Arif Budiman

Pemerhati sosial, penikmat kopi, bekerja sebagai pegiat kepemiluan.

Waspada Milenial Avonturir

Senin, 6/11/2017 | 07:29

TERIKAT adalah kata yang paling dihindari para avonturir. Menetap merupakan aib. Kenikmatan ada dalam perpindahan. Kepuasan didapat dari gerak pergantian. Pengorbanan sama dengan kebodohan. Pengabdian tak lain dari doktrin yang dikampanyekan para pengkhotbah naif dan munafik.

Loyalitas kaum avonturir tak pernah hadir secara sukarela. Semua ada harganya. Tiada ruang bagi motif kebaikan kolektif. Segalanya individual semata. Jikapun muncul aksi bersama, bukan kesadaran yang menggerakkannya, melainkan sebab imbalan instan saja. Pragmatis sifatnya. Karenanya, daya tahannya pun singkat dan hanya sementara. 

Avonturisme dalam politik berbahaya bagi kehidupan bangsa dan negara. Sikap mental petualang tak mengenal kesetiaan, apalagi pengorbanan. Kepentingan bangsa dan negara beserta warganya takkan pernah menjadi tujuan. Tak lebih dari sekadar alat. Perkakas yang digunakan untuk mencapai visi maksimalisasi keuntungan pribadi.

Jika oportunisme muncul dari ruang politik tunaideologi, avonturisme timbul dari lingkungan yang hampa organisasi. Mereka yang bergerak dengan hanya mengandalkan superioritas individualnya adalah pihak yang paling mungkin tergoda oleh rayuan avonturisme. Berpetualang lebih mudah dilakukan oleh perorangan dibanding kelembagaan. 

Generasi milenial adalah kelompok penerus yang sangat mandiri. Dunia yang mereka tempati saat ini menyediakan hampir segala yang dibutuhkan. Mereka mendapatkan informasi dari berbagai sumber, memilah dan mengolahnya sesuai selera, dan menelan mana saja yang disuka. Mereka tak butuh otoritas. Mereka sendiri adalah otoritas. Jika diri mereka sendiri bisa menjadi otoritas, lalu untuk apa bertindak bodoh menundukkan diri pada otoritas lain di luar dirinya, baik individu maupun organisasi. Kepercayaan terhadap diri sendiri yang sangat tinggi dan kemandirian yang terbangun di atas kemajuan teknologi inilah yang secara pelan tapi pasti menjauhkan organisasi dari daftar kebutuhan sosial kaum muda masa kini.

Individualitas berkelindan dengan modernitas. Semakin modern peradaban, semakin individualis manusianya. Kemajuan teknologi informasi menyempurnakan kenyataan ini. Ia mengokohkan individu dengan individualitasnya. Pada saat yang sama, modernitas menyatu makna dengan individualitas.

Dalam situasi politik yang chaotic, manuver-manuver generasi milenial yang percaya diri dan mandiri dengan individualitasnya ini akan bergerak secara acak. Sesuai motifnya masing-masing. Tak berpola, masing-masing mengejar tujuannya. Tanpa teori, tiada pula ideologi. Gerakan mereka tak ubahnya para petualang. Berpindah posisi sesuka hati. Mengubah sikap setiap saat. Jika tak segera dibenahi, kaum muda ini akan terjerumus pada avonturisme.

Bangsa yang disesaki kaum avonturir tak punya masa depan. Hampa ideologi, alergi berorganisasi. Padahal, konsistensi visi kebangsaan hanya dimungkinkan dengan ideologi. Kepaduan gerak warga lebih terjamin melalui organisasi. Ideologi dan organisasi menjadi penawar ampuh bagi wabah pragmatisme-oportunistik. Sikap mental merusak yang menarik bangsa ini ke jurang kehancuran dan kegelapan barbarik. Jika tak segera ditangani, generasi milenial ini—dengan kemandirian dan individualitasnya—akan dikenal sebagai generasi avonturir. Haqqul yakin, sebagian besar dari kita tidak akan rela.