Ada Potensi Gempa M 8,7 dan Tsunami 29 Meter, BMKG Ingatkan Mitigasi
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Ada Potensi Gempa M 8,7 dan Tsunami 29 Meter, BMKG Ingatkan Mitigasi

...
Imron Hakiki
Malang
6 Juni 2021 - 16:56 WIB
Daerah | RILISID
...
Kepala BMKG Stasiun Malang Ma'muri saat menjelaskan potensi gempa M 8,7 dan tsunami. FOTO: RILIS.ID/Imron

RILISID, Malang — Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut ada potensi gempa bumi dahsyat dan tsunami di wilayah selatan Jawa Timur (Jatim).

Menurut Kepala BMKG Stasiun Geofisika Malang Ma'muri, berdasarkan data Pusat Studi Gempabumi Nasional, potensi gempa bumi terburuk di selatan Jawa Timur itu bisa mencapai Magnitudo (M) 8,7.

"Berdasarkan data tersebut, BMKG melakukan modeling tsunami dan hasilnya tinggi tsunami diperkirakan sampai 29 meter. BMKG melakukan pemodelan ini bertujuan untuk persiapan mitigasi agar menjadi perhatian bagi pemerintah dan masyarakat luas," ungkapnya, Minggu (6/6/2021).

Adanya potensi gempa bumi sebesar itu, dikarenakan wilayah selatan Jawa merupakan tempat bertemunya Lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia.

"Pertemuan Lempeng itu memanjang dari Barat Pulau Sumatera sampai Selatan Jawa," tuturnya.

"Pertemuan lempeng ini terjadi karena adanya arus konveksi yang disebabkan oleh Panas Bumi" sambung Ma'muri.

Lebih lanjut, Ma'muri menekankan bahwa besaran gempa bumi Magnitudo 8,7 dan tsunami 29 meter itu adalah potensi, bukan prediksi. Sehingga bisa saja terjadi, juga bisa tidak.

"Potensi ini memang tidak bisa kita pastikan kapan terjadinya, karena memang sejauh ini belum ada teknologi yang bisa memastikan kapan gempa bumi terjadi dan kekuatan berapa yang akan terjadi," imbuhnya.

"Namun untuk tsunami yang terjadi karena gempabumi BMKG dapat menghitung perkiraan kapan tsunaminya sampai ke pantai, namun itu juga dihitung setelah terjadinya gempa bumi," ia menambahkan.

Berkaca dari hal itu, menurut Ma'muri, gempa bumi di wilayah selatan Jawa memang hampir setiap hari terjadi, meski tidak selalu bisa dirasakan oleh masyarakat.

"Hal itu juga diakibatkan karena memang ada pertemuan Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia di wilayah selatan Jawa," tegasnya.
Pihaknya meminta pemerintah daerah (pemda) agar membuat antisipasi sedini mungkin untuk masyarakat.

"Antipasi itu berupa pembuatan jalur evakuasi bagi masyarakat yang berada di wilayah pesisir pantai selatan. Sehingga jika sewaktu-waktu tiba-tiba terjadi gempa bumi, masyarakat sudah tahu jalur evakuasinya," paparnya.

Sebab, jika sewaktu-waktu terjadi gempa bumi atau tsunami pemerintah maupun petugas belum tentu mampu membantu mengevakuasi masyarakat.

"Kalau masih menunggu petugas pasti akan terkendala. Misalnya dari perlengkapan. Belum jika terkendala jaringan," ujarnya.

Selain menyediakan jalur evakuasi, Pemerintah Daerah juga diharapkan bisa memberikan edukasi kepada masyarakat, terkait kapan harus evakuasi mandiri apabila terjadi gempa bumi.

"Bagi masyarakat pesisir pantai, apabila terjadi gempa bumi agak lama dengan getaran besar, maka segeralah lari ke dataran yang lebih tinggi. Untuk antisipasi terjadinya tsunami," katanya.

Selain itu, Ma'muri juga mengingatkan apabila masyarakat hendak membangun rumah, maka sebaiknya mengikuti arsitektur rumah lokal jawa zaman dulu.

"Kalau dulu, rumah jawa kan selalu ada tiang 4 buah di setiap sudut rumah. Nah, jika terjadi gempa bumi maka tiang itu akan saling menguatkan," tuturnya.
Struktur bangunan semacam itu, saat ini memang sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat.

"Terbukti rumah yang abruk pada gempa bumi 10 April dan 21 Mei lalu mayoritas rumah yang struktur bangunannya tidak tahan gempa bumi," pungkas Ma'muri. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Ada Potensi Gempa M 8,7 dan Tsunami 29 Meter, BMKG Ingatkan Mitigasi

...
Imron Hakiki
Malang
6 Juni 2021 - 16:56 WIB
Daerah | RILISID
...
Kepala BMKG Stasiun Malang Ma'muri saat menjelaskan potensi gempa M 8,7 dan tsunami. FOTO: RILIS.ID/Imron

RILISID, Malang — Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut ada potensi gempa bumi dahsyat dan tsunami di wilayah selatan Jawa Timur (Jatim).

Menurut Kepala BMKG Stasiun Geofisika Malang Ma'muri, berdasarkan data Pusat Studi Gempabumi Nasional, potensi gempa bumi terburuk di selatan Jawa Timur itu bisa mencapai Magnitudo (M) 8,7.

"Berdasarkan data tersebut, BMKG melakukan modeling tsunami dan hasilnya tinggi tsunami diperkirakan sampai 29 meter. BMKG melakukan pemodelan ini bertujuan untuk persiapan mitigasi agar menjadi perhatian bagi pemerintah dan masyarakat luas," ungkapnya, Minggu (6/6/2021).

Adanya potensi gempa bumi sebesar itu, dikarenakan wilayah selatan Jawa merupakan tempat bertemunya Lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia.

"Pertemuan Lempeng itu memanjang dari Barat Pulau Sumatera sampai Selatan Jawa," tuturnya.

"Pertemuan lempeng ini terjadi karena adanya arus konveksi yang disebabkan oleh Panas Bumi" sambung Ma'muri.

Lebih lanjut, Ma'muri menekankan bahwa besaran gempa bumi Magnitudo 8,7 dan tsunami 29 meter itu adalah potensi, bukan prediksi. Sehingga bisa saja terjadi, juga bisa tidak.

"Potensi ini memang tidak bisa kita pastikan kapan terjadinya, karena memang sejauh ini belum ada teknologi yang bisa memastikan kapan gempa bumi terjadi dan kekuatan berapa yang akan terjadi," imbuhnya.

"Namun untuk tsunami yang terjadi karena gempabumi BMKG dapat menghitung perkiraan kapan tsunaminya sampai ke pantai, namun itu juga dihitung setelah terjadinya gempa bumi," ia menambahkan.

Berkaca dari hal itu, menurut Ma'muri, gempa bumi di wilayah selatan Jawa memang hampir setiap hari terjadi, meski tidak selalu bisa dirasakan oleh masyarakat.

"Hal itu juga diakibatkan karena memang ada pertemuan Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia di wilayah selatan Jawa," tegasnya.
Pihaknya meminta pemerintah daerah (pemda) agar membuat antisipasi sedini mungkin untuk masyarakat.

"Antipasi itu berupa pembuatan jalur evakuasi bagi masyarakat yang berada di wilayah pesisir pantai selatan. Sehingga jika sewaktu-waktu tiba-tiba terjadi gempa bumi, masyarakat sudah tahu jalur evakuasinya," paparnya.

Sebab, jika sewaktu-waktu terjadi gempa bumi atau tsunami pemerintah maupun petugas belum tentu mampu membantu mengevakuasi masyarakat.

"Kalau masih menunggu petugas pasti akan terkendala. Misalnya dari perlengkapan. Belum jika terkendala jaringan," ujarnya.

Selain menyediakan jalur evakuasi, Pemerintah Daerah juga diharapkan bisa memberikan edukasi kepada masyarakat, terkait kapan harus evakuasi mandiri apabila terjadi gempa bumi.

"Bagi masyarakat pesisir pantai, apabila terjadi gempa bumi agak lama dengan getaran besar, maka segeralah lari ke dataran yang lebih tinggi. Untuk antisipasi terjadinya tsunami," katanya.

Selain itu, Ma'muri juga mengingatkan apabila masyarakat hendak membangun rumah, maka sebaiknya mengikuti arsitektur rumah lokal jawa zaman dulu.

"Kalau dulu, rumah jawa kan selalu ada tiang 4 buah di setiap sudut rumah. Nah, jika terjadi gempa bumi maka tiang itu akan saling menguatkan," tuturnya.
Struktur bangunan semacam itu, saat ini memang sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat.

"Terbukti rumah yang abruk pada gempa bumi 10 April dan 21 Mei lalu mayoritas rumah yang struktur bangunannya tidak tahan gempa bumi," pungkas Ma'muri. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya