Pemungutan Suara Pemilu 2024 Diusulkan pada April 2024
Kategori
Rilis Network
Cari Berita

Pemungutan Suara Pemilu 2024 Diusulkan pada April 2024

...
RILIS.ID
Jakarta
1 Desember 2021 - 13:01 WIB
Elektoral | RILISID
...
Anggota Komite I DPD Abraham Liyanto. Foto: Istimewa

RILISID, Jakarta — Anggota Komite I DPD Abraham Liyanto mengusulkan agar pelaksanaan Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 tetap dilakukan pada April 2024.

Sehingga menurutnya, penyelenggaraan Pileg dan Pilpres 2024 sama seperti pada pemilu sebelumnya. Ia beralasan April merupakan waktu yang baik untuk melaksanakan dua pesta demokrasi tersebut.

“Idealnya tetap April seperti sebelum-sebelumnya. Itu waktu moderat,” kata Abraham di Jakarta, Rabu (1/12/2021).

Sebagaimana diketahui, KPU mengusulkan agar pemilu serentak 2024 digelar Februari. Alasannya, untuk memberi waktu bagi KPU dan Bawaslu menyiapkan penyelenggaraan pilkada serentak pada November 2024.

Sementara pemerintah meminta Pemilu 2024 dilaksanakan pada Mei sehingga jarak antara pemungutan suara dengan pelantikan presiden tak terlalu lama.

Abraham mengaku tidak setuju dengan usulan KPU supaya pemilu dimajukan pada Februari. Alasannya, Februari masih bulan basah atau musim hujan sehingga sangat beresiko.

“Potensi banjir masih terjadi di bulan Februari. Bayangkan jika TPS (Tempat Pemungutan Suara) kebanjiran, fatal akibatnya. Atau pengiriman logistik dilakukan saat banjir atau ombak tinggi. Bisa tidak sampai di TPS,” jelas senator asal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini.

Dia juga tidak setuju dengan usulan pemerintah yang melaksanakan Pemilu pada Mei. Alasannya, kata Abraham, tidak memberi waktu yang cukup bagi penyelenggara untuk mempersiapkan pilkada serentak November 2024.

Ketersediaan waktu yang singkat atau mepet bisa mengurangi kualitas hasil pilkada.

“Jika pemilu bulan Mei, berarti semua tahapan sampai sidang di Mahkamah Konstitusi baru selesai pada bulan Agustus, bahkan sampai September. Kapan pendaftaran calon pilkada jika tahapan pemilu sampai September? Kapan mereka kampanye? Mampu tidak penyelenggara mempersiapkan Pilkada karena baru saja selesai mengurus Pemilu serentak? Ini persoalan-persoalan yang harus dijawab,” tuturnya.

Ketua Kadin NTT ini juga menyebut faktor lain yang harus dipikirkan pada Pemilu 2024 yaitu bahaya meninggalnya petugas seperti pada Pemilu 2019. Hal itu karena beban kerja yang sangat berat dan harus menyiapakan Pemilu dan Pilkada secara bersamaan.

Dia berharap ada jeda waktu yang cukup antara Pemilu serentak dengan Pilkada serentak sehingga tidak menimbulkan korban jiwa bagi petugas.

Pengalaman Pemilu 2019 yang menelan korban hingga 900 orang meninggal dunia harus menjadi pelajaran penting untuk Pemilu 2024.

Pemilik Universitas Citra Bangsa (UCB) Kupang ini menyebut waktu ideal untuk Pemilu serentak 2024 adalah bulan April.

Paling cepat jika dimajukan pada pertengahan Maret. Alasannya, pada bulan-bulan tersebut, wilayah Indonesia sudah masuk bulan kering. Potensi terjadi kebanjiran saat coblos atau pengiriman logistik tidak akan terjadi.

Di sisi lain, tersedia cukup waktu bagi penyelenggara jika pemilu diselenggarakan bulan April atau pertengahan Maret.

Dengan waktu tersebut, seluruh tahapan Pemilu serentak telah selesai sampai Juni atau Juli. Masuk bulan Agustus dilakukan pendaftaran calon Pilkada. Baru bulan September-Oktober sebagai waktu kampanye.

“Penyelenggara Pilkada tidak terlalu capek jika Pemilu serentak dilakukan bulan Maret atau April. Mereka masih punya waktu untuk persiapan Pilkada serentak. Jadi Pemilu serentak jangan bulan Februari, tetapi jangan pulan bulan Mei. Ambil tengah-tengah saja,” tutup Abraham. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya

Populer

Tag Populer

Pilihan

Baca Juga

Pemungutan Suara Pemilu 2024 Diusulkan pada April 2024

...
RILIS.ID
Jakarta
1 Desember 2021 - 13:01 WIB
Elektoral | RILISID
...
Anggota Komite I DPD Abraham Liyanto. Foto: Istimewa

RILISID, Jakarta — Anggota Komite I DPD Abraham Liyanto mengusulkan agar pelaksanaan Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 tetap dilakukan pada April 2024.

Sehingga menurutnya, penyelenggaraan Pileg dan Pilpres 2024 sama seperti pada pemilu sebelumnya. Ia beralasan April merupakan waktu yang baik untuk melaksanakan dua pesta demokrasi tersebut.

“Idealnya tetap April seperti sebelum-sebelumnya. Itu waktu moderat,” kata Abraham di Jakarta, Rabu (1/12/2021).

Sebagaimana diketahui, KPU mengusulkan agar pemilu serentak 2024 digelar Februari. Alasannya, untuk memberi waktu bagi KPU dan Bawaslu menyiapkan penyelenggaraan pilkada serentak pada November 2024.

Sementara pemerintah meminta Pemilu 2024 dilaksanakan pada Mei sehingga jarak antara pemungutan suara dengan pelantikan presiden tak terlalu lama.

Abraham mengaku tidak setuju dengan usulan KPU supaya pemilu dimajukan pada Februari. Alasannya, Februari masih bulan basah atau musim hujan sehingga sangat beresiko.

“Potensi banjir masih terjadi di bulan Februari. Bayangkan jika TPS (Tempat Pemungutan Suara) kebanjiran, fatal akibatnya. Atau pengiriman logistik dilakukan saat banjir atau ombak tinggi. Bisa tidak sampai di TPS,” jelas senator asal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini.

Dia juga tidak setuju dengan usulan pemerintah yang melaksanakan Pemilu pada Mei. Alasannya, kata Abraham, tidak memberi waktu yang cukup bagi penyelenggara untuk mempersiapkan pilkada serentak November 2024.

Ketersediaan waktu yang singkat atau mepet bisa mengurangi kualitas hasil pilkada.

“Jika pemilu bulan Mei, berarti semua tahapan sampai sidang di Mahkamah Konstitusi baru selesai pada bulan Agustus, bahkan sampai September. Kapan pendaftaran calon pilkada jika tahapan pemilu sampai September? Kapan mereka kampanye? Mampu tidak penyelenggara mempersiapkan Pilkada karena baru saja selesai mengurus Pemilu serentak? Ini persoalan-persoalan yang harus dijawab,” tuturnya.

Ketua Kadin NTT ini juga menyebut faktor lain yang harus dipikirkan pada Pemilu 2024 yaitu bahaya meninggalnya petugas seperti pada Pemilu 2019. Hal itu karena beban kerja yang sangat berat dan harus menyiapakan Pemilu dan Pilkada secara bersamaan.

Dia berharap ada jeda waktu yang cukup antara Pemilu serentak dengan Pilkada serentak sehingga tidak menimbulkan korban jiwa bagi petugas.

Pengalaman Pemilu 2019 yang menelan korban hingga 900 orang meninggal dunia harus menjadi pelajaran penting untuk Pemilu 2024.

Pemilik Universitas Citra Bangsa (UCB) Kupang ini menyebut waktu ideal untuk Pemilu serentak 2024 adalah bulan April.

Paling cepat jika dimajukan pada pertengahan Maret. Alasannya, pada bulan-bulan tersebut, wilayah Indonesia sudah masuk bulan kering. Potensi terjadi kebanjiran saat coblos atau pengiriman logistik tidak akan terjadi.

Di sisi lain, tersedia cukup waktu bagi penyelenggara jika pemilu diselenggarakan bulan April atau pertengahan Maret.

Dengan waktu tersebut, seluruh tahapan Pemilu serentak telah selesai sampai Juni atau Juli. Masuk bulan Agustus dilakukan pendaftaran calon Pilkada. Baru bulan September-Oktober sebagai waktu kampanye.

“Penyelenggara Pilkada tidak terlalu capek jika Pemilu serentak dilakukan bulan Maret atau April. Mereka masih punya waktu untuk persiapan Pilkada serentak. Jadi Pemilu serentak jangan bulan Februari, tetapi jangan pulan bulan Mei. Ambil tengah-tengah saja,” tutup Abraham. (*)

Editor : Segan Simanjuntak

TAG:

Berita Lainnya