logo rilis
Zul-Rohmi, Pertaruhan Prestise dan Truff Politik TGB di Pilgub NTB
Kontributor

09 Februari 2018, 19:01 WIB
Zul-Rohmi, Pertaruhan Prestise dan Truff Politik TGB di Pilgub NTB

Lembaga kajian sosial politik, M16 menilai sejatinya daya tarik Pemilihan Gubernur dan Wagub Nusa Tenggara Barat (NTB) terletak pada paket kandidat paslon Cagub-Cawagub, Dr Zulkieflimansyah - Dr Hj Sitti Rohmi Djalilah (Zul-Rohmi).

Kehadiran Zul-Rohmi pada kontestasi Pilgub ini dinilai berani melawan mainstream politik (baca : Anomali), serta terkesan ada hidden agenda dari sisi kalkulasi politik. 

"Ini yang membuat Pilgub NTB jadi menarik. Dimana Zul-Rohmi menempatkan minoritas diberi kepercayaan penuh tanpa "reserve" jadi Cagub.  Sementara Cawagub, seorang perempuan yang dalam sejarah Pilkada di NTB, baru pertama  berlaga melawan kaum maskulin jawara politik," kata Direktur M16, Bambang Mei Finarwanto, Jumat (9/2) di Mataram.   

Mi6 justru melihat disinilah kecerdikan politik mendesign paket Zul-Rohmi. Ada celah dan kesempatan yang hendak "dimainkan" on target di balik kemunculan paket Zul-Rohmi. 

Ia menambahkan, agaknya invisible hand  politik Zul-Rohmi pasti memiliki kalkulasi yang kuat dan alasan pembenar mendobrak kelaziman politik konvensional. Semangat mendekonstruksi pola pikir lama sejatinya ingin ditampilkan dengan munculnya Zul Rohmi.

"Zul-Rohmi dihajatkan sebagai antitesa melawan kecenderungan dan pakem politik ortodok. Maka jangan heran, ibarat kuda pacu langkah dan manuver politik Zul-Rohmi dalam menggalang dukungan dan simpati rakyat sedemikian opensif dan intens, dengan tim ramping yang mobilitas dengan daya jelajah cepat dan masive makin sulit ditandingi," papar Didu, sapaan akrab Bambang Mei.

M16 menilai, sebagai kreator politik Zul-Rohmi, sosok TGB dalam perspektif politik ingin memainkan psikologi paslon lain dengan memasang paket Zul Rohmi yang tidak populer, lemah sekaligus aneh.

"Tentu sebagai arsitek politik, TGB  punya hidden agenda yang belum.saatnya diungkap," kata Didu.

Didu melihat sejatinya TGB mempertaruhkan segalanya di balik kreasi politiknya  Zul-Rohmi. TGB sadar bahwa eksperimen paket Zul-Rohmi akan berkonsekwensi effect domino yang luas dan dasyat jika mengalami turbulensi di luar prediksi.

"Sadar posisinya dipandang  underdog, Zul-Rohmi justru menjawabnya dengan makin rapi bergerak dan seolah olah tanpa beban," ujar mantan Eksekutif Daerah Walhi NTB.

Kecepatan gerak Zul-Rohmi dalam melakukan penetrasi dan membuka jejaring baru pemilih ini sebagai strategi taktis untuk menambah barisan loyalis vottersnya ditengah lambannya gerak Paslon lain. 

"Celah ini yang kemudian dimanfaatkan Zul-Rohmi masuk ke jantung pertahanan paslon dikala lengah," tambahnya. 

Ia mengatakan, permainan politik yang ditampilkan dalam Pilgub NTB kali ini akan menjadi pertaruhan prestise dan truff politik TGB. Hal ini tentu terkait bagaimana marwah kekuasaan politik di NTB tetap dipertahankan dan dipegang. 

"TGB tidak ingin hasil Pilgub NTB nanti out of control," ujarnya.

Meskipun demikian lanjut Didu, dengan empat Paslon yang tampil di Pilgub NTB, kekuatan politik dan dukungan semua calon berimbang.

"Tidak ada Matahari tunggal di Pilgub NTB," ujar Didu sembari menyebut bocoran info lembaga survey konon elektabilitas masing-masing Paslon tidak terpaut dan Zul Rohmi masuk urutan keempat elektabilitasnya.

Didu berharap agar paket Zul-Rohmi sebagai anti tesa politik perlu menyakinkan ke publik yang masih meragukan ikhtiar dan kapasitasnya bisa menandingi kekuatan tiga jawara politik tersebut.

"Di kalangan kelas menengah lebih mudah diyakinkan persepsinya, tapi untuk masyarakat jelata perlu dibangun solidaritas dan empati sosial. Dan ini perlu pendekatan ekstra ordinary," tandas Didu.

Dalam pandangan M16, belajar dari kemenangan TGB dalam pilkada 2008 silam yang menjadi paslon tak diunggulkan dibanding incumbent saat itu, Zul-Rohmi diarahkan seperti nostalgia politik TGB tahun 2008 yang berakhir dengan happy ending tersebut. 

"Saat itu di Pilgub NTB tahun 2008, publik cenderung tidak mengunggulkan pasangan TGB-Badrul Munir melawan incumbent paslon Serinata-Husni Jibril yang berakhir dengan kemenangan telak TGB-BM itu,"ungkap Didu.

Sebagai sutradara politik, lanjut Didu, Gerakan dan manuver Zul-Rohmi mirip dengan apa yg dilakukan TGB dulu yaitu mengandalkan kecepatan gerak dalam melakukan penetrasi step by step pada semua lini dan titik konsentrasi pemilih. 

Ciri lainnya adalah Zul-Rohmi cenderung menguasai kantong-kantong pemilih di pinggiran atau akar rumput.

"Ini kemudian yang membentuk jaring jaring pemilih yang terintegrasi satu sama lain pada setiap kontak person di wilayah yang membentang dari Mataram sampai Bima," tukasnya.

Didu mengulas, peran partai dan relawan Zul Rohmi perlu di atensi dan di apresiasi dalam mendongkrak elektabilitas Zul-Rohmi.

"Mereka adalah garda terdepan Zul Rohmi yang membukakan semua akses masuk Zul-Rohmi ke kantong pemilih yang strategis," kata Didu. 

Didu memprediksi paska penetapan Paslon oleh KPU NTB tanggal 12 Februari 2018 mendatang, bisa jadi konstelasi Pilgub NTB lebih dinamis. 

Hal ini terkait Paslon Pilgub NTB akan melepaskan semua atribut yang melekat pada dirinya, baik sebagai Bupati, Walikota dan anggota parlemen. 

"Justru disini menariknya konstestasi Pilgub NTB, ketika semua Paslon tersebut bertarung apa adanya," lanjutnya .

Terakhir, tandas Didu, peta politik Pilkada serentak di NTB juga menyulitkan Paslon dan parpol untuk melakukan sinergitas kerja tim di basis pemilih terkait tidak liniernya koalisi Paslon di Provinsi dan Kabupaten/Kota.

"Ini tentunya secara psikologis politik akan berdampak pada kekompakan kerja teamwork jika tidak saling menjaga kepercayaan," katanya. 


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)