logo rilis
18 Dokter Meninggal, IDI Lakukan Investigasi Tenaga Medis yang Tangani COVID-19
Kontributor
Nailin In Saroh
07 April 2020, 19:30 WIB
18 Dokter Meninggal, IDI Lakukan Investigasi Tenaga Medis yang Tangani COVID-19
Ilustrasi tenaga medis menangani pasien COVID-19. ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi S.

RILIS.ID, Jakarta— Sebanyak 81 tenaga medis terdiri dari dokter dan perawat gugur dalam memerangi wabah COVID-19 per Maret 2020. Teranyar, 18 dokter dinyatakan meninggal dunia hingga Senin 6 April 2020.

Terkait banyaknya temaga medis yang gugur, Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) akan melakukan investigasi terkait penerimaan petugas medis dalam menangani pasien COVID-19 di Tanah Air.

"Kami akan mencoba menginvestigasi masalah meninggalnya para sahabat sejawat," kata Wakil Ketua Umum PB IDI Mohammad Adib Khumaidi dikutip dari Antara, Selasa (7/4).

Investigasi tersebut, dikatakannya, akan memakan waktu karena memerlukan data yang diterima terkait dengan jumlah tenaga medis dalam penyelesaian pasien COVID-19.

Namun, berdasarkan data secara umum, IDI terlebih dahulu akan mencoba mengkaji lebih lanjut berdasarkan faktor. Sumber daya manusia (SDM) yang membahas tentang usia, frekuensi pelayanan, dan penyakit penyerta tenaga medis.

"Penyakit penyerta ini cukup membuat atau memperberat kondisi penyakitnya sehingga sulit diselesaikan dan akhirnya meninggal," jelas Adib.

Selain melakukan investigasi, lanjutnya, IDI juga akan membuat peraturan internal yang diharapkan dapat digunakan tentang peraturan SDM dan alat pelindung diri. 

PB IDI juga telah mengirimkan kepada para tenaga medis yang masih melakukan praktik di poli pelayanan, Unit Gawat Darurat (UGD) dan klinik yang menyediakan mereka memakai APD standar tingkat dua. "Standar goggles, masker N95 dan sarung tangan," katanya.

Menurut Adib, minimal berbagai peralatan standar harus digunakan oleh setiap tenaga medis dalam bekerja. Jika ada baju hazmat akan lebih baik lagi. 

Kemudian terkait standar fasilitas kesehatan yang digunakan oleh tenaga medis, diharapkan ada persetujuan yang mengatur fasilitas kesehatan saat bekerja. "Harus ada aturan yang dibuat untuk membedakan mana fasilitas kesehatan khusus pasien COVID-19 dan bukan," katanya.

"Saat ini semuanya masih bercampur jadi masalah untuk kontak antarpasien dengan pasien, masyarakat juga pengunjung tinggi," pungkas Adib. 

 




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID