Home » Inspirasi » Sosok

Yudi Latif: The Guardian of Pancasila

print this page Selasa, 17/10/2017 | 18:06

Yudi Latief, Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP). ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

TUTUR katanya santun, tapi tegas, dan mudah dimengerti. Setiap kalimat yang meluncur dari bibirnya tertata rapi, punya daya magis, dan mengandung makna mendalam. Apalagi kalau bicara soal ideologi bangsa, Pancasila. Nyaris tak ada detail yang terlewat.

Yudi Latif, dia kini menjadi tokoh paling utama “Penjaga Pancasila” (The Guardian of Pancasila). Obsesinya besar. Ia ingin nilai adiluhung Pancasila dijadikan generasi muda sebagai dasar kesuksesan di semua bidang kehidupan. Ia ingin kembali semakin membumikan Pancasila. Itulah alasan, ia mau menerima pinangan Presiden Jokowi untuk menjadi Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP).

Banyak cibiran memang yang mengatakan upaya pembentukan UKP-PIP tak lain hanya akan mengulang kegagalan P4 ala Orde Baru. Tapi kritik itu hal biasa. Setiap keluhan harus dia jawab dengan kerja nyata.

Dalam Pancasila, kata Yudi, ada “kerakyatan” yang menjadi ruh bagi negeri yang dulu dikenal dengan nama Nusantara ini. Setelah kemerdekaan diraih, rakyat banyak mendulang prestasi. Tapi sayang, banyaknya prestasi anak bangsa belum membuat semangat persatuan dan keadilan berjalan seiring dengan semangat kerakyatan.

“Kerakyatan dalam Pancasila itu diapit oleh persatuan dan keadilan. Keduanya (persatuan dan keadilan)  itu semacam sayap garuda. Sayang, sekarang kedua sayap itu menjadi sayap-sayap patah,” ujar Yudi saat ditemui rilis.id beberapa waktu silam.

Sebab itulah, Yudi sering menganggap Indonesia bagai cermin kebenaran yang jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap anak dari ibu pertiwi ini kadang kala melihat Indonesia dari pecahan dan kepingan itu. Kebenaran telah terbagi-bagi menjadi puing-puing. Tugas kitalah menyatukan kepingan itu menjadi cermin yang utuh kembali.

Absennya persatuan dan rasa keadilan, tutur Yudi, akan berefek pada kesenjangan sosial yang tentu saja melahirkan kecemburuan sosial. Meski begitu, ia tetap optimis, Pancasila memiliki kekayaan nilai yang arif. Untuk itu, nilai yang baik itu harus mampu dilembagakan dalam institusi ekonomi, politik dan budaya kita.

“Pancasila bukanlah serangkaian kalimat abstrak. Kita harus punya indikator apakah Pancasila itu sudah membumi atau tidak dengan berbagai indeks yang ada. Dan Indonesia punya banyak teladan yang membuktikan bahwa nilai Pancasila itu ada dan mengisi ruang publik kita saat ini,” terang Yudi dengan penuh keyakinan. 

Keteladanan, baginya, adalah kata kunci. Nilai baik dalam Pancasila hanya akan jadi omong kosong bila figur teladan ini tidak ada. Sehingga, mengarusutamakan hal positif dan teladan dari orang-orang berprestasi haruslah dilakukan. Ia mencontohkan Brigadir Muhammad Saleh. Seorang militer, anggota Kepolisian RI. Di tengah kesibukannya sebagai penegak hukum, Saleh juga menggerakkan pendidikan bagi anak-anak desa di Bombana, Sulawesi Tenggara.

Tokoh-tokoh inspiratif semacam Brigadir Muhammad Saleh harus gencar dimunculkan. Ini agar generasi bangsa tidak kehilangan national pride. Kegaduhan politik yang kerap hanya diisi oleh bising-bising memperdebatkan hal-hal remeh-temeh tidak boleh merenggut rasa bangga anak bangsa. Keteladanan harus banyak diciptakan.

Yudi menegaskan, bangsa yang kehilangan rasa bangga pada dirinya biasanya saling tidak percaya satu sama lain. Senang melihat sesamanya susah, dan susah melihat sesamanya senang. Ia lalu berkisah, sering kali keteladanan muncul di luar altar politik. Banyak anak bangsa yang memiliki kepercayaan diri tinggi tak dilirik oleh struktur kekuasaan di sekitarnya.

Pesannya kepada anak muda, menjalankan Pancasila bukanlah sekadar menunaikan kepentingan negara. Jika seorang muda menjalankan, memahami dan melaksanakan Pancasila, maka mereka sedang menumbuhkembangkan prestasinya sendiri. Hasil dari prestasinya itulah yang dinikmati oleh lingkungan dan masyarakat sekitarnya.

Lebih dalam, Yudi menjelaskan, Indonesia, yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dijaga oleh banyak warna dan diperjuangkan oleh banyak warna pula. Ketimbang antarwarna menegasikan satu sama lain, alangkah lebih baik bila semua warna ini saling berpadu menghadirkan pemandangan yang luar biasa. Seperti itulah, tegas Yudi, makna dari slogan Bhinneka Tunggal Ika. Keragaman harus menemukan titik temunya, sehingga bisa berinteraksi di ruang publik. 

Sepeninggal istrinya, Linda Natalia Rahma di penghujung Mei 2015 lalu, semangat Yudi untuk semakin menggelorakan nilai adiluhung Pancasila tak pernah luntur. Justru kian berkobar. Lewat buku-buku dan artikel-artikel yang ditulisnya, ia tak henti sebarkan kearifan dan keagungan bangsa. Tak heran, oleh Presiden Joko Widodo, tugas besar menjadi “Penjaga Pancasila” di UKP-PIP dipikulkan di pundaknya.

Sejenak, setelah berapi-api menjelaskan peran penting Pancasila, Yudi terdiam, lalu berkata, “Ya tentu, ketiadaan beliau (istrinya, red) memberi dampak pada guncangan psikologis yang luar biasa. Karena kalau dulu urusan anak-anak dan lain-lain dikerjakan oleh istri, sekarang saya menanggung peran itu. Peran publik dan domestik,” cerita Yudi menyembunyikan kedukaannya.

Matanya berkaca, tapi bibirnya tetap menyunggingkan senyum. Ia anggap itu sebagai pembelajaran spiritual. Saat ini dirinya mengaku lebih punya ketahanan mental dalam menghadapi ujian dan tekanan. “Karena tekanan yang berat saja sudah saya lewati. Jadi saya sekarang menemukan keriangan dalam bekerja,” ungkapnya lagi.

Ditinggal sang Istri, Yudi mengaku tidak perlu ada ekspektasi lagi dalam berkarier. Ia telah sampai pada satu kesimpulan, pelajaran berharga dari istri yang sangat dicintainya, pada akhirnya semua orang akan mati. Yudi ingin menunjukkan pentingnya keikhlasan dalam mengabdi pada tanah bumi pertiwi.

“Dengan begitu, saya menjalani peran ini jauh lebih tulus, lebih riang. Orang mengkritik atau bahkan nyinyir terhadap UKP-PIP, saya terima. Saya ingin buktikan jika kerja kemanusiaan ini ikhlas tidak mencari apa pun. Ini hanya saung tempat saya bisa melakukan sesuatu untuk negeri ini,” imbuhnya.

Yudi ingin memasuki makna hidup yang lebih hakiki. Pancasila, baginya, bukanlah manusia yang berumur singkat. Satu generasi bisa habis dimakan waktu, tapi Pancasila tetap akan menghiasi generasi selanjutnya.

Sepeninggal istrinya, Yudi ingin mencari esensi hidup yang berujung kematian ini. “Ujungnya dari semua ini, apa yang aku jalani, aku lalui itu sebagai sumbangsih atau suatu karya kemanusiaan. Barangkali dengan itu, saya relatif punya makna dalam hidup. Dan ketika meninggal barangkali ada sesuatu jejak di mana anak-anak bisa melihat bapaknya punya nilai,” tegas Yudi diakhiri gelak tawa.

Penulis Taufiq Saifuddin
Editor Ahmad Fathoni

Tags:

The Guardian of PancasilaUKP-PIPSosokYudi Latif

loading...