Home » Inspirasi » Sosok

Wuri Wuryani, Pemusnah Senjata Kimia yang Mendunia

print this page Selasa, 17/10/2017 | 18:06

Wuri Wuryani, mantan Inspektur Analisis Kimia, pernah bekerja di Organization for Prohibition of Chemical Weapons (OPCW). ILUSTRASI: Hafidz Faza

WURI WURYANI, nama itu terdengar sangat meng-Indonesia. Tapi siapa sangka, nama itu pernah lekat dengan organisasi penumpas senjata kimia dunia. Wuri adalah mantan Inspektur Analisis Kimia yang pernah bekerja di Organization for Prohibition of Chemical Weapons (OPCW), Belanda. Dari keuletan dan kelembutannyalah, organisasi itu berhasil menyabet Nobel Perdamaian. 

Ibu tiga anak ini tak pernah merasa hilang identitas keindonesiaannya. Meski lama tinggal di luar negeri, kencintaannya pada Tanah Air ia tuangkan dalam berbagai karya. Hal itu pulalah yang membuatnya menjadi salah satu ikon berprestasi Indonesia oleh Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP). 

“Saya selalu membawa Bendera Merah Putih ke mana pun saya berada. Kebetulan di OPCW itu saya yang paling cantik dan paling smart. Karena satu-satunya dari Indonesia. Meski begitu, beban saya itu berat banget, karena kebanyakan orang di sana tidak bicara soal nama saya, mereka hanya bicara bahwa saya dari Indonesia,” terang Wuri kepada rilis.id saat ditemui beberapa waktu lampau.  

Indonesia lekat dengan Wuri. Tak hanya dari caranya berpakaian, untaian kalimat yang diucapkan dalam bahasa Inggris pun logat Sunda-nya sama sekali tidak hilang. Selama kariernya, Wuri selalu senang bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di mana pun ia menjalankan tugas. Dari 500 anggota OPCW, Wuri adalah satu-satunya orang Indonesia. 

Ikhtiar Wuri tak sekadar bekerja di lembaganya. Ia selalu menyertakan misi untuk meningkatkan citra Indonesia. Sering kali, ia melakukan lobi sana-sini untuk membantu orang Indonesia dalam berbagai hal. Mulai dari mahasiswa hingga para pekerja dan peneliti. Seperti itulah dirinya mengejawantah Pancasila di pentas dunia. 

Kolektor batu-batuan ini telah menjadi citizen world. Ia pernah menghabiskan masa studi S2 dan S3 di Inggris. Wuri sendirian, dengan membawa ketiga anaknya, ia taklukkan negara di Benua Eropa itu. “Bayangkan, saya itu sekolah di luar negeri dengan membawa tiga anak saya. Mereka masih kecil-kecil, yang paling besar SMP, yang paling kecil 3 tahun. Entah mengapa saya dan suami ada problem keluarga. Sebelum ke Inggris, saya dan anak-anak saat itu sangat miskin, sampai-sampai tidak bisa kirim anak saya ke sekolah, SD saja tidak bisa karena tidak tahu uangnya dari mana. Hidup saya dari bantuan saudara-saudara. Beras minta, hidup dari pintu ke pintu, padahal saya sarjana,” kenang Wuri sembari menempatkan tangan di mulutnya. 

Saat menjalani kuliah S2, Wuri belum mampu membawa serta anak-anaknya. Ia lalu menitipkan mereka ke saudara-saudaranya. Pengorbanan yang tiada tara. Ia harus terpisah dari wajah-wajah mungil yang sangat dicintainya. Tak cukup di situ, beasiswa yang diperolehnya pun harus dibagi dua. Separuh buat dirinya, sebagiannya lagi ia kirim ke Indonesia, untuk anak-anaknya makan dan bersekolah. 

Sejenak Wuri menghela napas menahan air mata. Namun, kepedihan itu tak pernah menempatkan tangannya berada di bawah untuk menghidupi dirinya. Di Inggris, ia lalu membagi waktu antara kuliah dan menjadi presenter radio. Perlahan, kehidupan ekonominya menemukan titik terang. 

Setelah memperoleh gelar Master, Wuri mendapat tawaran kontrak permanen dari British Council—lembaga yang memberinya beasiswa—untuk bekerja di sana. Namun, kesempatan emas itu tak ia terima. Dengan cara santun, ia gelengkan kepala. “Karena bukan itu alasan saya datang ke Inggris,” ujarnya tegas.

Tak lama setelah merampungkan S2, Wuri kembali mendapatkan beasiswa ke jenjang S3. Kali ini, ia bisa tersenyum semringah, ketiga buah hatinya ikut bersamanya. 

Begitulah, sembari kuliah S3, Wuri sendirian membesarkan ketiga anaknya. Tanpa suami, ia tetap bisa taklukkan dunia. Pahitnya hidup tak sekali pun membuatnya rapuh.

Bahkan, ketika menghadapi sidang disertasi, para penguji menyampaikan kekaguman pada dirinya. Mereka seolah mengerti penderitaan yang dilaluinya. Wuri teteskan air mata, dan sidang pun selesai tak sampai satu jam. Para Guru Besar itu ternyata menyaksikan dari hari ke hari bagaimana Wuri sebelum ke kampus mengayuh sepeda, membonceng satu anaknya di belakang dan satu lagi di depan. Mungkin bagi dosen Wuri, itu adalah proses belajar sesungguhnya. 

“Aktivitas saya saat itu, jemput anak-anak ke sekolah, setelah itu saya kasih makan, habis itu saya kembali ke laboratorium kampus sampai jam 10 malam. Jadi mereka (para dosen, red) mungkin melihat bagaimana perjuangan saya. Kadang-kadang para dosen itu ngasih baju bekas untuk anak-anak saya, khususnya saat winter, soalnya beli jaket di sana kan mahal,” kenang Wuri. 

Sambil menanti saat wisuda, Wuri nyambi kerja. Datanglah seseorang dari kedutaan, bolak-balik kepadanya. Ia lalu mempertanyakan nasionalisme Wuri. Utusan itu mengingatkan, Wuri dikirim ke Eropa oleh Pemerintah RI untuk sekolah, bukan untuk bekerja. Dengan tegas Wuri menjawab, dirnya akan pulang dan mengabdikan diri untuk Indonesia. 

Ia bisa saja membandel, sebab banyak yang lakukan itu—memilih bekerja dengan gaji besar dan tidak kembali ke Indonesia. Wuri pantang berbuat khianat. Ia tahu betul betapa tidak tenang hidupnya bila memutuskan tidak pulang. Ia tak ingin menjadi second citizen di negeri orang. Harapannya, dengan gelar S3, ia telah punya kekuatan untuk mengabdi pada Tanah Air yang dicintainya. 

“Pulang ke sini (Indonesia, red), saya ditempatkan di Pusat Penelitian Kimia di Serpong. Gajinya masih rendah. Saya kembali bilang ke anak saya yang pertama, jangan harapkan saya bisa menyekolahkan kamu, saya tidak punya cukup uang. Kalau di Inggris kan, pendidikan dan kesehatan gratis. Tapi alhamdulillah, anak-anak saya saat ini bisa lulus S2,” tegas Wuri bangga.

Penulis Taufiq Saifuddin
Editor Ahmad Fathoni

Tags:

Wuri WuryaniSenjata KimiaOPCWPerdamaian DuniaSosok InspiratifKisah Inspiratif

loading...