Kabar Baik, Zona Merah Covid-19 di Indonesia Kini Tersisa Satu Daerah Ini
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Kabar Baik, Zona Merah Covid-19 di Indonesia Kini Tersisa Satu Daerah Ini

...
RILIS.ID
Jakarta
16 September 2021 - 9:34 WIB
Breaking News | RILISID
...
Ilustrasi: Rilis.id/Kalbi Rikardo

RILISID, Jakarta — Kabar baik datang dari pemerintah pusat melalui Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19. Satgas mengumumkan wilayah yang masuk kategori risiko tinggi atau zona merah hanya tersisa satu daerah.

Berdasarkan update peta zonasi risiko Covid-19 yang diakses di situs covid19.go.id/peta-risiko, Kamis (16/9/2021), Satgas menetapkan Kota Banda Aceh menjadi satu-satunya zona merah di Indonesia per 12 September 2021.

Satgas juga menetapkan 423 daerah masuk kategori risiko rendah atau zona kuning, 89 zona oranye atau risiko sedang, dan satu daerah tidak ada kasus atau zona hijau.

Penurunan jumlah zona merah ini seiring dengan perkembangan kasus Covid-19 yang terus mengalami perbaikan.

Dalam tiga pekan terakhir, zona merah terbanyak terjadi pada 22 Agustus 2021. Saat itu, terdapat 53 kabupaten dan kota masuk wilayah dengan kategori risiko tinggi.

Pada 29 Agustus 2021, jumlah zona merah turun menjadi 15 daerah. Penurunan juga terjadi pada 5 September, di mana terdapat lima daerah ditetapkan menjadi zona merah Covid-19.

Penilaian Zonasi

Dalam penentuan peta risiko wilayah, Satgas Penanganan Covid-19 menggunakan sepuluh indikator epidemiologi untuk menentukan zonasi risiko.

Antara lain penurunan jumlah kasus positif dan probable pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak; jumlah kasus aktif pada pekan terakhir kecil atau tidak ada; penurunan jumlah meninggal kasus positif pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak; penurunan jumlah meninggal kasus suspek pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak.

Kemudian penurunan jumlah kasus positif yang dirawat di RS pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak; penurunan jumlah kasus suspek yang dirawat di RS pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak; persentase kumulatif kasus sembuh dari seluruh kasus positif.

Selanjutnya, insiden kumulatif kasus positif per 100.000 penduduk; kecepatan laju insidensi (perubahan insiden kumulatif) per 100.000 penduduk; mortality rate (angka kematian) kasus positif per 100.000 penduduk.

Selain indikator epidemiologi, Satgas juga menggunakan indikator surveilans kesehatan masyarakat dan indikator pelayanan kesehatan.

Indikator surveilans kesehatan masyarakat meliputi jumlah pemeriksaan sampel diagnosis mengikuti standar WHO yakni satu orang diperiksa per 1.000 penduduk per minggu pada level provinsi dan positivity rate rendah (target ≤5 persen sampel diagnosis positif dari seluruh kasus yang diperiksa). Hal itu merujuk pada angka provinsi.

Sementara, indikator pelayanan kesehatan meliputi rata-rata angka keterpakaian tempat tidur isolasi (% BOR TT Isolasi) dalam satu minggu terakhir pada RS rujukan Covid-19 cukup untuk menampung pasien di wilayah tersebut; rata-rata angka keterpakaian TT intensif (% BOR TT intensif) dalam satu minggu terakhir pada RS rujukan Covid-19 cukup untuk menampung pasien di wilayah tersebut.

Setiap indikator diberikan skoring dan pembobotan, lalu dijumlahkan. Hasil perhitungan dikategorisasi menjadi empat zona risiko, yaitu zona risiko tinggi 0-1.80; zona risiko sedang 1.81-2.40; zona risiko rendah 2.41-3.0; zona tidak terdampak atau tidak tercatat kasus positif.

