logo rilis
Yuk, Mengenal Islam karena #TerorisTakPunyaAgama
Kontributor
Andi Mohammad Ikhbal
15 Mei 2018, 10:55 WIB
Yuk, Mengenal Islam karena #TerorisTakPunyaAgama
Terorisme, Teroris, bom, bunuhdiri. ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman

RILIS.ID, Jakarta— Ketika sedang asyik berselancar dengan pemberitaan terorisme, tiba-tiba saja sebuah chat dari aplikasi berpesan (whatsapp) memunculkan notifikasi. Sebuah kiriman pesan dari mantan Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai.

Ia melempar sebuah pesan dari Ustadz Azzam Mujahid Izzulhaq yang berisi tentang bagaimana umat Islam, serta para pemimpin perang muslim memperlakukan para pemeluk agama lain saat di zaman peperangan dulu.

Diriwayatkan, pada 1189, pasukan Shalahuddin Al Ayyubi membebaskan Palestina dari penjajahan pasukan sekutu King Richard I. Sesaat sebelum memasuki pintu gerbang Yerussalem, sang panglima perang ini meminta agar pasukannya hanya melakukan perlawanan kepada militer musuh saja.

"Tidak boleh ada yg mengganggu rakyat sipil, wanita, anak-anak, para rahib dan pendeta. Tidak boleh pula merusak rumah, tempat ibadah bahkan tanaman dan hewan peliharaan." Begitulah pesan Al Ayyubi.

Amanah panglima pun ditunaikan. Tidak ada satu pun yg tidak diperbolehkan dalam syari'at Islam dalam berperang dilanggar. Bahkan, dengan tangannya sendiri si jendral muslim ini, mengambil salib yang terjatuh di altar gereja, lalu ia kembalikan lagi ke posisi semula.

Bukan cuma itu, di tahun 1453, masa di mana Muhammad Al Fatih menaklukkan Konstantinopel bersama pasukannya, diceritakan bahwa ia sempat turun dari kuda dan salat dua rakaat di depan Gereja Hagia Sophia.

Setelah salat, Muhammad Al Fatih masuk ke dalam gereja. Melihat para pendeta dan rakyat sipil duduk bersimpuh. Namun, hal tak terduga terjadi, ia malah memeluk seorang pendeta dan diajaknya berdiri, serta semua jemaat di sana.

"Berdirilah kalian semua. Kalian semua bebas, boleh melakukan apa saja sebagaimana manusia merdeka. Beribadahlah sesuai dengan keyakinan kalian. Kami tidak akan mengganggunya." kata Al Fatih.

Ketika kaum Nasrani bersepakat menyerahkan gereja Hagia Sophia, Muhammad Al Fatih menolaknya. Ia berkata, "Tetaplah beribadah di dalamnya. Namun, jika kalian merasa kurang nyaman, izinkan saya membeli Hagia Sophia. Lalu, akan saya bangun gereja-gereja lain di Istanbul, untuk ketenangan ibadan kalian."

Dalam kondisi berperang sekalipun, syariat Islam tidak memperbolehkan adanya teror terhadap rakyat sipil, tempat ibadah, tokoh agama dan penganutnya, bahkan hingga tumbuh-tumbuhan dan hewan peliharaan.

kezaliman tidak diperbolehkan. Dalam pandangan Islam, tidak ada yang namanya pengrusakan terhadap tempat ibadah, apalagi dengan menyakiti tokoh agama dan serta para penganutnya.

"Kejadian teror terhadap tempat ibadah apa pun di belahan bumi ini adalah sebuah hal yang tercela. Tidak ada dalam syariat Islam. Turut berduka cita yang mendalam," ujar Ustadz Azzam Mujahid Izzulhaq.

Aksi tersebut adalah upaya adu domba yang dilakukan untuk memperkeruh suasana hubungan harmonis antarumat manusia.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)