Home » Inspirasi » Wawancara

Yayat Biaro: HMI Saatnya Mengubah Peradaban

print this page Jumat, 17/11/2017 | 15:56

Yayat Biaro. ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.

HARI ini, Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) hajatan besar dengan menggelar Musyawarah Nasional ke-10 di Kota Medan, Sumatra Utara dan dibuka langsung Presiden Joko Widodo. Munas sejatinya bukan sebuah perhelatan deret angka tetapi seharusnya menjadi deret ukur KAHMI dalam kiprahnya untuk peradaban bangsa ini.

Gonjang-ganjing korupsi dan sengkarut masalah kemiskinan dan ketidakadilan di negara ini salah satunya menjadi tanggung jawab alumni HMI yang telah menyebar hingga ke seantero Nusantara bahkan berdiaspora di manca negara.

Belakangan muncul kritikan termasuk dari dalam sendiri yang mengkhawatirkan sikap pragmatisme di kalangan masyarakat Indonesia termasuk juga di internal HMI. Tidak sabar dalam berproses. Sementara untuk mengubah peradaban butuh waktu dan kesabaran.

Yayat Biaro, mantan Ketua PB HMI, dan anggota DPR periode 2014-2019 dari Fraksi Golkar termasuk yang gelisah dengan kondisi dan kiprah KAHMI. Untuk mengetahui lebih jauh seperti apa pemikiran dan kegundahannya, rilis.id menggali gagasan Yayat Biaro soal peran KAHMI ke depan, baru-baru ini.

Dari zaman Presiden Soekarno hingga Presiden Jokowi sepertinya kehidupan bangsa begini-begini saja. Berapa lama sebenarnya untuk mengubah sebuah peradaban?

Untuk mengubah Jazirah Arab yang jahiliyah dan kufur hanya butuh waktu 23 tahun. Ya, hanya segitu. Rinciannya, 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Kita punya rezim pemilu dan pilkada seharusnya ini menjadi wadah atau sarana untuk mengubah peradaban. Tetapi apa yang terjadi, kita semakin tidak beradab.

Butuh berapa banyak intelektual, pemikir atau martir?

Ngak perlu banyak-banyak. Bung Karno saja bilang hanya butuh 10 pemuda. Kalau kita berkaca pada Tanah Arab, coba berapa elite di Mekkah yang aktif berdakwah. Hanya sedikit, bisa dihitung dengan jari. Tidak banyak.

Dimulai dari konglomerat wanita, Siti Khadijah, kemudian anak muda cerdas dan berani bernama Ali bin Abi Thalib, berikutnya seorang sahabat terpercaya Abu Bakar as Shiddiq yang juga tokoh Quraisy yang disegani Hamzah, berikutnya pemuka 'preman yang teguh hati' Umar ibnu Khattab. Kemudian ada beberapa martir dari jamaah yang rela ikhlas mengorbankan nyawa untuk sebuah perjuangan ketauhidan.

Artinya, preman sekalipun bisa punya kontribusi untuk bangsa ini, tidak harus seorang intelektual atau seorang ahli politik atau ekonom?

Saya tegaskan lagi. Berapa lama periode Madinah? Tidak lama, hanya sekitar 10 tahun. Siapa saja pemimpinnya? Masih sama dengan periode Mekkah. Hanya ada beberapa tambahan kekuatan dengan bergabungnya orang-orang kaya, ahli ilmu, ahli dagang, ahli logistik dan strategi perang dan jamaah yang bertambah kualitas ideologisnya. 

Tak mencapai seribu orang. Mereka ini yang kemudian disebut sebagai para sahabat, orang-orang yang bersama Rasul Muhammad, melihat langsung rasul dan meninggal dalam keadaan beriman.

Apa dampaknya bagi peradaban dengan keterlibatan sekira 1.000 orang itu?

Sangat luas bahkan menyebar hampir ke seluruh pelosok dunia dan pengaruh perubahannya terasa hingga sekarang. Sudah hampir 1.500 tahun, hampir 15 abad dan kita meyakini akan bertahan dan terjaga dengan baik hingga kiamat datang.

Alumni HMI yang tentu sangat memahami sejarah peradaban Islam kenapa tidak mencontoh dan belajar dari nabi Muhammad dan para sahabatnya dalam membuat sebuah perubahan?

Itu yang menjadi pertanyaan saya sendiri. Kenapa kita tidak belajar dari prestasi luar biasa  yang hingga kini belum ada yang dapat menandingi daya dobrak dan daya jangkau perubahannya itu. 

Coba, berapa banyak pemimpin yang dilahirkan HMI. Berapa lama organisasi dahsyat ini berhimpun, berapa ribu jamaah yang telah dibina, berapa banyak ahli yang telah dilahirkan, berapa banyak saudagar dan orang kaya yang dibesarkannya. Jawabannya tidak terhitung.

Kenapa alumni HMI seperti tidak berdaya?

Ya, hampir 70 tahun tetap tak berdaya. Hanya seperti buih di tepi pantai. Apa yang terjadi? Saya meyakini ada yang salah dan harus ada yang perbaiki secara mendasar. Strategi perjuangan yang diajarkan hanya indah ketika diajarkan di bangku latihan tetapi lumpuh dan tidak kompatibel dalam kehidupan.

Darimana memulai untuk memperbaiki HMI dari sebuah gerakan mahasiswa menjadi sebuah alat perjuangan yang mensejahterakan masyarakat, lebih-lebih bisa mengubah peradaban?

Kawan-kawan tentu punya lebih banyak lagi koleksi pertanyaan dan solusinya. Kita tak perlu mengeluh karena mengeluh sama sekali tak membantu menghasilkan solusi. Kita juga tak mesti menyalahkan orang lain, rezim lain atau generasi lain karena itu hanya mekanisme psikologis untuk menghindar dari tanggung jawab.

Yang tepat, kita segera turun tangan melakukan perbaikan. Mulai dari hal-hal kecil, mulai dari diri sendiri dan mulai saat ini. Ini menurut saya revolusi yang sebenarnya.

Sayidina Ali tak mengeluh saat melaksanakan perannya menggantikan orang yang hanya tidur dalam selimut Nabi. Padahal saat itu nyawanya hampir 99 persen pasti melayang di tangan kaum kafir. Demikia pula ia tak pernah menyombongkan diri dalam peran besarnya sebagai panglima perang Khaibar.

Banyak lagi dan teramat banyak, contoh ahlak pemimpin dan keutamaan para sahabat Nabi yang secara konteks dan urgensinya sangat cocok dengan zaman dan tantangan kita saat ini dan ke depan sebagai alumni HMI.

Penulis Yayat R Cipasang

Tags:

munas ke-10 kahmi hmi kahmi medan yayat biaro dpr golkarwawancara