Terakhir, zona tidak ada kasus atau pernah terdapat kasus di wilayah tersebut namun tidak ada penambahan kasus baru dalam empat minggu terakhir serta angka kesembuhan mencapai lebih dari 95 persen. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Kabar Baik, Zona Merah Covid-19 di Indonesia Kini Tersisa Satu Daerah Ini

...
RILIS.ID
Jakarta
16 September 2021 - 9:34 WIB
Breaking News | RILISID
...
Ilustrasi: Rilis.id/Kalbi Rikardo

RILISID, Jakarta — Kabar baik datang dari pemerintah pusat melalui Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19. Satgas mengumumkan wilayah yang masuk kategori risiko tinggi atau zona merah hanya tersisa satu daerah.

Berdasarkan update peta zonasi risiko Covid-19 yang diakses di situs covid19.go.id/peta-risiko, Kamis (16/9/2021), Satgas menetapkan Kota Banda Aceh menjadi satu-satunya zona merah di Indonesia per 12 September 2021.

Satgas juga menetapkan 423 daerah masuk kategori risiko rendah atau zona kuning, 89 zona oranye atau risiko sedang, dan satu daerah tidak ada kasus atau zona hijau.

Penurunan jumlah zona merah ini seiring dengan perkembangan kasus Covid-19 yang terus mengalami perbaikan.

Dalam tiga pekan terakhir, zona merah terbanyak terjadi pada 22 Agustus 2021. Saat itu, terdapat 53 kabupaten dan kota masuk wilayah dengan kategori risiko tinggi.

Pada 29 Agustus 2021, jumlah zona merah turun menjadi 15 daerah. Penurunan juga terjadi pada 5 September, di mana terdapat lima daerah ditetapkan menjadi zona merah Covid-19.

Penilaian Zonasi

Dalam penentuan peta risiko wilayah, Satgas Penanganan Covid-19 menggunakan sepuluh indikator epidemiologi untuk menentukan zonasi risiko.

Antara lain penurunan jumlah kasus positif dan probable pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak; jumlah kasus aktif pada pekan terakhir kecil atau tidak ada; penurunan jumlah meninggal kasus positif pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak; penurunan jumlah meninggal kasus suspek pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak.

Kemudian penurunan jumlah kasus positif yang dirawat di RS pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak; penurunan jumlah kasus suspek yang dirawat di RS pada minggu terakhir sebesar ≥50 persen dari puncak; persentase kumulatif kasus sembuh dari seluruh kasus positif.

Selanjutnya, insiden kumulatif kasus positif per 100.000 penduduk; kecepatan laju insidensi (perubahan insiden kumulatif) per 100.000 penduduk; mortality rate (angka kematian) kasus positif per 100.000 penduduk.

Selain indikator epidemiologi, Satgas juga menggunakan indikator surveilans kesehatan masyarakat dan indikator pelayanan kesehatan.

Indikator surveilans kesehatan masyarakat meliputi jumlah pemeriksaan sampel diagnosis mengikuti standar WHO yakni satu orang diperiksa per 1.000 penduduk per minggu pada level provinsi dan positivity rate rendah (target ≤5 persen sampel diagnosis positif dari seluruh kasus yang diperiksa). Hal itu merujuk pada angka provinsi.

Sementara, indikator pelayanan kesehatan meliputi rata-rata angka keterpakaian tempat tidur isolasi (% BOR TT Isolasi) dalam satu minggu terakhir pada RS rujukan Covid-19 cukup untuk menampung pasien di wilayah tersebut; rata-rata angka keterpakaian TT intensif (% BOR TT intensif) dalam satu minggu terakhir pada RS rujukan Covid-19 cukup untuk menampung pasien di wilayah tersebut.

Setiap indikator diberikan skoring dan pembobotan, lalu dijumlahkan. Hasil perhitungan dikategorisasi menjadi empat zona risiko, yaitu zona risiko tinggi 0-1.80; zona risiko sedang 1.81-2.40; zona risiko rendah 2.41-3.0; zona tidak terdampak atau tidak tercatat kasus positif.

Terakhir, zona tidak ada kasus atau pernah terdapat kasus di wilayah tersebut namun tidak ada penambahan kasus baru dalam empat minggu terakhir serta angka kesembuhan mencapai lebih dari 95 persen. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya