Arisan Cuan Malang Tipu Ratusan Warga, Belasan Anggota Lapor Polisi
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Arisan Cuan Malang Tipu Ratusan Warga, Belasan Anggota Lapor Polisi

...
RILIS.ID
Malang
1 Juli 2021 - 21:18 WIB
Daerah | RILISID
...
Salah satu korban penipuan arisan online, IA (28) saat melapor ke Polres Malang, Rabu (30/6/2021). Foto: Rilis.id/Imron Hakiki

RILISID, Malang — Ratusan warga Kota Malang dan Kabupaten Malang diduga menjadi korban penipuan arisan online bernama Cuan Malang.

Dugaan sementara, arisan Cuan Malang tersebut dikelola oleh salah satu warga Kota Malang berinisial NA.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sejak Senin (28/6/2021) hingga Rabu (30/6/2021), setidaknya ada 12 anggota (member) yang sudah mengadukan hal itu ke Polresta Malang Kota dan Polres Malang.

Salah satu korban yang melapor ke Polresta Malang Kota berinisial APU (20) warga Kelurahan Kotalama, mengklaim mengalami kerugian mencapai Rp30 juta akibat ikut arisan bodong tersebut.

Menurutnya, jumlah member dari arisan itu setidaknya sebanyak 100 hingga 200 orang.

"Untuk kerugian dari total semua member perkiraan mencapai miliaran rupiah," ungkapnya saat ditemui di Mapolresta Malang Kota, pada Rabu (30/6/2021).

Korban yang masih berstatus mahasiswa itu menyebut arisan Cuan Malang sudah berlangsung sejak bulan Januari 2021. APU sendiri bergabung sejak Januari hingga Februari 2021.

Selama enam bulan berjalan, proses dan transaksi masih berjalan lancar dan belum ada indikasi penipuan dari NA.

Barulah pada 24 Juni 2021, yang seharusnya uang APU cair sebesar Rp30.750.000, tapi tidak dicairkan oleh NA dengan alasan ATM limit.

"Saya sudah melakukan panggilan WhatsApp kepada NA. NA menjawab bahwa uang saya akan dia cairkan sebelum jam 12.00 WIB tanggal 25 Juni 2021," jelasnya.

Ketika sudah jatuh tempo, alih-alih menepati janjinya, APU justru tidak bisa melacak keberadaan NA, meski sudah menghubungi berulang kali. Akhirnya APU dan ibunya mencoba menagih uang tersebut dengan mengunjungi rumah NA.

Awalnya kita mengunjungi rumah NA di

Jalan Selorejo Kota Malang. Namun hasilnya nihil, rumah tersebut seperti tak berpenghuni, kotor dan berantakan serta terkunci rapat.

"Kemudian kami lanjut mengunjungi rumah NA di daerah Bandulan sesuai dengan alamat di KTP yang NA berikan, tapi menurut tetangganya rumah tersebut sudah terjual dan keluarga besar NA sudah pindah sejak lama," bebernya.

Tidak berhenti di situ, APU terus melacak kediaman NA, dan mendapatkan saran dari seseorang yang mengenalnya agar mengunjungi kediaman orang tua NA di Jalan Palmaerah II, Kota Malang.

"Kami kemudian berbondong-bondong bersama member yang lain menuju ke rumah tersebut. Namun, hasilnya pun nihil. Keluarga mengaku NA tidak pulang sudah 5 tahun lamanya," ujarnya.

Namun, APU dan beberapa member yang lain menduga bahwa keterangan keluarga tersebut tidak benar. Sebab, mereka menemukan fakta bahwa NA dan keluarga bertemu di tahun 2020 berdasarkan postingan Facebook NA.

"Terhitung hingga hari ini, Rabu (30/6/2021) NA belum memberi kabar kepada para member dan hilang begitu saja dengan membawa kabur uang para member," tambahnya.

APU mengaku kenal dengan NA atas jaringan arisan yang sebelumnya pernah dibuat oleh APU, dan NA salah satu membernya.

"Saya kenal NA awalnya melalui whatsapp, di sini saya juga memiliki arisan online dan NA mengikuti arisan regular di saya," terangnya.

Modus penipun yang dilakukan oleh NA itu yakni dengan cara membuka grup WhatsApp dengan nama Arisan Cuan Malang. Di situ NA membuka dua sistem, yaitu investasi dan arisan regular.

"NA lalu menawarkan kepada saya untuk bergabung di arisan yang dia

kelola. Akhirnya saya bergabung, sekaligus dengan program investasinya," tuturnya.

"Awalnya saya bertanya, uang itu NA putar di usaha apa modal yang dia kumpulkan. NA menjawab uang modal tersebut untuk usaha thrift shop dan usaha restoran yang NA miliki," pungkasnya.

Sementara salah satu korban lain yang melaporkan kasus tersebut ke Polres Malang, berinisial IA (28) mengaku mengalami kerugian senilai Rp12,6 juta.

IA mengungkapkan, kronologi awal mengikuti arisan online itu dari saling mengenal di dunia maya melalui media sosial Facebook.

"Awalnya saya sudah berteman dengan si ketua arisan online itu (NA). Trus dia sering menguploud soal arisan itu di facebook. Saya akhirnya bertanya dan tertarik untuk mengikutinya. Bahkan saya bergabung dengan groupnya di aplikasi whatsapp," ujar wanita berjilbab itu.

IA mengaku mengikuti program arisan itu sejak April lalu. Dari arisan online itu sempat mendapat keuntungan di awal. Namun, akhirnya NA tidak lagi mentransferkan penghasilan IA hingga ia mengalami kerugian.

"Saya sempat menarik 2 kali, dan memang nyata bertambah uangnya. Misalkan ada yang Rp 905 ribu menjadi Rp 1,1 juta, dan uang langsung di transfer ke rekening. Sebenarnya arisan itu mulai Bulan Januari, tapi saya pelajari dulu hingga Bulan April. Setelah saya yakin, saya gabung. Awalnyanya lancar-lancar saja, tapi akhirnya saya memasang 8 atau 9 slot dengan total Rp12,6 juta. Namun setelah itu tidak ada kabar," tandasnya. (*)

Laporan: Imron Hakiki, Kontributor Malang

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Arisan Cuan Malang Tipu Ratusan Warga, Belasan Anggota Lapor Polisi

...
RILIS.ID
Malang
1 Juli 2021 - 21:18 WIB
Daerah | RILISID
...
Salah satu korban penipuan arisan online, IA (28) saat melapor ke Polres Malang, Rabu (30/6/2021). Foto: Rilis.id/Imron Hakiki

RILISID, Malang — Ratusan warga Kota Malang dan Kabupaten Malang diduga menjadi korban penipuan arisan online bernama Cuan Malang.

Dugaan sementara, arisan Cuan Malang tersebut dikelola oleh salah satu warga Kota Malang berinisial NA.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sejak Senin (28/6/2021) hingga Rabu (30/6/2021), setidaknya ada 12 anggota (member) yang sudah mengadukan hal itu ke Polresta Malang Kota dan Polres Malang.

Salah satu korban yang melapor ke Polresta Malang Kota berinisial APU (20) warga Kelurahan Kotalama, mengklaim mengalami kerugian mencapai Rp30 juta akibat ikut arisan bodong tersebut.

Menurutnya, jumlah member dari arisan itu setidaknya sebanyak 100 hingga 200 orang.

"Untuk kerugian dari total semua member perkiraan mencapai miliaran rupiah," ungkapnya saat ditemui di Mapolresta Malang Kota, pada Rabu (30/6/2021).

Korban yang masih berstatus mahasiswa itu menyebut arisan Cuan Malang sudah berlangsung sejak bulan Januari 2021. APU sendiri bergabung sejak Januari hingga Februari 2021.

Selama enam bulan berjalan, proses dan transaksi masih berjalan lancar dan belum ada indikasi penipuan dari NA.

Barulah pada 24 Juni 2021, yang seharusnya uang APU cair sebesar Rp30.750.000, tapi tidak dicairkan oleh NA dengan alasan ATM limit.

"Saya sudah melakukan panggilan WhatsApp kepada NA. NA menjawab bahwa uang saya akan dia cairkan sebelum jam 12.00 WIB tanggal 25 Juni 2021," jelasnya.

Ketika sudah jatuh tempo, alih-alih menepati janjinya, APU justru tidak bisa melacak keberadaan NA, meski sudah menghubungi berulang kali. Akhirnya APU dan ibunya mencoba menagih uang tersebut dengan mengunjungi rumah NA.

Awalnya kita mengunjungi rumah NA di

Jalan Selorejo Kota Malang. Namun hasilnya nihil, rumah tersebut seperti tak berpenghuni, kotor dan berantakan serta terkunci rapat.

"Kemudian kami lanjut mengunjungi rumah NA di daerah Bandulan sesuai dengan alamat di KTP yang NA berikan, tapi menurut tetangganya rumah tersebut sudah terjual dan keluarga besar NA sudah pindah sejak lama," bebernya.

Tidak berhenti di situ, APU terus melacak kediaman NA, dan mendapatkan saran dari seseorang yang mengenalnya agar mengunjungi kediaman orang tua NA di Jalan Palmaerah II, Kota Malang.

"Kami kemudian berbondong-bondong bersama member yang lain menuju ke rumah tersebut. Namun, hasilnya pun nihil. Keluarga mengaku NA tidak pulang sudah 5 tahun lamanya," ujarnya.

Namun, APU dan beberapa member yang lain menduga bahwa keterangan keluarga tersebut tidak benar. Sebab, mereka menemukan fakta bahwa NA dan keluarga bertemu di tahun 2020 berdasarkan postingan Facebook NA.

"Terhitung hingga hari ini, Rabu (30/6/2021) NA belum memberi kabar kepada para member dan hilang begitu saja dengan membawa kabur uang para member," tambahnya.

APU mengaku kenal dengan NA atas jaringan arisan yang sebelumnya pernah dibuat oleh APU, dan NA salah satu membernya.

"Saya kenal NA awalnya melalui whatsapp, di sini saya juga memiliki arisan online dan NA mengikuti arisan regular di saya," terangnya.

Modus penipun yang dilakukan oleh NA itu yakni dengan cara membuka grup WhatsApp dengan nama Arisan Cuan Malang. Di situ NA membuka dua sistem, yaitu investasi dan arisan regular.

"NA lalu menawarkan kepada saya untuk bergabung di arisan yang dia

kelola. Akhirnya saya bergabung, sekaligus dengan program investasinya," tuturnya.

"Awalnya saya bertanya, uang itu NA putar di usaha apa modal yang dia kumpulkan. NA menjawab uang modal tersebut untuk usaha thrift shop dan usaha restoran yang NA miliki," pungkasnya.

Sementara salah satu korban lain yang melaporkan kasus tersebut ke Polres Malang, berinisial IA (28) mengaku mengalami kerugian senilai Rp12,6 juta.

IA mengungkapkan, kronologi awal mengikuti arisan online itu dari saling mengenal di dunia maya melalui media sosial Facebook.

"Awalnya saya sudah berteman dengan si ketua arisan online itu (NA). Trus dia sering menguploud soal arisan itu di facebook. Saya akhirnya bertanya dan tertarik untuk mengikutinya. Bahkan saya bergabung dengan groupnya di aplikasi whatsapp," ujar wanita berjilbab itu.

IA mengaku mengikuti program arisan itu sejak April lalu. Dari arisan online itu sempat mendapat keuntungan di awal. Namun, akhirnya NA tidak lagi mentransferkan penghasilan IA hingga ia mengalami kerugian.

"Saya sempat menarik 2 kali, dan memang nyata bertambah uangnya. Misalkan ada yang Rp 905 ribu menjadi Rp 1,1 juta, dan uang langsung di transfer ke rekening. Sebenarnya arisan itu mulai Bulan Januari, tapi saya pelajari dulu hingga Bulan April. Setelah saya yakin, saya gabung. Awalnyanya lancar-lancar saja, tapi akhirnya saya memasang 8 atau 9 slot dengan total Rp12,6 juta. Namun setelah itu tidak ada kabar," tandasnya. (*)

Laporan: Imron Hakiki, Kontributor Malang

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya