tidak berani melihat," ujar kakek yang kesehariannya sebagai tukang pijat ini.

Setelah itu, kawasan tersebut dikenal angker oleh warga setempat. Sebab, saat itu masih banyak pohon-pohon rimbun dan sepi.

"Selain kala itu memamg belum ada lampu. Jangankan di jalan, rumah warga pun masih menggunakan lampu templok. Jadi pantas jika di sana terkenal angker. Kalau sekarang sudah tidak," tuturnya.

Ditanya apakah kawasan tersebut kerap terjadi kecelakaan, Mbah Pa'at membenarkan. Sejak dulu, menurutnya, kawasan itu memang sering menjadi langganan tempat kecelakaan lalu lintas.

"Tapi paling banyak korbannya pada pekan lalu, yang sebanyak 8 orang itu," pungkasnya.

Pengakuan Mbah Pa'at ini berbeda dengan keterangan Kepala Desa Wringinanom Achmad Muslimin, yang menyebut bahwa lokasi kecelakaan tersebut adalah makam korban penjajahan Belanda.

"Berdasarkan sejarah masyarakat. Area TKP kejadian itu dulunya adalah makam korban perang melawan Belanda," ujarnya saat ditemui pada acara selamatan, Selasa (1/6/2021) lalu.

Sebelumnya diberitakan, kendaraan Pikap yang mengangkut ibu-ibu arisan dari Desa Ranupane, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang menuju Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Raya Dusun Simpar, Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Rabu (26/5/2021) lalu.

Akibatnya, sebanyak 8 dari 14 orang tewas pada kejadian tersebut. Sedangkan 6 orang lainnya kritis. Kecelakaan terjadi diduga karena sopir mengantuk dan sempat terlelap saat menyetir hingga menabrak pohon di pinggir jalan.

Sang sopir bernama Muhammad Asim (44), warga Desa Ranupane, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Malang. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Dikenal Angker, TKP Kecelakaan Ini Dulunya Pemakaman Korban Pembantaian PKI

...
Imron Hakiki
Malang
2 Juni 2021 - 17:55 WIB
Daerah | RILISID
...
Kakek Supa'at, warga Wringinanom. FOTO: RILIS.ID/Imron Hakiki

RILISID, Malang — Lahan tebu menghampar di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) kecelakaan lalu lintas yang menewaskan delapan orang rombongan ibu-ibu arisan di Jalan Raya Dusun Simpar, Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, pada Rabu (26/5/2021) lalu.

Sekilas, suasananya tampak asri dengan rindangnya pepohonan yang berjejer di sepanjang jalan, dihiasi pemandangan gunung semeru jika kita melaju ke arah timur (Malang-Lumajang).

Namun, siapa sangka kawasan itu ternyata menyimpan sejarah kelam. Seperti diceritakan Supa'at, salah satu sesepuh Desa Wringinanom.

Kakek berusia 111 tahun ini mengatakan bahwa kawasan TKP kecelakaan maut itu dulunya tempat pemakaman korban pembantaian simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI).

"Ya, lahan yang ada di sepanjang jalan Simpar itu dulunya memang tempat pemakaman orang-orang PKI," ungkap kakek yang akrab disapa Mbah Pa'at ini dengan nada terbata-bata.

Saat itu, lanjutnya, korban pembantaian PKI dikuburkan menjadi satu di dalam lubang besar yang dibuat oleh masyarakat.

"Waktu itu saya sudah punya anak satu. Cuma tahunnya berapa saya sudah lupa. Yang pasti mayat-mayat tersebut bukan orang Desa Wringinanom. Tapi orang-orang luar, yang dibunuh lalu dikuburkan di sini," tutur pria kelahiran 1910 ini.

Menurut Mbah Pa'at, korban saat itu diangkut menggunakan truk dan dikuburkan pada tengah malam atau sekitar pukul 01.00 WIB.

"Warga sini tidak boleh melihat ketika proses pemakaman itu. Selain itu, kami juga tidak berani melihat," ujar kakek yang kesehariannya sebagai tukang pijat ini.

Setelah itu, kawasan tersebut dikenal angker oleh warga setempat. Sebab, saat itu masih banyak pohon-pohon rimbun dan sepi.

"Selain kala itu memamg belum ada lampu. Jangankan di jalan, rumah warga pun masih menggunakan lampu templok. Jadi pantas jika di sana terkenal angker. Kalau sekarang sudah tidak," tuturnya.

Ditanya apakah kawasan tersebut kerap terjadi kecelakaan, Mbah Pa'at membenarkan. Sejak dulu, menurutnya, kawasan itu memang sering menjadi langganan tempat kecelakaan lalu lintas.

"Tapi paling banyak korbannya pada pekan lalu, yang sebanyak 8 orang itu," pungkasnya.

Pengakuan Mbah Pa'at ini berbeda dengan keterangan Kepala Desa Wringinanom Achmad Muslimin, yang menyebut bahwa lokasi kecelakaan tersebut adalah makam korban penjajahan Belanda.

"Berdasarkan sejarah masyarakat. Area TKP kejadian itu dulunya adalah makam korban perang melawan Belanda," ujarnya saat ditemui pada acara selamatan, Selasa (1/6/2021) lalu.

Sebelumnya diberitakan, kendaraan Pikap yang mengangkut ibu-ibu arisan dari Desa Ranupane, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang menuju Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Raya Dusun Simpar, Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Rabu (26/5/2021) lalu.

Akibatnya, sebanyak 8 dari 14 orang tewas pada kejadian tersebut. Sedangkan 6 orang lainnya kritis. Kecelakaan terjadi diduga karena sopir mengantuk dan sempat terlelap saat menyetir hingga menabrak pohon di pinggir jalan.

Sang sopir bernama Muhammad Asim (44), warga Desa Ranupane, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Malang. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya