Masjid Ahmadiyah di Kalbar Dirusak, Menag: Jelas Pelanggaran Hukum
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Masjid Ahmadiyah di Kalbar Dirusak, Menag: Jelas Pelanggaran Hukum

...
RILIS.ID
Jakarta
3 September 2021 - 17:35 WIB
Breaking News | RILISID
...
Menag Yaqut Cholil Qoumas. Foto: Dok Istimewa

RILISID, Jakarta — Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas mengecam aksi massa yang merusak masjid Ahmadiyah di Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), pada Jumat (3/9/2021).

"Tindakan sekelompok orang yang main hakim sendiri merusak rumah ibadah dan harta benda milik orang lain tidak bisa dibenarkan dan jelas merupakan pelanggaran hukum,” tegas Gus Yaqut, sapaan akrabnya dikutip dari laman resmi Kemenag.

Tindakan main hakim sendiri, lanjut Gus Yaqut, apalagi dengan cara-cara kekerasan yang merusak rumah ibadah dan harta benda milik orang lain. Hal itu merupakan ancaman nyata bagi kerukunan umat beragama.

"Aparat keamanan perlu mengambil langkah dan upaya yang tegas dan dianggap perlu untuk mencegah dan mengatasi tindakan main hakim sendiri,” ujarnya.

"Proses secara hukum. Para pelaku harus mempertanggungjawabjan perbuatannya di hadapan hukum, demi kepastian hukum dan keadilan,” sambung Menag.

Ia meminta pemerintah daerah (pemda) dapat menjalankan fungsinya untuk menjaga kerukunan umat beragama di daerah masing-masing.

Hal itu sudah diatur dalam Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri (PBM) No 9 dan 8 tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, Dan Pendirian Rumah Ibadat.

Pasal 24 dalam peraturan tersebut mengatur tiga hal berikut: Pertama, gubernur melaporkan pelaksanaan pemeliharaan kerukunan umat beragama, pemberdayaan forum kerukunan umat beragama, dan pengaturan pendirian rumah ibadat di provinsi kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama dengan tembusan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, dan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat.

Kedua, bupati/walikota melaporkan pelaksanaan pemeliharaan kerukunan umat beragama, pemberdayaan forum kerukunan umat beragama, dan pengaturan pendirian rumah ibadat di kabupaten/kota kepada gubernur dengan tembusan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama.

Ketiga, laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disampaikan setiap 6 (enam) bulan pada bulan Januari dan Juli, atau sewaktu-waktu jika dipandang perlu.

"Saya sudah minta Kakanwil (Kemenag) Kalimantan Barat untuk berkoordinasi dengan pihak pemda dan melaporkan update penanganan masalah yang terjadi serta langkah-langkah yang diambil dalam memelihara kerukunan umat beragama,” tandas Gus Yaqut. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Masjid Ahmadiyah di Kalbar Dirusak, Menag: Jelas Pelanggaran Hukum

...
RILIS.ID
Jakarta
3 September 2021 - 17:35 WIB
Breaking News | RILISID
...
Menag Yaqut Cholil Qoumas. Foto: Dok Istimewa

RILISID, Jakarta — Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas mengecam aksi massa yang merusak masjid Ahmadiyah di Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), pada Jumat (3/9/2021).

"Tindakan sekelompok orang yang main hakim sendiri merusak rumah ibadah dan harta benda milik orang lain tidak bisa dibenarkan dan jelas merupakan pelanggaran hukum,” tegas Gus Yaqut, sapaan akrabnya dikutip dari laman resmi Kemenag.

Tindakan main hakim sendiri, lanjut Gus Yaqut, apalagi dengan cara-cara kekerasan yang merusak rumah ibadah dan harta benda milik orang lain. Hal itu merupakan ancaman nyata bagi kerukunan umat beragama.

"Aparat keamanan perlu mengambil langkah dan upaya yang tegas dan dianggap perlu untuk mencegah dan mengatasi tindakan main hakim sendiri,” ujarnya.

"Proses secara hukum. Para pelaku harus mempertanggungjawabjan perbuatannya di hadapan hukum, demi kepastian hukum dan keadilan,” sambung Menag.

Ia meminta pemerintah daerah (pemda) dapat menjalankan fungsinya untuk menjaga kerukunan umat beragama di daerah masing-masing.

Hal itu sudah diatur dalam Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri (PBM) No 9 dan 8 tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, Dan Pendirian Rumah Ibadat.

Pasal 24 dalam peraturan tersebut mengatur tiga hal berikut: Pertama, gubernur melaporkan pelaksanaan pemeliharaan kerukunan umat beragama, pemberdayaan forum kerukunan umat beragama, dan pengaturan pendirian rumah ibadat di provinsi kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama dengan tembusan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, dan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat.

Kedua, bupati/walikota melaporkan pelaksanaan pemeliharaan kerukunan umat beragama, pemberdayaan forum kerukunan umat beragama, dan pengaturan pendirian rumah ibadat di kabupaten/kota kepada gubernur dengan tembusan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama.

Ketiga, laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disampaikan setiap 6 (enam) bulan pada bulan Januari dan Juli, atau sewaktu-waktu jika dipandang perlu.

"Saya sudah minta Kakanwil (Kemenag) Kalimantan Barat untuk berkoordinasi dengan pihak pemda dan melaporkan update penanganan masalah yang terjadi serta langkah-langkah yang diambil dalam memelihara kerukunan umat beragama,” tandas Gus Yaqut. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya