logo rilis
Wujudkan Making Indonesia 4.0, Menperin Kunker ke Jerman dan Ceko
Kontributor
Eroby JF
30 April 2018, 14:48 WIB
Wujudkan Making Indonesia 4.0, Menperin Kunker ke Jerman dan Ceko
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berbincang dengan Duta Besar Republik Ceko untuk Indonesia Ivan Hotek di Kementerian Perindustrian, Jakarta, 19 April 2018. Dalam pertemuan tersebut, Menperin berharap dapat memperkuat kerjasama khususnya di bidang industri antara Indonesia dengan Republik Ceko. FOTO: kemenperin.go.id

RILIS.ID, Jakarta— Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto melakukan, kunjungan kerja ke Ceko dan Jerman selama lima hari, mulai 30 April sampai 4 Mei 2018 demi mewujudkan Making Indonesia 4.0, dan meningkatkan investasi.

"Jerman ini menjadi negara pertama yang telah membuat roadmap (peta jalan) mengenai implementasi ekonomi digital. Untuk itu, kami ingin berdiskusi dengan mereka, karena sebagai salah satu pionir, agar bisa dapat masukan yang positif," kata Airlangga melalui keterangannya di Jakarta, Senin (30/4/2018).

Airlangga menyampaikan, Pemerintah Indonesia tengah melaksanakan langkah-langkah strategis yang ditetapkan berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0. Upaya ini guna mempercepat terwujudnya aspirasi nasional yang telah ditargetkan karena memanfaatkan peluang di era revolusi industri keempat.

"Dengan Making Indonesia 4.0, salah satu aspirasinya adalah menjadikan Indonesia masuk dalam jajaran 10 besar negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030," tuturnya. Airlangga optimistis, target itu bisa tercapai apabila 10 langkah prioritas nasional dijalankan secara terintegrasi.

Ia memberikan contoh, Indonesia harus mampu membangun industri manufaktur nasional yang berdaya saing global dengan menerapkan standar-standar keberlanjutan. Untuk itu, diperlukan penggunaan teknologi terkini khususnya yang berkonsep pada ramah lingkungan.

"Kami akan mengunjungi Fraunhofer, yaitu lembaga riset yang ada di Jerman. Lembaga riset Jerman ini sedang mengembangkan satu jenis algae yang bisa mengonversi palm oil mill effluent (POME) menjadi gasoline. Itu beberapa riset yang nanti kami lihat," ungkapnya.

Penemuan tersebut dinilai dapat menekan emisi gas buang kendaraan dan mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM). Hal ini sejalan dengan program yang telah diinisiasi oleh Kementerian Perindustrian, yakni low carbon emission vehicle (LCEV) untuk mendorong industri otomotif di Indonesia memproduksi kendaraan ramah lingkungan.

Riset terhadap biofuel ini harus dilakukan, karena Indonesia merupakan salah satu penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Kita juga punya rumput laut. Keduanya sedang dilakukan riset, dan pemerintah siap memberikan insentif," paparnya.

Di samping itu, salah satu dari 10 langkah prioritas nasional di dalam Making Indonesia 4.0, pemerintah berupaya menarik minat investasi asing di Tanah Air. Upaya ini dapat mendorong transfer teknologi ke perusahaan lokal.

"Untuk meningkatkan investasi, Indonesia akan secara aktif melibatkan perusahaan manufaktur global, dengan memilih 100 perusahaan manufaktur teratas dunia sebagai kandidat utama dan menawarkan insentif yang menarik untuk berkolaborasi dengan industri nasional," jelas Menperin.

Dalam kunjungan kerjanya di Ceko, Airlangga didampingi Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) I Gusti Putu Suryawirawan beserta delegasi mengagendakan pertemuan dengan pihak Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Ceko. Selain itu, dijadwalkan pula pertemuan bisnis dengan para pelaku usaha di Ceko.

"Di Jerman, selain ke Fraunhofer, kami juga akan melakukan pertemuan dengan Menteri Perekonomian Jerman dan beberapa pihak perusahaan di sana seperti Siemens. Jadi, kami akan terus dorong beberapa perusahaan Jerman untuk investasi baru atau meningkatkan kapasitas produksinya bagi yang sudah ada di Indonesia," pungkasnya.

Ceko merupakan mitra dagang Indonesia terbesar keempat di kawasan Eropa Tengah dan Timur setelah Rusia, Ukraina dan Polandia. Selama tahun 2010-2015, total nilai investasi Ceko di Indonesia mencapai US$34,35 juta. Sedangkan, periode 2016-2017, investasi Ceko di sektor manufaktur mencapai US$499,5 ribu untuk tiga proyek yang meliputi industri logam dasar, barang logam, serta mesin dan elektronik.

Sementara itu, sepanjang 2010-2015, nilai keseluruhan investasi Jerman di Indonesia mencapai US$552 juta dengan 547 proyek yang mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 38.382 orang. Sedangkan, pada 2017, nilai investasi Jerman di Indonesia untuk sektor manufaktur sebesar US$79,3 juta, dengan total 108 proyek, naik dibanding capaian investasi tahun sebelumnya sebesar US$58,5 juta, dengan 59 proyek. Proyek investasi Jerman tersebut didominasi oleh sektor industri baja dan mesin, kimia dan farmasi, serta otomotif.

Sumber: ANTARA


500
komentar (0)