DPR Sebut Tak Relevan Giring Kasus Floyd ke Papua - RILIS.ID
DPR Sebut Tak Relevan Giring Kasus Floyd ke Papua
Zulhamdi Yahmin
Kamis | 11/06/2020 10.01 WIB
DPR Sebut Tak Relevan Giring Kasus Floyd ke Papua
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman

RILIS.ID, Jakarta – Ketua Komisi I DPR RI, Meutya Hafid, menilai, tidak relevan bila ada yang menggiring kasus kematian warga kulit hitam di Minneapolis, Amerika Serikat (AS), George Floyd ke persoalan Papua. 

Menurut Meutya, tidak bisa menggandeng isu separatisme dengan rasisme. Selama ini, menurut dia, isu Papua sering diidentikkan dengan persoalan disintegrasi karena tuntutan kemerdekaan.

"Dalam konstitusi negara tegas disampaikan persamaan hak setiap warga negara," kata Meutya dalam keterangan tertulisnya, Rabu (10/6/2020). 

Politisi Partai Golkar itu tak nenampik bila masyarakat di Papua masih merasa mendapatkan perlakuan diskriminatif, khususnya terkait proses hukum kasus rasisme di Surabaya.

"Ini kita benahi, dan jika ada pelanggaran saya rasa dapat dibawa ke ranah hukum," ujarnya.

Sementara itu, tokoh muda Papua, Steve Mara, mengingatkan masyarakat Indonesia untuk tidak termakan oleh propaganda yang dimainkan melalui media untuk menciptakan konflik di Papua.

"Kasus rasisme atau perbedaan warna kulit perlu untuk kita refleksikan kembali, sehingga perlu saya ingatkan kembali bahwa dalam membaca dan melihat sebuah berita perlu kita lihat secara utuh agar kita tidak menjadi korban kejahatan teknologi masa kini," kata Steve.

Dia menjelaskan, dalam kasus kematian George Floyd yang terjadi di Amerika Serikat bukanlah konflik yang terjadi antara kelompok dominan dan kelompok subordinat.

"Namun konflik ini bermula setelah pria kulit hitam ini diduga menggunakan uang palsu di salah satu swalayan dan oleh petugas kepolisian setempat lehernya ditekan pakai lutut hingga George Floyd kehabisan napas dan meninggal dunia," ujar dia. 

Jika dicermati secara baik, kata dia, tidak tercium bau rasisme dari kasus itu, melainkan kelalaian petugas yang mengakibatkan kematian terduga pengguna uang palsu.

"Petugas yang melakukannya dihukum dengan hukum pembunuhan tingkat dua serta beberapa petugas lain yang bertugas bersama pada saat itu dihukum dengan hukuman pembunuhan tingkat tiga," paparnya.


Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID